Me(nye)mbunyikan Sumpah

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 26 Okt 2014

Dua data historis tercatat dalam perkembangan bahasa Indonesia (BI) ketika diterima sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928. Pertama, perumusan naskah persiapan Sumpah Pemuda yang semula berbunyi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Melayu” (M. Yamin) diubah menjadi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” (M. Tabrani). Kedua, prasaran Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Guru di Den Haag (1916) yang “meramalkan” bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda.

Baca lebih lanjut

Membaca (dan) Teks

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 19 Okt 2014

Teks secara umum dimaknai sebagai tulisan, hasil (dari proses) menulis. Teks dapat berisi apa saja: tentang sesuatu, baik yang ada (berwujud, konkret) maupun yang tidak ada (tak berwujud, abstrak). Teks dapat berupa penggambaran, penceritaan, penjelasan, perintah, dan argumen(tasi) penulis terhadap sesuatu itu.

Baca lebih lanjut

Sembilan Kasus Salah Nalar (Bagian 1)

Agus Sri Danardana*, Riau Pos, 7 Sep 2014

Berbahasa dan bernalar (berlogika) adalah dua hal yang dapat dibedakan. Tidak semua orang yang mahir berbahasa menampakkan logikanya dalam bahasa yang digunakan. Padahal, konon, bahasa berpotensi sebagai pembangun logika.

Bernalar adalah berpikir tentang sesuatu, misalnya sebuah kenyataan, dengan berhati-hati dan teliti kemudian disusul dengan pemberian penilaian dan alasan (Purbo-Hadiwidjoyo, 1993:161). Dalam sebuah tulisan, misalnya, nalar penulis terlihat pada cara mengembangkan gagasan dalam sebuah paragraf. Nalar merupakan jiwa atau ruh paragraf, sedangkan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf (beserta dengan ciri pola ataupun fungsi sistematikanya) hanyalah badan penampung jiwa itu. “Mens sana in corpore sano ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula’,” kata pepatah.

Baca lebih lanjut

Neokolonialisme

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 31 Agu 2014

Apa yang terjadi sekarang ini sesungguhnya hanyalah pengulangan kejadian di masa lalu dalam bentuk lain. Jika dulu ada modernisasi, sekarang ada globalisasi. Keduanya tak pelak merupakan gerakan negara-negara maju (terutama Eropa dan Amerika) yang dilakukan bersama-sama secara masif untuk mengampanyekan paham imperialisme dan kolonialisme yang dianutnya. Rasanya masih segar di ingatan bahwa pada dekade 60-an dulu, bangsa Indonesia pernah dan telah terhegemoni oleh proyek besar yang bernama modernisasi. Proyek besar yang konon mengedepankan paradigama pembangunan sebagai perspektif yang tunggal arah (unilinear) itu, dalam praktiknya, ternyata berkembang dalam bentuk westernisasi.

Baca lebih lanjut

Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Baca lebih lanjut

Kembali ke Fitri

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 3 Agu 2014

Idul Fitri (sering) dimaknai kembali ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir, dalam keadaan suci. Mungkin karena itulah kehadirannya senantiasa disambut dengan penuh antusias oleh seluruh umat Islam. Idul Fitri dianggap sebagai hari kemenangan melawan segala hawa nafsu yang membuat manusia dalam keadaan penuh dosa.

Menurut Quraish Shihab, ada tiga macam fitrah yang harus direngkuh manusia: (1) fitrah kebenaran, dalam bentuk ilmu; (2) fitrah kebaikan, dalam bentuk etika; dan (3) fitrah keindahan, dalam bentuk seni. Perpaduan antara ilmu, etika, dan seni itulah yang membuat hidup manusia menjadi tertib, rukun, dan damai. Jika diterapkan pada penggunaan bahasa, dengan demikian, kembali ke fitrah dapat diartikan sebagai berbahasa secara benar (sesuai dengan norma/kaidah), baik (sesuai dengan situasi pemakaiannya), dan kreatif.

Baca lebih lanjut

Main (di) Stadion

Lampung Post, 28 Mar 2012. Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Riau

“Kena batunya,” suara lirih Atan membuyarkan konsentrasi penumpang lain yang sedang berjuang agar tidak terantuk karena ulah sopir yang harus selalu menggoyang kendaraannya untuk menghindari tebaran lubang di hampir sepanjang jalan. Mereka terhenyak penuh tanya, apa gerangan yang (akan) terjadi.

“Maaf, Bang. Maaf, Kak. Gumam awak tadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan nasib kami di angkot ini,” kata Atan mencoba menenangkan. “Awak hanya geli melihat tulisan pada papan nama di proyek pembangunan stadion tadi,” ujarnya melanjutkan.

Baca lebih lanjut

Lupa

Lampung Post, 2 Nov 2011. Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Lupa, oleh banyak orang diyakini dapat dijadikan senjata ampuh untuk memaksa orang lain memaklumi segala tindakan salahnya. Bahkan, dalam tata peradilan, orang yang mengidap penyakit lupa dapat terhindar dari jerat hukum. Hal seperti itu, misalnya, diperlihatkan oleh Nunun Nurbaeti Daradjatun dalam kasus suap yang terkait dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom. Konon, pengusaha yang dikabarkan menjadi cukong pada kasus itu mengalami kombinasi sakit lupa berat, migrain, dan vertigo. Begitu pula yang dilakukan oleh Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Malarangeng. Di depan penegak hukum, mereka juga sering mengaku lupa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:850), lupa memiliki empat makna: (1) lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran, (2) tidak teringat, (3) tidak sadar, dan (4) lalai; tidak acuh. Dalam ilmu kedokteran, lupa digolongkan sebagai penyakit penurunan daya ingat. Lupa dalam bahasa kerennya disebut demensia dan pikun dalam bahasa sehari-harinya. Biasanya, kepikunan akan dialami orang yang sudah berusia lanjut (60-an).

Baca lebih lanjut

Bahasa Perilaku (2)

Lampung Post, 13 Jul 2011.  Agus Sri Danardana, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Riau

PERHATIKAN kutipan berikut ini.

Mbok perusahaan itu buka cabang yang mengurus Asia Tenggara dari sini, Ko. Atau paling tidak di Singapura begitu. Jadi, bapak-ibumu bisa dekat dari kalian.”

“He, he, Ibu. Kalau perusahaan itu punya saya atau taruhlah Alan Bernstein, mungkin bisa diatur. Ini milik pemegang saham bule-bule ….”

“… dan Yahudi, kan? Eh, eh, Papi, Papi. Claire, oh Claire, maafkan Ibu, ya?”

“Aha, tidak apa, Bu. Tidak apa. Saya memang seorang Amerika-Jewish, kan?” (hlm. 109-110)

Baca lebih lanjut

Bahasa Perilaku

Lampung Post, 6 Jul 2011. Agus Sri Danardana

Konon, ihwal sikap, watak, atau tabiat manusia (baik sebagai individu maupun kelompok) dapat diamati melalui bentuk bahasa yang digunakannya. Sikap hormat yang dianut orang Jawa, Sunda, Bali, Madura, dan Sasak dalam memandang hubungan manusia, misalnya, di samping terefleksi pada munculnya oposisi kosakata halus (kromo) dan tidak halus (ngoko) dalam bahasa mereka, juga terefleksikan melalui gerakan tubuh (misalnya dengan sedikit membungkukkan badan dan/atau menundukkan kepala).

Sementara itu, etnis lain (yang tidak mengenal strata bahasa), merefleksikan sikap hormatnya hanya melalui gerakan tubuh. Yang pasti, perilaku verbal (dengan bahasa) dan perilaku nonverbal (dengan tingkahlaku) manusia sering memperlihatkan kesinkronannya.

Baca lebih lanjut