Penerjemah

Anton Kurnia*, Majalah Tempo, 17 Nov 2014

Dalam penutup tulisannya, “Terjemahan” (Tempo, 11-17 Agustus 2014), Goenawan Mohamad mengutip Sapardi Djoko Damono: “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut ’terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.”

Kerja penerjemahan memang bukan soal mudah. Menerjemahkan adalah pekerjaan serius yang menuntut kerja keras dan mengandung tanggung jawab berat, yakni kewajiban menepati makna teks asal dan keniscayaan agar teks hasil terjemahan terbaca dengan jelas dalam bahasa sasaran, sekaligus terjaga nuansanya—terutama pada teks sastra.

Baca lebih lanjut

Iklan

Merah yang Bukan Kirmizi

Anton Kurnia* (Majalah Tempo, 10 Feb 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Baca lebih lanjut