Bahasa Kita Jadi Bahan Bincang Dunia Maya

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 27 Jul 2015

Tulisan Norimitsu Onishi tentang bahasa Indonesia, yang terbit di The New York Times (baca Kompas, 20 Juni 2015, halaman 6), tiga hari kemudian ditanggapi Michel S, seorang Indonesia yang menetap di Jerman.

Pampangan dengan tajuk “Indonesian adopting English: but in what way?“, melanjutkan ulasan mengenai anak-anak Indonesia yang berbahasa pertama bahasa Inggris. Pampangan berbahasa Inggris ini menuai 27 tanggapan dari kalangan Indonesia dan dunia.

Baca lebih lanjut

Bahasa Kita di “The New York Times”

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 20 Jul 2015

Di pelbagai kesempatan, termasuk pada forum resmi, sekian kali disuarakan keinginan agar bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional atau-setidak-tidaknya-bahasa komunikasi di tingkat regional: ASEAN.

Sementara itu, The New York Times (25 Juli 2010) memaparkan tulisan Norimitsu Onishi, “As English Spreads, Indonesians Fear for Their Language“, yang menyingkapkan berita yang berarah balik ini. Telah lahir generasi baru anak Indonesia, yang dibesarkan di Jakarta, tetapi tak fasih berbahasa Indonesia karena tumbuh menjadi penutur berbahasa pertama bahasa Inggris.

Baca lebih lanjut

Menggali Keadilan?

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 20 Jul 2013

Menyongsong Hari Kebangkitan Nasional lalu, Kompas terbitan 19 Mei 2013 pada halaman 1 menurunkan artikel tentang keprihatinan makin meluasnya pengaruh kekuatan asing. Salah satu pendapat yang diangkat adalah upaya memelihara nilai-nilai kebangsaan karena ”nilai-nilai dalam kearifan lokal dapat membentengi Indonesia dari paham-paham global, seperti liberalisme dan kapitalisme”. Menyusul ajakan, ”Kita… haruslah menggali keadilan. Selama keadilan tidak ada, ideologi apa pun akan muncul.”

Apa yang dimaksudkan dengan menggali keadilan? Dalam pengertian yang bukan kiasan, dapat kita katakan menggali batu bara dan menggali emas, yang maksudnya adalah menggali tanah—dalam sekali—sampai menemukan batu bara dan emas, sesuatu yang diyakini ada di dalam dan pemerolehan benda itu merupakan tujuan akhir dari kegiatan menggali. Lain sedikit halnya dengan menggali sumur atau menggali lubang. Sumur dan lubang bukanlah sesuatu yang diyakini ada di dalam tanah sebelum dilakukan penggalian. Tujuan akhir dari kegiatan menggali ini bukan memperoleh, melainkan menghasilkan sesuatu yang belum ada sebelumnya.

Baca lebih lanjut