Soal Klise

Eko Endarmoko (Kompas, 28 Apr 2018)

Seorang kawan pada satu hari bertanya, kenapa kita mengeja memprotes, bukan memrotes? Juga mengapa mempertinggi, bukan memertinggi? Ia berargumen, bila huruf /p/ di kedua bentuk setelah mendapat awalan /me-/ itu tidak melesap atau luluh menjadi /m/, bukankah itu berarti kaidah kpst dilaksanakan tidak secara konsisten? Ini adalah tanyaan yang sangat logis, dan sebenarnya cukup sederhana—sekalipun jawabannya saya kira tidak bisa dibilang sederhana.

Baca lebih lanjut

Jeli

L. Wilardjo (Kompas, 21 Apr 2018)

Samsudin Berlian, yang dijuluki ”penggulat makna kata” oleh editor rubrik Bahasa, di Kompas terbitan Sabtu, 3 Maret 2018, agaknya terusik oleh frasa ”Agar Jaga Jarak Aman” yang dipasang di sepanjang jalan tol oleh polisi lalu lintas (atau Dinas Perhubungan?).

Baca lebih lanjut

Pascakebenaran

Samsudin Berlian (Kompas, 7 Apr 2018)

Ketika nyawa-Nya sedang ditimbang di ujung tanduk, antara bebas dan mati, Sang Guru ditanya sang hakim, “Apakah kebenaran itu?” Sang Guru diam saja. Mungkin Dia tahu, apa pun jawaban yang diberikan tidaklah berarti sebab keputusan, yakni keputusan politik, sudah selesai dijatuhkan sebelum pengadilan dimulai. Mungkin Sang Guru mafhum, di mata sang hakim dan massa penuduhnya, yang penting bukanlah kebenaran, melainkan pascakebenaran.

Baca lebih lanjut

Anjing Tanah Anjing Bentala

André Möller (Kompas, 24 Mar 2018)

Beberapa waktu yang lalu sebagian orang Indonesia kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Media, rumah makan, dan pusat perbelanjaan pun tentu saja ikut heboh guna ikut meraih untung, seperti pada perayaan-perayaan yang lain. Mengingat perayaan Imlek secara terbuka baru diperbolehkan kembali pada waktu Gus Dur menjabat sebagai presiden, dan baru dikukuhkan sebagai hari libur nasional di bawah kepemimpinan Megawati, maka kenyataan bahwa Imlek semakin hadir di Indonesia adalah hal yang baik.

Baca lebih lanjut

Agar Jaga Jarak Aman

Samsudin Berlian (Kompas, 3 Mar 2018)

Pesastra memperkaya dan memperluas kata dan budaya. Pefilsafat memperdalam dan memperuncing ungkapan dan makna. Pebahasa memolakan dan mempertajam sistem dan tata. Imajinasi dan logika, tradisi dan sistemisasi, semua berperan besar dalam evolusi bahasa yang hidup. Semakin aktif dan kreatif para pebahasa cerdas berhikmat, semakin efektif dan memesona bahasa itu menjadi. Tapi, karya berjuta cerdik cendekia dan bijak bestari tiadalah arti dibandingkan dengan sebaris sabda birokrat pada rakyat semesta.

Baca lebih lanjut

Bumi Datar dan Dunia Persilatan

Eko Endarmoko (Kompas, 24 Feb 2018)

Kredit Foto: Kompas/Wawan H. Prabowo

Perbalahan yang sudah lama selesai dan tenggelam itu tempo hari bangkit lagi. Itulah perbantahan soal ”bumi datar” versus ”bumi bulat”. Bukannya mempersoalkan kembali pokok basi itu, saya tertarik pada sesuatu yang lebih menggelitik ini. Bila bumi dan dunia bersinonim, mengapa jarang sekali atau malah barangkali belum pernah kita temukan konstruksi ”dunia datar” atau ”dunia bulat”.

Baca lebih lanjut

Istri, Permaisuri, dll

L. Wilardjo* (Kompas, 17 Feb 2018)

Kredit Foto: Kompas/Aloysius B. Kurniawan

Awal Februari ini di media ramai orang membicarakan revisi kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ini wajar sebab ada pasal-pasal dalam RKUHP itu yang dirasa penting dan masih kontroversial. Pasal-pasal kontroversial yang menghadap-hadapkan pihak yang pro dengan pihak yang kontra itu ialah yang berkenaan dengan penghinaan kepada presiden dan—terlebih-lebih lagi—yang mengenai perzinaan.

Baca lebih lanjut

Hanzi dan Ikonisitas

Yanwardi* (Kompas, 10 Feb 2018)

Belum lama ini saya bertemu dengan Hermina Sutami, sinolog Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Saya mengajaknya berbincang-bincang ihwal ilmu bahasa. Sesuai dengan keahliannya, ia menyatakan akan menerapkan hanzi atau karakter Han secara praktis. Intinya, tanpa belajar bahasa Mandarin, kita bisa memahami makna suatu hanzi. Bagaimana bisa demikian? Saya terperangah.

Baca lebih lanjut

Becak, Becak

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Feb 2018)

Kredit Foto: Nino Citra Anugrahanto untuk Kompas

Ketika masih ditarik kuda, ia dalam bahasa Hokkien disebut bechia. Be berarti ‘kuda’. Chia ‘kereta’. Tapi, mengapa ketika kuda penarik sudah berganti jadi manusia pengayuh, ia tetap disebut becak? Mungkin karena telah terjadi dua hal. Pertama, makna asali becak sudah dilupakan; orang tidak lagi ingat bahwa be- di situ berarti ‘kuda’. Jadi, pengayuh, penumpang, dan pengamat becak tidak merasa heran, apalagi terganggu, tidak melihat kuda di sekitar mereka. Kedua, telah terjadi transposisi sempurna. Kereta yang dikayuh manusia mengambil alih fungsi kereta yang ditarik kuda secara lengkap, sementara keadaan-keadaan lain tidak berubah.

Baca lebih lanjut