Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Welkam Dring

André Möller* (Kompas, 12 Nov 2016)

Sekitar dua belas tahun yang lampau koran ini memuat tulisan saya berjudul ”Pakai Kes apa Kad?”. Di dalamnya saya antara lain membahas kosakata asing yang semakin sering masuk ke dalam bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaan yang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes atau kad. Sesungguhnya dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat walau masih ditandai cak (yaitu merupakan ”kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuk kamus akbar ini, adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Baca lebih lanjut

Tamat

André Möller* (Kompas, 13 Agu 2016)

Terkadang pada halaman terakhir sebuah buku atau pada detik-detik terakhir sebuah film tertulis kata tamat, seolah-olah pembaca dan penonton tidak mengerti apa-apa sendiri kalau tidak diberi tahu. Meski mengandung unsur penghinaan, kata ini kelihatan sederhana dan mudah dimengerti. Buku atau film yang sedang kita nikmati ternyata sudah selesai atau habis, dan ucapan terima kasih barangkali kita layangkan kepada penulis atau sutradara.

Baca lebih lanjut

Keefektifan Bahasa

André Möller*, Kompas, 18 Jun 2016

Sering dilontarkan, seolah-olah sampah (dan barangkali memang sampah, pembaca yang budiman), gagasan bahwa bahasa Indonesia ini kurang efektif. Tidak jarang pula, para pembela bahasa yang disisipkan istilah-istilah atau frase-frase berbahasa asing—terutama dari bahasa Inggris—yang mengedepankan ide ini. Menurut mereka, lebih efektif rental motor daripada menyewanya atau dipersewakannya. Terkadang, kata mereka juga, istilah, frase, dan pembentukan kalimat dalam bahasa Indonesia jadi terlampau panjang dan bahkan rumit supaya dapat diberi penilaian ”kurang efektif”. Barangkali susah dipercaya, tapi golongan ini sesekali sampai menghitung jumlah huruf atau kata demi mencoba menggarisbawahi bahwa pendapat merekalah yang lebih afdal. Toh, reserved lebih sedikit jumlah hurufnya dibandingkan dengan sudah dipesan, tapi sama jumlahnya dengan terpesan.

Baca lebih lanjut

“Smörgåsbord” dan “Fartlek”

André Möller*, KOMPAS, 12 Mar 2016

Swedia telah mengekspor sejumlah hasil karyanya ke Indonesia seperti mobil, barang elektronik, dan mebel. Kami juga mengekspor sejumlah ide dan pendapat, misalnya dalam bidang hak asasi manusia dan pengelolaan sampah. Namun, kami bukan bangsa yang banyak mengekspor kata atau ucapan, dan ini tentu antara lain terkait dengan ketidakberhasilan kami menggeluti dunia penjajahan dulu itu. Kami juga tidak banyak menghasilkan pemikir atau pemuka agama, misalnya, yang menyebarkan ide-idenya—dan, dengan demikian, bahasanya—ke mana-mana.

Baca lebih lanjut

Kera dan Monyet

André Möller*, KOMPAS, 13 Feb 2016

Ketika media sosial dan media tradisional mulai dipadati oleh ulasan mengenai arti dan makna tahun baru Imlek, yaitu Tahun Monyet Api, saya hampir terselak. Rugi sekali kalau kopi Nusantara yang sudah dibawa jauh-jauh ke luar negeri disia-siakan begitu. Namun, mengapa nyaris keselak? Karena begitu ironis, pikir saya, bahwa tahun baru ini yang digambarkan dengan warna terang dan penuh percaya diri disebut Monyet Api.

Baca lebih lanjut

Bit Merah

André Möller*, KOMPAS, 21 Nov 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Musim gugur di tanah air penulis sudah mendekati detik-detik terakhir tahun ini dan, dengan begitu, musim lomba lari pun bisa dinyatakan selesai. Sebagian orang akan berlari sepanjang musim dingin tanpa peduli akan salju atau suhu yang menyengat, dan sebagian lain baru akan mengeluarkan sepatu larinya kalau diiringi bunga-bunga yang mekar nanti. Yang pasti, di mana-mana akan diadakan lomba kalau musim semi telah tiba, seolah-olah kami harus bergegas-gegas berlari sebelum musim dingin tiba lagi.

Baca lebih lanjut

Berapa Umat?

André Möller*, KOMPAS, 13 Jun 2015

Belum lama ini koran yang Anda pegang sekarang mewartakan bahwa ”20.000 Umat Buddha Hadiri Perayaan Waisak di Candi Borobudur” (1 Juni 2015). Sehari setelah itu diberitakan juga bahwa ”Jokowi Rayakan Waisak Bersama 20.000 Umat Buddha di Borobudur”. Membaca berita ini, saya agak kaget. Memang Borobudur nan ajaib dan menawan itu cukup besar dan luas, tetapi benarkah sebanyak umat itu bisa mengumpul di tempat yang sama? Dan apakah ada sebanyak umat itu?

Baca lebih lanjut

Pentil

André Möller, KOMPAS, 9 Mei 2015

Asyiknya menggunakan dan mempelajari bahasa memuncak ketika kita menyadari bahwa bahasa itu sesekali membingungkan dan tidak selalu menari menurut kaidah-kaidah yang kita duga berlaku. Salah satu kata yang bisa membuat kita mengangkat alis terheran-heran adalah pentil. Kata itu sendiri tidak garib, dan memiliki arti berikut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat: alat terbuat dari karet tempat memasukkan udara (gas) ke dalam ban (bola dsb) dan menahan udara (gas) yang sudah masuk.

Baca lebih lanjut