Partai

Majalah Tempo, 3 Okt 2011. Agus R. Sarjono, Sastrawan, Pemimpin Redaksi Jurnal Kritik

Gambar: begotsantoso.com

Partai yang selalu besar jumlah anggotanya dalam semua cerita silat (cersil) Cina, khususnya peranakan Indonesia, adalah Partai Pengemis alias Kay Pang. Partai terbesar ini biasanya ditandai oleh pakaian mereka yang tambalan, dan “Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing”, ilmu silat tertinggi khusus buat ketua partainya. Kwee Cheng, tokoh utama Pendekar Rajawali Sakti karya Chin Yung, adalah murid ketua Partai Pengemis.

Dalam KBBI, kata partai memiliki banyak pengertian, yakni:

1 perkumpulan (segolongan orang) yang seasas, sehaluan, dan setujuan (terutama di bidang politik); 2 penggolongan pemain dalam bulu tangkis dsb: — ganda; — tunggal; 3 kumpulan barang dagangan yg tidak tentu banyaknya: kita boleh membeli – besar atau – kecil.

Kay Pang termasuk partai dalam pengertian pertama, meski pada dasarnya bukan partai politik.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kesatuan

Majalah Tempo, 11 Jul 2011. Agus R. Sarjono, Penyair, Pemimpin Redaksi Jurnal Kritik

“Wahai pemuda Indonesia, jika Tunku Abdul Rahman bertanya kepadamu, ‘Berapa jumlah pemuda Indonesia?’, jawablah: ‘Satu!’” Demikian gelegar pidato Bung Karno saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia. Jawaban “satu!” yang diberikan Bung Karno tentu bukan karena beliau malas menghitung berapa persisnya jumlah pemuda Indonesia saat itu. Juga bukan berarti Bung Karno kalah soal berhitung dibanding Rhoma Irama hanya karena Bang Haji melantunkan “Seratus tiga puluh lima juta/Penduduk Indonesia….”

“Satu!” adalah jawaban kuat Bung Karno untuk menekankan karakter pemuda Indonesia yang tak mudah tercerai-berai.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jawaban Bung Karno tersebut sepadan dengan “satu bahasa”, yakni satu anggapan (pikiran, pandangan, dsb); sedangkan kata “satu” dalam KBBI adalah:

1 bilangan yg dilambangkan dng angka 1 (Arab) atau I (Romawi); 2 nama bagi lambang bilangan asli 1 (angka Arab) atau I (angka Romawi); 3 urutan pertama sebelum ke-2; 4 bilangan asli terkecil sesudah 0.

Baca lebih lanjut

Bahasa Yatim Piatu

Majalah Tempo, 6 Juni 2011. Agus R. Sarjono, Sastrawan, Pemimpin Redaksi Jurnal Kritik

Saat menerjemahkan karya-karya Georg Trakl, penyair superkelam dalam khazanah perpuisian Jerman, Berthold Damshäuser dan saya kerap bersitegang. Pasalnya adalah memilih kata dan ungkapan Indonesia yang tepat bagi keindahan, kegilaan, dan kekelaman Trakl. Jika dua orang muslim bersitegang tentang sesuatu, keduanya dianjurkan untuk kembali ke sumber: Quran dan Hadis. Kami tidak kembali ke Quran dan Hadis. Tentu bukan karena saya muslim dan Berthold penganut Katolik, melainkan karena yang kami perdebatkan adalah kata dalam bahasa Indonesia. Jadi, kami berdua pun kembali ke sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hasilnya? Perdebatan terus berlanjut. Kamus tak bisa menghasilkan kata putus.

Baca lebih lanjut

Sulitnya Bahasa Indonesia

Majalah Tempo, 24 Mei 2010. Agus R. Sarjono: Penyair.

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Untuk mengenal situasi mutakhir di Indonesia, Berthold Damshauser, dosen kawakan bahasa Indonesia di Universitas Bonn, membagikan kliping teks wawancara tokoh terkemuka Indonesia. Ia tercengang melihat nyaris tak satu pun mahasiswanya mampu memahami teks itu.

Baca lebih lanjut

Petjoek

Majalah Tempo 25 Jan 2010. Agus R. Sarjono, Penyair.

Bahasa Indonesia pada dasarnya adalah bahasa yang kaku, agak formalistik, dan kurang santai. Pada era Orde Baru, bahasa Indonesia yang tak santai ini makin gerah karena dibebani feodalisme yang membedakan penggunaan bahasa bagi mantan menteri dengan bagi bekas tukang parkir, mantan pejabat dengan bekas penjahat. Srimulat selalu menggunakan campuran bahasa daerah dalam banyolan mereka untuk menciptakan suasana santai. Kalau ingin memancing tawa, mereka menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena di tangan mereka, formalitas bahasa Indonesia jadi benar-benar menggelikan.

Baca lebih lanjut