Political Correctness

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 4 Apr 2016

Marah di jalan, karena sepeda motor yang melanggar jalur, atau penyeberang yang tak peduli lampu lalu lintas, saya berteriak, “Buta lu ya!” Segera saya merasa berdosa kepada orang tunanetra.

Jengkel kepada tukang yang salah melulu dalam renovasi rumah, saya membatin, “Budek lu ya? Kan, dari tadi udah dibilangin….” Lagi-lagi saya merasa berdosa, kepada orang tunarungu.

Gemas melihat komentar-komentar penuh kebencian di media sosial, saya menggerutu, “Dasar pikiran kerdil!” Dan segera saya merasa bersalah pula kepada orang kate.

Saya pun sesaat membisu, sebab begitu banyak bias dan ketidakadilan dalam bahasa. Dan bisakah kita berbahasa secara politically correct?

Baca lebih lanjut

Herstory dan Perjuangan Emansipasi

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 15 Des 2014

Telah begitu lama sejarah ditulis oleh lelaki. Atau setidaknya dari sudut pandang lelaki. Orang yang belajar gender tentu paham itu. Kita rasanya tidak menemukan perempuan penulis sejarah yang sezaman dengan Herodotus atau Josephus. Baru di era modern, wanita mulai menulis sejarah. Itu pun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding pria. Latar belakang ini membuat para feminis di Amerika memperkenalkan kata “herstory”. “History” dianggap terlalu lelaki. His story, kisahnya (dia, lelaki). Untuk memberi perimbangan perspektif perempuan, ditawarkanlah istilah baru “herstory”. Kisahnya (dia, perempuan). Apa yang bisa dibaca di sini?
Baca lebih lanjut

Spiritualitas yang Hilang

Spritualitas

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 6 Okt 2014

Saya pernah berdebat dengan editor saya tentang suatu cara pengungkapan. Kami sedang menyiapkan novel Bilangan Fu. Satu kalimat dalam naskah saya berstruktur ini: padaku ada sesuatu. Mungkin agar pembaca mudah paham, editor ingin menyederhanakan kalimat itu dan menggantinya jadi: aku punya sesuatu. Kenapa harus pakai struktur yang rumit jika ada yang lebih jelas? Kenapa gunakan tata bahasa kuno jika ada yang modern?

Baca lebih lanjut

Aspek

Ayu Utami* (Majalah Tempo, 2 Jun 2014)

Bukalah Wikipedia. Carilah aspek (aspect) dalam bidang linguistik. Kita akan menemukan artikel dalam banyak bahasa lain, tapi tidak dalam bahasa Indonesia atau Melayu. Apakah itu berarti aspek tak dikenal dalam gramatika kita? Bisa jadi. Bisa juga tidak begitu.

Tata bahasa kita tidak mengenal penanda kala, toh kita paham tentang pengertian waktu. Kita tak menggunakan kata kerja yang berbeda untuk pergi dua ratus tahun lalu atau sekarang. Napoleon naik kuda (dulu). Tuan P naik kuda (sekarang). Kata kerjanya sama, naik kuda juga. Toh, kita mengerti ada perbedaan zaman. Kita memang memiliki tata bahasa yang implisit, yang mengizinkan ketidakjelasan. Bukan untuk disesali, melainkan untuk disiasati.

Baca lebih lanjut

Suatu Rasa Bernama “Syur”

Ayu Utami* (Majalah Tempo, 27 Jan 2014)

Kata-kata datang dan pergi, sebagian bertahan sebagian hilang. “Syur” dan “ler” pernah ramai muncul di media massa pada 1980-an dan 1990-an. Mereka hadir bersama majalah dan tabloid semiporno, yang menawarkan foto gadis-gadis dalam pose ler yang membangkitkan syur.

Carilah di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa menemukan “syur”, tapi tidak “ler”. Itu pun maknanya sangat sempit. “Ler” barangkali saja diambil dari verba bahasa Jawa. “Diler” artinya dibuka, didadahkan, diangin-anginkan. Jika yang diler adalah dada atau paha atau sejenisnya, itu berarti dibiarkan terbuka sehingga bisa ditonton orang. Kata ini belum ada di KBBI Edisi Ketiga.

Baca lebih lanjut