Ingat Pesan Ibu

André Möller (KOMPAS, 12 Jan 2021)

Sudah pasti bahwa setiap usaha ikhlas untuk mencegah penyebaran virus korona merupakan usaha terhormat. Dunia rupanya tidak pernah segelap ini sejak wabah flu Spanyol merajalela sekitar seratus tahun yang lalu, dan kita tentu perlu memerangi ancaman baru ini bersama-sama. Meski begitu, ada cara menyampaikan informasi yang bisa dinilai baik, dan ada kebalikannya.

Sumber Ilustrasi: SMP Negeri 1 Plered

Baca lebih lanjut

Satu “S” atau Dua “S”?

Pamusuk Eneste (Majalah Tempo, 9 Jan 2021)

Swiss terkenal bukan hanya karena jam tangan Rolex, Longines, dan Mido. Juga bukan karena banyak bank beken di sana. Swiss juga tersohor bukan karena petenis Roger Federer, peraih 19 gelar Grand Slam. Bukan pula karena di sana terdapat sejumlah badan dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan Kesehatan Dunia (WHO), Badan Buruh Internasional (ILO), badan PBB untuk pengungsi (UNHCR), badan sepak bola dunia (FIFA), dan Dewan Gereja Dunia.

Sumber Ilustrasi: Unsplash https://unsplash.com/photos/6M0iEJChHhk

Baca lebih lanjut

Berjarak Sekitar Dua Jam

Pamusuk Eneste (KOMPAS, 5 Jan 2021)

Tanpa sadar kita kadang-kadang memakai kalimat yang seolah-olah benar, tetapi sesungguhnya keliru atau salah. Oleh karena itu, kalimat itu terasa janggal. Perhatikan kalimat berikut. (1) ”Wah, menarik ya, ada tempat menginap di Bogor rasa Bali dengan jarak 1,5 jam saja dari Jakarta”.

Sumber Ilustrasi: Unsplash https://unsplash.com/photos/bMP6dEh8G0A

Baca lebih lanjut

Pungut

Bandung Mawardi (Majalah Tempo, 19 Des 2020)

Juliari Peter Batubara menimbulkan kesibukan bagi pembaca koran. Kebiadaban demi duit itu menambah masalah. Kita mulai bermasalah dalam bahasa. Pemberitaan mengenai kasus suap pengadaan bantuan sosial mengajak pembaca rajin membuka kamus-kamus. Di halaman koran, kata-kata mungkin gampang dimengerti, tetapi memicu keraguan. Kita menanggung keraguan bertema sinonim. Kesibukan membaca berita dilanjutkan dengan membuka kamus-kamus atau buku pelajaran bahasa Indonesia.

Ilustrasi: Kompas

Baca lebih lanjut

Gelontor, Kucur, ”Netes”

Kasijanto Sastrodinomo (Kompas, 15 Des 2020)

Berapakah dana atau uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangkal wabah yang berkecamuk? Pada awal pandemi diberitakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp405 triliun lebih (Kompas.com, 31-3-2020). Selain dinyatakan dengan angka, isyarat tentang seberapa besar jumlah dana itu diperkuat kata menggelontorkan. Tak masalah jika kata itu tergolong kasar (lihat KBBI) karena sangat efektif untuk membahasakan hal-hal penting, dan mungkin rumit, bagi khalayak luas.

Baca lebih lanjut

Belantara Makna

Eko Endarmoko (Kompas, 8 Des 2020)

Menghidu rupanya tergolong kata yang agak asing bagi sebagian penutur bahasa Indonesia. Seorang teman menemukannya dalam satu klausa di sebuah tulisan, ”menghidu aroma kopi”. Dia mengira itu tipo alias salah tik sebab ungkapan yang lebih tepat menurutnya adalah ”menghirup kopi”, analog dari ”menghirup udara segar”. Benar begitu?

Baca lebih lanjut

Kotak Kosong

Samsudin Adlawi (Majalah Tempo, 5 Des 2020)

Drama selalu mewarnai hajatan pesta demokrasi. Pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember 2020 juga tidak luput dari drama. Bahkan, kali ini dramanya bakal lebih seru.

Keseruan itu disebabkan oleh makin banyaknya calon tunggal dibanding beberapa pilkada sebelumnya. Setidaknya ada 28 calon tunggal dalam pilkada serentak 2020. Mereka tersebar di 23 kabupaten dan 5 kota. Total ada 270 daerah yang menggelar pilkada. Perinciannya: 9 provinsi akan memilih gubernur-wakil gubernur, 224 kabupaten memilih bupati-wakil bupati, dan 37 kota memilih wali kota-wakil wali kota.

Baca lebih lanjut

Pelakor dan Misogini

Samsudin Berlian (KOMPAS, 30 Nov 2020)

Pelakor atau perebut laki orang berada di barisan istilah dan ungkapan yang—secara denotatif dan konotatif—menghinakan perempuan berkenaan dengan kedudukannya di dalam masyarakat bervisi laki-laki. Barisan misoginistik itu termasuk (tapi, tentu saja tidak terbatas pada) perusak rumah tangga, penggoda, janda kembang, gatal, penjual diri, dan ibu tiri.

Sumber Ilustrasi: Tribunnews

Baca lebih lanjut

Masker dan Kluster

Ahmad Sahidah (Majalah Tempo, 28 Nov 2020)

Salah satu alat pelindung diri yang sangat populer adalah masker. Kita sejatinya mengenal penutup mulut dan hidung ini sebelum virus korona merebak. Biasanya masker digunakan oleh dokter gigi yang sedang memeriksa karang dan kerak pasien atau polisi yang menjaga jalan persimpangan untuk mengatur kelancaran lalu lintas. Maklum, jalan kita tidak sehat karena polusi udara kadang melebihi ambang batas aman.

Sumber Ilustrasi: Dreamstime

Baca lebih lanjut