Anjing Tanah Anjing Bentala

André Möller (Kompas, 24 Mar 2018)

Beberapa waktu yang lalu sebagian orang Indonesia kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Media, rumah makan, dan pusat perbelanjaan pun tentu saja ikut heboh guna ikut meraih untung, seperti pada perayaan-perayaan yang lain. Mengingat perayaan Imlek secara terbuka baru diperbolehkan kembali pada waktu Gus Dur menjabat sebagai presiden, dan baru dikukuhkan sebagai hari libur nasional di bawah kepemimpinan Megawati, maka kenyataan bahwa Imlek semakin hadir di Indonesia adalah hal yang baik.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kasar atau (Sok) Akrab?

André Möller* (Kompas, 13 Jan 2018)

Ketika saya mulai belajar bahasa Indonesia, disampaikan bahwa kamu hanya bisa dipakai dengan kerabat atau saudara yang amat dekat atau dengan anak kecil. Segala penggunaan yang lain dianggap kurang sopan, dan dengan jelas akan memperlihatkan kenyataan bahwa kami, para pelajar, belum memahami bahasa asing ini. Kami disuruh memakai kata Anda atau kata panggilan yang tepat, seperti mbak, mas, bu, pak, dan seterusnya. Kalau kita berkonsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajaran ini sepertinya bisa dikatakan tepat. Kamu diartikan sebagai ’yang diajak bicara; yang disapa (dalam ragam akrab atau kasar)’. Bagian terakhir ini yang penting: akrab atau kasarAnda, di lain pihak, diartikan KBBI sebagai ’sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkat, kedudukan, dan umur)’. Dengan demikian, lebih amanlah memakai kata Anda.

Baca lebih lanjut

I Lovina You

André Möller* (Kompas, 18 Nov 2017)

Masyarakat Perancis terkenal bangga akan bahasa nasionalnya. Beberapa dasawarsa yang lalu wisatawan yang menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris bakal diabaikan dan disurami, dan yang kurang fasih berbahasa Perancis dianggap kurang beradab. Zaman kini, hal ini sudah agak berubah, tapi masalah bahasa tetap sensitif di negeri bermenara Eifel ini. Beberapa tahun yang lalu hal ini diaktualisasikan di Kota Loches.

Baca lebih lanjut

Lari dan Kawan-kawan

André Möller* (Kompas, 28 Okt 2017)

Besok pagi Mandiri Jakarta Marathon (MJM) akan digelar untuk kali kelima. Ribuan pelari dari sejumlah negara akan berkeringatan di jalan-jalan ibu kota dengan niat menaklukkan jarak yang klasik ini: 42,2 km. Kata maraton sendiri sudah saya bahas secara singkat pada kesempatan yang lain di koran ini (3 Mei 2014). Jadi, di bawah ini saya hanya akan fokus pada kata lari dan beberapa bentuk yang dapat diciptakan darinya.

Baca lebih lanjut

Piknik

André Möller* (Kompas, 5 Agu 2017)

Tidak jarang akhir-akhir ini, saya menemukan kata piknik di Indonesia. Mungkin dari dulu memang sudah lazim dipakai, hanya saya saja yang kurang memperhatikannya. Karena juga terdapat dalam bahasa Swedia (dalam bentuk picknick), kata ini tidak terasa asing bagi saya, malah sebaliknya. Namun, cara pemakaiannya di Indonesia agak berbeda dengan pemakaian di tempat-tempat lain.

Baca lebih lanjut

NYIA

André Möller* (Kompas, 15 Jul 2017)

Bandar-bandar udara di Indonesia sering diberi nama yang mencerminkan—atau setidaknya mengingatkan tentang—sejarah, budaya, atau keajaiban alam setempat. Sebut saja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, dan Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang. Bandara paling ramai di Indonesia pun memiliki nama dengan makna bersejarah dan nasionalis (Soekarno-Hatta), dan orang-orang Yogyakarta pun tidak mau kalah dengan memberikan nama seorang pahlawan nasional kepada bandara mereka (Adisutjipto).

Baca lebih lanjut

Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Welkam Dring

André Möller* (Kompas, 12 Nov 2016)

Sekitar dua belas tahun yang lampau koran ini memuat tulisan saya berjudul ”Pakai Kes apa Kad?”. Di dalamnya saya antara lain membahas kosakata asing yang semakin sering masuk ke dalam bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaan yang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes atau kad. Sesungguhnya dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat walau masih ditandai cak (yaitu merupakan ”kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuk kamus akbar ini, adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Baca lebih lanjut

Tamat

André Möller* (Kompas, 13 Agu 2016)

Terkadang pada halaman terakhir sebuah buku atau pada detik-detik terakhir sebuah film tertulis kata tamat, seolah-olah pembaca dan penonton tidak mengerti apa-apa sendiri kalau tidak diberi tahu. Meski mengandung unsur penghinaan, kata ini kelihatan sederhana dan mudah dimengerti. Buku atau film yang sedang kita nikmati ternyata sudah selesai atau habis, dan ucapan terima kasih barangkali kita layangkan kepada penulis atau sutradara.

Baca lebih lanjut