Mengejar ‘Selfie’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 1 Feb 2016

Selfie Jokowi (Sumber: ABC)

Di majalah Tempo edisi 30 November-6 Desember 2015, ada kartun Hariprast tentang peringatan Hari Guru. Hari menggambar seorang guru memakai baju Korpri sedang memegang telepon seluler di depan murid-muridnya, yang juga memegang telepon seluler. Teks kartun itu adalah “Guru ngetweet berdiri, murid selfie berlari”.

Baca lebih lanjut

Bahasa Media Bahasa Kita

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 7 Des 2015

Ilustrasi: MarionSpeaks

Pada akhirnya bahasa Indonesia adalah himpunan berbagai bahasa daerah, bukan hanya bahasa Melayu yang menjadi akarnya ketika ditetapkan sebagai bahasa persatuan 87 tahun lalu. Jika dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak mempengaruhi bahasa Indonesia. Dari 6.000 lebih bahasa di dunia, jumlah penutur bahasa Jawa menempati urutan ke-11.

Baca lebih lanjut

Sekali Lagi Soal ‘Meninggal’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 3 Agu 2015

Ilustrasi: Macleans

Pada Tempo edisi 13-20 Juli 2015, Zen Hae menganjurkan agar para penyusun kamus tak perlu menggubris usul saya supaya mengeluarkan lema “meninggal” dari kata “tinggal”. Sebab, sebagai arti mati, meninggal jelas berbeda makna dengan tinggal. Meninggal mengacu pada roh yang pergi, sementara tinggal bermakna menetap.

Baca lebih lanjut

Konteks Kalimat

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 22 Jun 2015

Ilustrasi: Ketaksaan. Sumber: WPDownUnder

Di sebuah grup WhatsApp, kelompok bincang dalam telepon seluler, ada percakapan seperti ini:

– Halloo, teman, tanggal berapakah Lebaran?
+ Hallooo, Insyaallah tanggal 1 Syawal
– Yeee, tanggal Masehi dooong
+ Ah, Masehi mah enggak Islami….

Baca lebih lanjut

Ihwal Meninggal

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 2 Mar 2015

Ilustrasi: Macleans

Bahasa Indonesia punya banyak padanan untuk kata mati: meninggal, wafat, mangkat, koit, modar, kojor, mampus, berpulang. Dari sekian banyak sinonim itu, kata “meninggal” paling problematik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “meninggal” dibentuk dari kata “tinggal”, yang artinya berdiam. Di sinilah masalahnya. Sebab, “meninggal” dalam arti mati tak merujuk pada jasadnya yang berdiam, kaku, tak bernyawa. Malah sebaliknya: “meninggal” merujuk pada roh yang pergi dari tubuh, ke alam lain yang bukan dunia–jika merujuk pada kepercayaan dan agama.

Baca lebih lanjut

Dunia tanpa Huruf ‘F’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 8 Des 2014

Ilustrasi: Alumni LBS Tanjungsari

BENAR juga apa yang ditulis seseorang entah siapa pada sebuah meme di Internet: “Siapa bilang orang Sunda tak bisa bilang ‘F’? Pitnah!”

Sebagaimana umumnya mimikri, ia mengandung kelakar. Barangkali yang menulisnya juga orang Sunda, suku di Jawa Barat yang suka banyol hingga melahirkan tokoh dongeng yang cerkas semacam Kabayan. Karena itu, kelakar di sana juga sekaligus pengakuan: meledek cacat diri sendiri secara kocak.

Baca lebih lanjut

Sindrom Kabayan

Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 26 Mei 2014)

Ketika ujian nasional pekan lalu, di media sosial beredar lembar soal yang sudah dijawab seorang murid sekolah dasar. Nilai ujiannya nol karena siswa itu hanya menjawab “benar” dan “jujur” untuk setiap pertanyaan mata ajaran pendidikan kewarganegaraan. Guru yang menilainya menganggap dua jawaban tersebut keliru dan kesalahan itu menunjukkan kegagalan siswa memahami petunjuk soal.

Benarkah begitu? Petunjuknya memang berbunyi “Jawablah pertanyaan dengan jujur dan benar”. Apa yang keliru? Anak itu telah melaksanakan petunjuk dengan patuh. Dan ia mendapat nilai nol untuk kepatuhannya itu. Tak ada yang bisa melakukan verifikasi apakah lembar soal dan jawaban itu benar-benar terjadi atau keisengan seseorang untuk menertawai petunjuk soal dalam ujian nasional yang tak jelas dan lebih rumit daripada pertanyaannya.

Baca lebih lanjut