Sekali Lagi tentang Hoax

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 27 Mar 2017

Heboh tentang hoax betul-betul makin menempatkan bahasa kita tak berdaya. Selain kamus tidak menyediakan padanan serupa yang terdiri atas empat huruf, ia menyebabkan ramai pengguna terperangkap pada pemahaman yang keliru. Lema tersebut dianggap berita tertulis yang menyebar di media sosial dan tidak didasari fakta. Dari kebiasaan ini, media massa mengekalkan kata asal tersebut, hoax. Mengingat aturan kebahasaan kita memungkinkan serapan bunyi, kadang ia juga disebut “hoaks”. Karena itu, kata auta, yang juga terdiri atas empat huruf, bisa ditawarkan sebagai padanan, mengingat kata Melayu ini adalah lawan dari kata “fakta”.

Baca lebih lanjut

Mengurus Bahasa Bersama

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 17 Okt 2016)

Kamus Besar Bahasa Indonesia selalu terbuka untuk pengayaan kosakata. Kehadirannya adalah penyempurnaan terhadap keluaran sebelumnya. Perubahan dan penambahan juga menimbang dari pelbagai sumber dan masukan para ahli linguistik. Meskipun makna bahasa tak bisa sepenuhnya dirujuk pada kamus, KBBI senantiasa akan menjadi acuan utama dalam berbahasa lisan dan tulisan. Bagaimanapun mesti diakui bahwa makna bahasa juga bisa ditemukan dalam percakapan sehari-hari, yang kata Noam Chomsky, filsuf bahasa, menunjukkan pentingnya konteks dalam memahami tuturan. Lebih jauh, bagaimana kita bangga menggunakannya dalam segala suasana.

Baca lebih lanjut

Kosakata Tan Malaka

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 11 Apr 2016

Perkembangan khazanah lema bahasa Indonesia sangat pesat. Setelah ditetapkan sebagai bahasa kesatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda, ia telah mengikat rakyat Negeri Khatulistiwa dalam satu bahasa persatuan. Namun tidak mudah menjadikannya alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan, agar bisa menangkap gerak perkembangan zaman. Betapapun bahasa ini luwes, ia juga perlu menimbang sejarah linguistiknya agar tidak dijarah oleh sikap malas pengguna. Dengan membaca kembali karya-karya awal Tan Malaka, kita bisa menjejaki usaha sarjana kiri ini dalam menemukan daya ucap bahasa serapan ke dalam sasaran.

Baca lebih lanjut

Komedi Tunggal

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 30 Nov 2015

Ilustrasi: MetroTV

Ivan Lanin, pengamat bahasa, menyebutkan bahwa “komedi tunggal (komtung)” acap digunakan untuk persamaan kata majemuk stand-up comedy. Sementara itu, Bagja Hidayat, wartawan majalah ini, menganggap “melawak berdiri” kurang tepat, seraya mengusulkan kata “jenakata” yang dipopulerkan Komunitas Salihara dan Goenawan Mohamad. Betapapun demikian, televisi kita masih menggunakan stand-up comedy untuk nama program tayangannya. Boleh dikatakan, acara lawakan tersebut baru semarak pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun dalam sejarahnya telah bermula pada abad ke-18.

Baca lebih lanjut

Emosi Dan Bahasa Ibu

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 14 Sep 2015

Ilustrasi: Solutions Magazine

Akhmad Murtajib, teman baik saya, mengungkapkan dalam status Facebook bahwa ia lebih nyaman dengan penggunaan kata pasa (bahasa Jawa untuk puasa) dibandingkan dengan istilah Arab, shiyam, termasuk penyebutan wulan pasa, alih-alih syahru Ramadhan. Jelas, penegasan tersebut terkait dengan latar belakang bersangkutan yang menggunakan bahasa ibunda sebagai ungkapan keseharian sejak kecil hingga dewasa. Secara pragmatik, konteks ungkapan adalah sekaligus penegasan ideologis bahwa penghayatan keagamaan seseorang terkait dengan sisi substantif, bukan normatif.

Baca lebih lanjut

Gagap Bahasa Teknologi

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 29 Jun 2015

Ilustrasi: Gawai. Sumber: Nerdoholic

Bahasa apa yang digunakan untuk fitur telepon genggam Anda? Mungkin kita tak peduli, tapi jelas bahasa Inggris lebih dipilih karena pada mulanya sistem alat ini dioperasikan dengan istilah-istilah yang berasal dari bahasa asal penciptaan teknologi tersebut, dan yang paling sering digunakan dalam gawai (gadget) karena dianggap lebih mudah dipahami. Untuk kata video player, misalnya, dalam versi Indonesia dua kata itu diterjemahkan dengan “pemutar video”. Menariknya, kata player dipadankan dengan “pemutar” karena alat ini bisa menggerakkan. Sedangkan dalam versi Malaysia, kata majemuk tersebut diterjemahkan secara harfiah menjadi “pemain video”.

Baca lebih lanjut

Pemilih ‘Mengambang’

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 13 Apr 2015

Ilustrasi: Turosoft

Mengapa banyak pemerhati dan media massa enggan menerjemahkan istilah swing voters? Hakikatnya, kita bisa menerjemahkan secara harfiah kata majemuk ini menjadi “pemilih berayun”. Seperti bandul jam yang berayun ke kanan dan kiri, pemilih akan menentukan pilihan sesuai dengan suasana hati di akhir-akhir menjelang hari pemilihan. Kadang ada orang yang mengalihbahasakannya dengan “pemilih mengambang”, dengan andaian bahwa pemilih itu berada dalam kedudukan antara muncul ke permukaan dan tenggelam di dasar air.

Baca lebih lanjut

Arabisme dan Keindonesiaan

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 22 Sep 2014

Dalam rubrik “Memoar” majalah Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, Ali Audah dianggap sebagai pekerja bahasa yang piawai karena berhasil menerjemahkan buku Arab ke dalam bahasa Indonesia yang baik. Menariknya, betapapun penerjemah ini berketurunan Arab, lelaki kelahiran Bondowoso tersebut berusaha untuk tidak kearab-araban. Sepertinya ia sadar bahwa bahasa itu hanya alat berkomunikasi, sehingga terjemahan dalam bahasa setempat itu mungkin. Betapapun bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa rumpun Semitik ini, bahasa Melayu sejatinya mengandaikan asal-muasal Sanskerta yang kental.

Baca lebih lanjut

Kiasan Binatang

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 21 Jul 2014)

Kata majemuk membabi-buta diungkapkan sebagai perilaku kalap. Lalu, kalau binatang ini tak buta, apakah ia tak akan mengamuk dengan sengit? Mungkin kita tak perlu mengusik asal-usul kata sejauh itu. Hanya, kita mafhum bahwa binatang acap digunakan sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan perilaku manusia, buruk atau baik. Menariknya, meskipun kata tersebut juga dijumpai dalam Kamus Dewan Malaysia, warga jiran lebih memilih kata membuta-tuli, yang sama sekali tak menyebut binatang tertentu, meskipun maknanya sama dengan membabi-buta.

Menariknya, terkait dengan membabi-buta dan membuta-tuli, mengapa warga Malaysia jarang menggunakan kata yang pertama dalam percakapan sehari-hari? Ini bisa dikaitkan dengan keengganan orang Melayu menyebut babi, yang tidak halal untuk dimakan sehingga tak enak diungkapkan. Namun sebagian orang melihat perilaku ini sebagai penghormatan orang Melayu kepada dua etnis besar lain, Tionghoa dan India, yang mengkonsumsi hewan tersebut.

Jadi, meskipun berbahasa itu bersifat suka-suka, dalam praktek komunikasi, penutur menjaga perasaan mitra agar percakapan mendatangkan keakraban, bukan ketidaknyamanan.

Baca lebih lanjut

Bahasa ‘Kekerasan’ dalam Sepak Bola

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 14 Apr 2014)

Menjelang laga semifinal sepak bola Indonesia-Malaysia pada SEA Games XXVII, sebuah koran nasional versi daring (Republika, 19 Desember 2013) menurunkan berita tentang perang pendukung kedua tim melalui dunia maya. Tak seperti pertandingan dengan tim negara lain, emosi penyokong kedua tim selalu memanas sebelum peluit wasit ditiup. Mengapa? Karena kedua warga acap bertikai dengan pemicu yang beraneka ragam, seperti perebutan garis perbatasan, klaim kebudayaan, dan buruh migran. Sebenarnya, tanpa dibayangi pengalaman buruk, pertandingan sepak bola antarnegara selalu memantik nasionalisme.

Tak ayal, dalam banyak berita media lain, pembaca akan menemukan kata-kata berbau kekerasan, seperti sikat, libas, musuh bebuyutan, menuntaskan dendam, berjuang keras, dan kutukan. Sementara kekalahan telak Garuda Muda oleh Thailand di babak penyisihan tak begitu mengusik, babak penentuan dengan Malaysia membuat gelegak menderu dan suara berisik. Tak hanya itu, perseteruan di media sosial memantik kelucuan. Seorang pemilik akun menjawab kicauan warga Malaysia bahwa kekalahan itu disebabkan oleh kekacauan bahasa penggunaan kata bola sepak, bukan sepak bola.

Baca lebih lanjut