BAPPENAS atau Bappenas?

Agung Y. Achmad*, Majalah Tempo, 26 Jan 2015

Ilustrasi: Tanah Air News

Pernahkah Anda, ketika melewati Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, memperhatikan bangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional? Pada wajah depan bangunan tersebut tertulis “Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, sementara pada bagian atas lantai dasar terpampang kata “BAPPENAS”—ukuran huruf B lebih besar ketimbang huruf-huruf di belakangnya—yang merupakan singkatan nama institusi tersebut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Anak Kalimat

Majalah Tempo, 19 Des 2011. Agung Yuswanto, Wartawan

“Setelah diberhentikan dari posisi sebagai Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, posisi Muhammad Nazaruddin sebagai Bendahara Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR kini juga ikut terancam.” (Suara Merdeka, 26 Mei 2011)

Membaca sekilas kalimat di atas, kita tidak akan mendapatkan suatu kesalahan. Bagi banyak orang, kalimat tersebut terasa mengalir dan memiliki pesan yang jelas. Rangkaian kata dengan struktur kalimat seperti itu sering kita jumpai pada banyak artikel di surat kabar (harian, mingguan, bulanan), novel, dokumen-dokumen resmi, bahkan buku-buku ilmiah.

Namun, cobalah Anda membaca ulang dan lebih teliti mencermati petikan kalimat majemuk tersebut. Ada yang keliru di sana. Secara gramatikal, pola kalimat semacam itu dikenal sebagai kalimat majemuk bertingkat anak kalimat pengganti subyek. Dalam teks tersebut, anak kalimat berada di depan atau mendahului subyek. Karena itu, semestinya subyek (Muhammad Nazaruddin) yang hendak diperluas atau diterangkan diletakkan persis di belakang tanda baca koma di akhir anak kalimat.

Baca lebih lanjut

Lugas, Baku, dan Indah

Majalah Tempo, 9 Mei 2011. Agung Y. Achmad: Wartawan

ANDAI saja semua karya tulis yang dipublikasikan (surat kabar, buku, novel, pamflet, teks pidato presiden, dan lain-lain) selalu berkarakter lugas, baku, dan indah. Maka, kapasitas berbahasa masyarakat kita akan terus terasah, selain kian pintar. Betapa tidak, karena setiap naskah akan menjadi media bacaan menarik, informatif, dan inspiratif.

Kelugasan sebuah tulisan mencerminkan kesederhanaan, kejujuran, dan ketulusan dalam berbagi informasi-pengetahuan kepada siapa saja. Berbahasa baku berarti melembagakan kesepakatan bersama: bahasa nasional. Dan, tulisan indah menggambarkan minat berkesenian melalui teks. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, lugas berarti: serba bersahaja; baku: tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

Baca lebih lanjut

Nyanyian Koruptor

Majalah Tempo, 11 Apr 2011. Agung Y. Achmad: Wartawan.

BANYAK elite (penguasa, politikus, dan pengusaha) di negeri ini yang tersandung kasus korupsi lantaran nyanyian orang-orang terdekat mereka. Artinya, tanpa ada nyanyian itu, banyak elite dianggap tak pernah melakukan tindak penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri, kelompok, dan golongan mereka. Lihatlah, betapa banyak penyelidikan kasus korupsi di Indonesia masih bergantung pada nyanyian orang dekat tertuduh. Sebaliknya, bagi banyak koruptor, nyanyian hanyalah soal nasib apes.

Kata nyanyian tentu saja bermakna kiasan-dan politis-tentang pembocoran data awal korupsi oleh seseorang kepada publik atau aparat penegak hukum. Belantara korupsi di negeri ini memang berbalutkan banyak kata atau istilah kiasan. Atau, banyak permainan kata di sana.

Baca lebih lanjut

Allah

Majalah Tempo, 7 Feb 2011. Agung Y. Achmad: Wartawan.

DALAM sebuah diskusi serial Lautan Wahyu bertajuk Ummah di Goethe, Desember lalu, seorang peserta mengemukakan pandangannya tentang sebab-sebab konflik antarumat beragama, khususnya antara umat muslim dan kristiani (Katolik dan Protestan) di negeri ini. Salah satu argumennya, konflik terjadi akibat “perebutan” istilah Allah. Agama-agama tersebut memang memiliki nomenklatur Tuhan yang sama: Allah.

Dalam Islam, Allah adalah nama diri Tuhan. Allah dan kata yang merujuk pada makna Tuhan serta berbagai sifat-Nya disebut ribuan kali dalam Al-Quran, seperti al-Rabb, al-Rahman, dan al-Rahim. Ditulis dalam bahasa Arab, Allah berasal dari akar kata alif, lam, ha.

Baca lebih lanjut

Sumpah

Majalah Tempo, 20 Des 2010. Agung Y. Achmad: Wartawan.

SELALU ada sumpah di sepanjang peradaban manusia. Sejarah mencatat sumpah palapa Gajah Mada, atau sumpah Napoleon Bonaparte, sekadar menyebut beberapa, yang mengawali cita-cita besar dalam membangun suatu negeri. Sumpah memang sering berkaitan dengan nilai-nilai kepahlawanan, seperti ditulis di banyak legenda, semisal kisah Bisma dalam dunia pewayangan yang berikrar tidak menikah seumur hidup. Ucapan Mbah Maridjan (almarhum), “Nek aku mudhun diguyu pitik-jika saya turun akan ditertawai ayam,” (Suara Merdeka, 28 Oktober 2010) bisa dikatakan sebagai refleksi sumpah seorang juru kunci.

Kisah percintaan anak manusia sering menghasilkan banyak sumpah, contohnya: “Sumpah, kau cinta matiku.” Ijab kabul pada dasarnya juga merupakan sebuah persumpahan. Kata sumpah sering digunakan untuk menguji suatu kesungguhan, seperti: “Sumpeh, lo?” Dalam situasi ketika ada dua pihak yang sama-sama merasa benar atas suatu persoalan, sebagian masyarakat kita sesekali menempuh cara ekstrem, yakni sumpah pocong, atau muhabalah.

Baca lebih lanjut

Bangsa yang (Terus) Membayangkan

Majalah Tempo, 18 Okt 2010. Agung Y. Achmad, Wartawan.

SEBAGAI bangsa, Indonesia masih berusia muda, terutama bila dibanding negara-negara besar di dunia dalam merumuskan, membangun, dan menjalani kontrak sosial secara kolektif, hal yang sering disebut sebagai negara bangsa (nation state), pada beberapa abad silam. Hingga awal abad ke-20, Indonesia-negeri kepulauan yang panjangnya setara dengan jarak London dan Teheran dengan potensi aneka ragam budaya, ras, suku, dan agama di dalamnya-masih berupa negara bangsa yang dibayangkan.

Keragaman tersebut, ternyata, bukan faktor penyebab penting, apalagi satu-satunya, kenapa negara ini pernah terbelah-belah dan lemah. Pendidikan modern dan pengalaman sebagai negeri terjajah selama tiga abadlah yang, antara lain, mengantarkan kaum terpelajar-aktivis organisasi sipil memasuki kesadaran baru untuk “menjadi Indonesia “-meminjam istilah Erich Fromm.

Baca lebih lanjut

Katakan: Kamu!

Majalah Tempo, 27 Sep 2010. Agung Y. Achmad: Wartawan.

Anda, sebagaimana saya dan banyak orang di sekitar kita, sering bertutur, mendengar, atau disapa orang dengan ucapan semisal: Hai, bagaimana kabarnya?; Bang, minumnya apa?; Mas, boleh saya minta alamat e mail nya; Ibu pendapatannya dari mana?; Aslinya Non dari mana?

Ucapan ucapan tersebut hanyalah sedikit bukti tentang kesungkanan kita menggunakan kosakata “kamu” atau “Anda” (“antikamu”) pada saat bertutur atau menulis. Ada ambiguitas di sana. Di satu pihak penghilangan kata “kamu” merupakan upaya penghalusan, di lain pihak hal itu menjelaskan dominasi “aku”. Struktur kalimat pun menjadi kacau akibat kekeliruan dalam menempatkan kata ganti (dan kata ganti milik) orang kedua tunggal.

Baca lebih lanjut

Kosakata Arab dalam Bahasa Indonesia

Majalah Tempo, 9 Agu 2010. Agung Y. Achmad: Wartawan.

KEHADIRAN para saudagar Arab di bumi Nusantara, yang diperkirakan terjadi sejak abad pertama Masehi, telah meninggalkan jutaan kosakata. Kata-kata Arab ini di kemudian hari menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Sejarah panjang kontak dagang dan akulturasi antara para saudagar Arab dan masyarakat Melayu di bumi Nusantaralah yang membentuk kenyataan itu.

Asimilasi budaya selalu mengandaikan intensitas peristiwa linguistik. Dari sana, lahirlah kosakata, istilah, dan nomenklatur baru hingga akhirnya jutaan kosakata Arab berhasil memperkaya bahasa Melayu. Penetrasi damai kultur Arab, terutama melalui perkawinan di bumi Nusantara, merupakan penjelasan tak terpisahkan tentang bagaimana proses pengayaan nomenklatur Arab terhadap bahasa Melayu itu berlangsung secara mulus.

Baca lebih lanjut

Jangan Remehkan Titik Koma

Majalah Tempo, 7 Juni 2010. Agung Y. Achmad: Wartawan.

“JANGAN remehkan titik dan koma,” demikian ucap seorang laki-laki berusia 74 tahun-pada saat kolom ini saya tulis-bernada tinggi sembari mencoret-coretkan pena pada sebuah lembaran surat resmi yang disodorkan sekretarisnya. Di usia senja, ia masih petah. Diksi yang ia ucapkan atau dia tuliskan sering mengagetkan orang. Kata “peradaban”, misalnya, bisa dibilang ucapan khas tokoh berpenampilan sederhana ini. Lantaran kapasitas dan tradisi linguistiknya yang bagus, ia bisa melahirkan tulisan kritik pedas menjadi bacaan yang lugas. Ia pengguna bahasa Indonesia yang teliti, bahkan ketika ia menulis sebuah artikel dengan menggunakan media telepon seluler dalam kondisi badan lemah di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit. “Membangun peradaban itu dimulai dari titik dan koma,” katanya melanjutkan ucapannya.

Baca lebih lanjut