Bit Merah

André Möller*, KOMPAS, 21 Nov 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Musim gugur di tanah air penulis sudah mendekati detik-detik terakhir tahun ini dan, dengan begitu, musim lomba lari pun bisa dinyatakan selesai. Sebagian orang akan berlari sepanjang musim dingin tanpa peduli akan salju atau suhu yang menyengat, dan sebagian lain baru akan mengeluarkan sepatu larinya kalau diiringi bunga-bunga yang mekar nanti. Yang pasti, di mana-mana akan diadakan lomba kalau musim semi telah tiba, seolah-olah kami harus bergegas-gegas berlari sebelum musim dingin tiba lagi.

Baca lebih lanjut

Berapa Umat?

André Möller*, KOMPAS, 13 Jun 2015

Belum lama ini koran yang Anda pegang sekarang mewartakan bahwa ”20.000 Umat Buddha Hadiri Perayaan Waisak di Candi Borobudur” (1 Juni 2015). Sehari setelah itu diberitakan juga bahwa ”Jokowi Rayakan Waisak Bersama 20.000 Umat Buddha di Borobudur”. Membaca berita ini, saya agak kaget. Memang Borobudur nan ajaib dan menawan itu cukup besar dan luas, tetapi benarkah sebanyak umat itu bisa mengumpul di tempat yang sama? Dan apakah ada sebanyak umat itu?

Baca lebih lanjut

Pentil

André Möller, KOMPAS, 9 Mei 2015

Asyiknya menggunakan dan mempelajari bahasa memuncak ketika kita menyadari bahwa bahasa itu sesekali membingungkan dan tidak selalu menari menurut kaidah-kaidah yang kita duga berlaku. Salah satu kata yang bisa membuat kita mengangkat alis terheran-heran adalah pentil. Kata itu sendiri tidak garib, dan memiliki arti berikut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat: alat terbuat dari karet tempat memasukkan udara (gas) ke dalam ban (bola dsb) dan menahan udara (gas) yang sudah masuk.

Baca lebih lanjut

Swafoto dan Dirian

André Möller*, KOMPAS, 20 Des 2014

Jikalau pembaca yang budiman berkunjung ke Borobodur atau Prambanan sepuluh tahun lalu, pembaca bakal melihat wisatawan sibuk mencermati relief-relief kuno dan dengan teliti mendengarkan ilmu dan pengetahuan yang keluar dari mulut-mulut pemandu, guru, dan mahaguru. Rasa ketakjuban mengalami langsung kedua keajaiban kebudayaan Nusantara ini terasa kental. Ada rasa bangga bercampur dengan keheranan. Tercenganglah para wisatawan tadi. Dan wajarlah hal tersebut.

Baca lebih lanjut

Kunci Inggris

André Möller*, KOMPAS, 13 Sep 2014

Kunci inggris bukan saja alat kecil untuk membuka atau mengancing pintu atau peti buatan Inggris, melainkan juga ”kunci yang dapat disetel untuk mengepaskan kepala baut atau mur”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ketika kali pertama saya mendengar ayah mertua saya menyebut alat berguna ini kunci inggris, saya agak kaget karena saya berpikir ini adalah perkakas yang berasal dari tanah air saya, Swedia. Rasa nasionalisme di dalam dada ingin memprotes, tetapi akal sempat mengalahkan lidah kala itu. Untung saja, karena ternyata tidak semudah yang saya kira.

Baca lebih lanjut

Kol Bunga dan Spidbot

André Möller*, KOMPAS, 9 Agu 2014

BERHUBUNG dengan salah satu tulisan saya di koran ini belum lama ini, seorang kawan menanyakan bentuk yang mana yang saya anggap benar: ”kali pertama” atau ”pertama kali”. Dalam tulisan itu memang tertulis ”kali pertama”, yang menunjukkan susunan kata yang tidak selumrah ”pertama kali”.

Bagi seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indo-Eropa, lebih tepatnya Jermanik Utara, susunan kata dalam bahasa Indonesia jadi salah satu rintangan yang mesti dilalui ketika belajar bahasa asing ini. Dibutuhkan waktu untuk membiasakan diri menempatkan kata sifat di belakang kata benda, misalnya. Barang tentu namanya ”bola merah” dan ”cewek cantik” walaupun insting nurani berteriak ”merah bola” dan ”cantik cewek” sebelum fase ini berhasil dilalui. Ketika akhirnya hal ini sudah mengakar di dalam kepala maupun di ujung lidah si murid bahasa Indonesia, maka akan muncul beberapa kekecualian yang membuat buncah dan bingung. Mari, kita perhatikan beberapa di antaranya.

Baca lebih lanjut

Ramadan dan Idulfitri

André Möller*, KOMPAS, 5 Jul 2014

TAMU tahunan nan agung yang selalu dinantikan umat Islam kini mengetuk hati nurani kita lagi. Dari pagi sampai malam, orang saleh dan saleh-salehan akan menghindari makanan lezat, minuman menyegarkan, pengucapan kata-kata tak tak terpuji, perbuatan keji, dan bahasa Indonesia yang tidak atau kurang benar. Spamduk (lihat kolom ”Bahasa” terbitan 18 Januari tahun ini) akan mengotori ruang publik dengan sejumlah ucapan dan pesan moril, dan barangkali tingkat korupsi akan menurun sedikit untuk waktu terbatas. Masjid-masjid akan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menunaikan salat sunah walaupun sehari-hari mereka jarang melangsungkan salat wajib. Ya, bulan puasa datang lagi.

Semestinya bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah ini kita sebut bagaimana? Ramadhan? Ramadhon? Ramadlan? Ramazan? Romadlon? Romadhan? Ada peribahasa Swedia yang kira-kira berbunyi: ”anak yang disayang memiliki banyak panggilan”, tapi kita tidak bisa sembunyi di belakang kata-kata yang sok bijak dari benua lain. Mungkin kita ingin mengikuti ormas kesukaan kita dalam masalah penyebutan bulan puasa, sebagaimana kita ingin mengikuti cara-cara mereka menentukan awal dan akhir bulan. Hanya saya, ormas-ormas tidak konsisten dalam penggunaan kata. Begitu pula dengan koran dan stasiun televisi. Kiai, dai, dan khatib juga tidak konsisten. Bisa saja mereka semua tidak konsisten karena mereka tahu bahwa intisari bulan puasa tidak terletak pada cara penulisannya. Bisa saja mereka menyadari bahwa penyalahketikan tidak akan jadi rintangan bagi kaum yang ingin kembali ke fitrahnya. Bisa saja mereka menginsafi bahwa masalah ejaan tidak dibahas secara panjang lebar oleh Bukhari ataupun Muslim.

Baca lebih lanjut

Bakal dan Calon Lagi

André Möller, KOMPAS, 7 Jun 2014

BELUM lama ini saya membaca istilah ”bakal calon presiden” di beberapa koran berhubungan dengan pasar presiden yang sedang diramaikan di Indonesia. Pertama-tama, kelihatan agak janggal, ganjil, dan bersifat mengada-ada. Akan tetapi, setelah direnungkan beberapa saat, saya berubah pikiran dan memahami istilah ini sebagai salah satu bentuk daya cipta bahasa Indonesia yang baik berguna ataupun cukup cerdas.

Tanpa alasan yang berdasar, bakal dan calon nyaris secara otomatis dibedakan dalam benak saya. Bakal saya artikan kira-kira sebagai ’sesuatu yang pasti akan terjadi’, sedangkan calon saya artikan sebagai ’sesuatu yang mungkin akan terjadi’. Maka, seseorang yang haus akan kekuasaan dan tertarik pada peluang untuk menebalkan kantong sendiri, bisa saja disebut bakal calon presiden. Begitu pula dengan orang yang dengan tulus ingin memperbaiki nasib Indonesia, tentunya.

Baca lebih lanjut

Maraton

André Möller, KOMPAS, 3 Mei 2014

Beberapa bulan yang lalu saya ikut sebuah lomba lari maraton untuk kali pertama. Lomba ini berlangsung pada malam hari pada musim gugur di Swedia. Jadi, teman paling setia selama 42,2 kilometer adalah kegelapan, kesunyian, dan kedinginan. Selain sempat meragukan kesehatan mental saya berulang kali selama lebih dari 3,5 jam, saya juga sempat memikirkan kata maraton sendiri.

Menurut legenda, seorang pembawa kabar bernama Pheidippides ditugasi lari dari medan perang di kota Marathon ke Athena (ibu kota Yunani) untuk menyampaikan kabar bahwa pasukan Yunani berhasil mengalahkan pasukan Persia. Ia mesti menyampaikan kabar ini dengan segera supaya pemimpin Athena tidak membiarkan pasukan Persia memasuki kota Athena. Pertempuran Marathon ini berlangsung pada 490 Sebelum Masehi. Ceritanya, Pheidippides lari tanpa berhenti (walaupun habis ikut berjuang dalam pertempuran tadi) dan, ketika sampai di Athena, ia berteriak, ”Nikomen!” atau ”Kita menang!” Setelah itu, menurut legenda, ia langsung meninggal kecapaian.

Baca lebih lanjut

Saudara-saudara!

André Möller* (KOMPAS, 5 Apr 2014)

SAUDARA-saudara! Apakah pembaca yang budiman bisa saya anggap saudara saya? Ya, bisa, karena salah satu arti saudara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ’sapaan kepada orang yang diajak berbicara’. Sejujurnya kita tidak sedang berbicara di sini, tetapi tidak salah kalau dikatakan bahwa kalian saya sapa dalam tulisan sederhana ini. Barangkali lebih tepat kalau kata berbicara dalam penjelasan KBBI tadi diganti berkomunikasi sebab penjelasan seperti itu juga akan meliputi sapaan tertulis. Namun, bukan itu yang akan jadi pokok pembahasan di sini.

Seorang teman saya memiliki dua anak, satu lelaki dan satu perempuan. Teman saya itu lelaki, tetapi anak-anaknya memiliki ibu yang tidak sama. Pertanyaan saya, hubungan di antara kedua anak ini harus disebut apa? Secara gampang, kedua anak ini adalah saudara sebab KBBI mengartikannya dalam penjelasan pertama sebagai ’orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja)’. Barang tentu penggunaan bahasa seperti ini akan terasa inklusif dan ramah. Dilihat dari segi sapaan, hubungan di antara kedua saudara ini tidak dibedakan berdasarkan ulah orangtuanya. Namun, dilihat dari segi lain, mungkin ada gunanya kalau kita bisa membedakan saudara yang seibu-seayah dengan saudara yang hanya seibu atau seayah. Nah, muncullah sebutan saudara tiri, yang artinya tidak lain selain ’saudara seibu atau saudara seayah’. Rupanya justru itulah yang kita cari. Masalahnya selesai.

Baca lebih lanjut