Cukong

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 19 Jun 2017)

Di panggung, penyanyi Titiek Hamzah memberi pengakuan telah lama cuti dari musik. Dulu, orang-orang mengenal Titiek Hamzah bergabung dengan kelompok musik terkemuka bernama Dara Puspita. Sejak 1972, Titiek Hamzah tak lagi berurusan dengan rekaman lagu di studio atau tampil di konser musik. Jeda itu dianggap cuti panjang. Kerinduan pada kemeriahan bermusik dipenuhi saat Titiek Hamzah ikut tampil di Jambore Rock 83 di Ancol, Jakarta. Di hadapan 10 ribu penonton, Titiek Hamzah melantunkan lagu ciptaan sendiri berjudul “Cukong Tua”. Lagu itu untuk membuktikan diri masih sanggup mendapatkan sorakan dan tepuk tangan penonton (Tempo, 27 Agustus 1983).

Baca lebih lanjut

Tetek Bengek

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 6 Maret 2017

Di majalah Liberty edisi Mei 1931, pembaca bertemu dengan esai garapan Liem Khing Hoo berjudul “Menoelis Tjerita”. Alinea awal menerangkan sejarah cerita pendek berbahasa “Melajoe”. Liem Khing Hoo menulis: “Sampe pada limabelas taoen jang laloe, dalem pembatja’an Melajoe-Tionghoa orang amat soeka sama salinan tjerita-tjerita Tiongkok dan laen-laennja. Tapi sekarang roepanja orang berbalik gemar sama tjerita-tjerita jang meloekiskan kedjadian antara penghidoepan di Indonesia. Tjerita pendek poen moelai disoeka dengen dibarengin moentjoelnja banjak penoelis-penoelis tjerita.” Esai dua halaman dari masa 1930-an itu pantas jadi ingatan usaha mengajak orang-orang mengerti tata cara menulis cerita pendek.

Baca lebih lanjut

Kamus Sinonim: Langka dan Lupa

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 30 Jan 2017

Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) menjelaskan: “Dibanding dengan jenis-jenis kamus lainnya yang banyak beredar, tesaurus atau kamus sinonim dalam bahasa Indonesia tampaknya lebih langka, dan yang ada itu pun terasa kurang memadai.” Usaha membuat tesaurus berlangsung lama, berbekal keseriusan dan kesabaran. Dalam mukadimah, Eko Endarmoko berharap: “Demikianlah, tesaurus ini menyajikan sebanyak mungkin sinonim kata dan kelompok kata dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat sekaligus mengayakan kosakata serta membantu pemakainya mendapatkan ungkapan yang tepat untuk sesuatu konsep dan nuansa yang paling cocok dalam konteks tertentu.” Puluhan tahun sebelum penerbitan Tesaurus Bahasa Indonesia, Harimurti Kridalaksana telah mempersembahkan Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Kamus itu menjadi referensi Eko Endarmoko meski mendapat kritik “kurang lengkap” dan sajiannya belum sistematis.

Baca lebih lanjut

Badjoe

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 21 Nov 2016)

Pada 1917, terbit buku tebal berjudul Encyclopaedia van Nederlandsc-Indie dengan redaksi J. Paulus. Segala hal yang berkaitan di tanah jajahan mendapat pembahasan ringkas dan jelas. Di halaman 101, ada istilah “badjoe”. Penjelasan mengacu ke asal bahasa: Persia dan Sanskerta. Di tanah jajahan, pelbagai etnis memiliki sebutan berbeda untuk baju. Di Jawa, baju itu klambi atau rasoekan. Di Sunda, baju berarti raksoekan. Di adab Melayu, baju biasa mendapat sebutan kabaja. Segala keterangan pendek dan tak terjamin benar meski sudah menghuni ensiklopedia buatan sarjana Belanda. “Badjoe” itu dianggap penting dalam memahami identitas, adab, dan estetika di tanah jajahan.

Baca lebih lanjut

Madong Lubis: Lagu dan Buku

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 24 Okt 2016)

TIGA tahun sebelum peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda, Madong Lubis (1890-1959) mempersembahkan lagu-lagu bocah. Lirik lagu berbahasa Indonesia. Kita menganggap sebutan bahasa Indonesia sudah berlaku sebelum 1928. Sebuah lagu mungkin bukti kecil untuk melacak geliat bahasa Indonesia. Madong Lubis memajukan bahasa Indonesia melalui lagu-lagu merdu, sebelum rajin menulis buku pelajaran bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Dangdut

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 16 Mei 2016)

Perawan apaan? Emangnya gua perawan? Lu sendiri udah berapa kali main dangdut sama gua.” Kalimat itu diucapkan tokoh bernama Mercedes Marpaung dalam novel berjudul Generasi Gegap Gempita (1978) garapan Remy Sylado. Novel itu pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah TOP, 1975, berjudul Bowat! Bowat!. Pembaca mungkin tergoda oleh pengakuan “main dangdut” di kalimat Mercedes. Mengapa dangdut berhubungan dengan keperawanan? Apa itu main dangdut? Kita tak bisa memastikan “main dangdut” adalah bermain musik dangdut. Pembaca justru menduga pengarang sengaja menulis “main dangdut” cenderung ke peristiwa sanggama.

Baca lebih lanjut

Gembong

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 28 Mar 2016

Sebutan gembong khas dalam pemberitaan kasus-kasus narkoba. Kita simak berita di koran-koran mengenai penangkapan Joaquin Guzman di Meksiko, 8 Januari 2016. Berita di Kompas, 11 Januari 2016, berjudul “Sean Penn Bertemu Si Gembong”. Kalimat pembuka berita: “Kisah tertangkapnya kembali gembong narkoba ‘El Chapo’ Guzman, Jumat pekan lalu, bagaikan kisah film.” Berita berjudul “El Chapo Dilacak Berkat Aktor Sean Penn” di Republika, 11 Januari 2016, diawali dengan kalimat: “Penangkapan gembong narkoba Joaquin ‘El Chapo’ Guzman ternyata berkat wawancara rahasia yang dilakukan aktor Hollywood, Sean Penn.” Media Indonesia, 11 Januari 2016, memuat berita berjudul “Bos Kartel Narkoba Dideportasi ke AS”. Pembaca menemukan tiga kali penggunaan sebutan gembong. Isi berita cenderung ke sebutan gembong: “Kejaksaan Agung Meksiko, Sabtu (9/10) waktu setempat, mengumumkan akan memproses ekstradisi gembong narkotika dan obat terlarang (narkoba) Joaquin ‘El Chapo’ Guzman Loera ke Amerika Serikat (AS).” Majalah Tempo edisi 18-24 Januari 2016 memuat berita berjudul “Terhubung Berkat Si Hermosa”. Sebutan gembong digunakan tiga kali. Kalimat awal di berita: “Aktor Sean Penn mewawancarai gembong kartel narkotik Sinaloa yang tengah jadi buron.”

Baca lebih lanjut

Bahasa Melajoe

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 18 Jan 2016

Teks Bahasa Melayu (Sumber: Djadoel Antik BamBim)

Pada 1920-an, buku-buku mengenai bahasa dan sastra sering menggunakan sebutan Melajoe. Buku digunakan dalam pelajaran di sekolah atau bacaan umum. Buku-buku itu agak memicu penasaran mengenai keseringan sebutan Melajoe ketimbang Indonesia. Para tokoh politik kebangsaan, sastrawan, dan wartawan mulai berikhtiar mengenalkan Indonesia sebagai gagasan dan imajinasi. Ikhtiar serius belum memberi pengaruh besar dalam penentuan kurikulum pendidikan kolonial atau penerbitan buku. Sebutan bahasa Indonesia memang ada dalam Sumpah Pemuda (1928) meski tak gampang menular ke penerbitan buku atau penentuan pelajaran di sekolah.

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia dan Perempuan

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 9 Nov 2015

Ilustrasi: Kongres Perempuan Indonesia I, 22 Desember 1928 (Mindtalk)

Pada 1978, Sujatin Kartowijono mengenang kejadian-kejadian bersejarah. Gairah kemodernan dan nasionalisme diejawantahkan melalui perkumpulan Wanito Utomo dan Putri Indonesia. Berita Sumpah Pemuda (1928) membuat Sujatin berdebar, tapi bersemangat memajukan bangsa. Sujatin ingin “kaum wanita harus dibangkitkan” dan “diberi semangat nasional”. Dua bulan setelah Sumpah Pemuda, Sujatin bersama para tokoh perempuan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Ingatan penting dari masa lalu: “… bahasa Indonesia dipergunakan dalam sambutan dan uraian.” Kaum perempuan membuktikan isi Sumpah Pemuda dengan berbahasa Indonesia!

Baca lebih lanjut

September

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 28 Sep 2015

Ilustrasi: Artboiled

Sejarah Indonesia memuat polemik singkatan dan akronim untuk menjelaskan kejadian. Kemunculan singkatan dan akronim membuat sejarah menjadi ringkas dalam penulisan atau pengucapan. Singkatan tak selalu berirama. Akronim cenderung bernada-berirama. Di Indonesia, pembuat singkatan dan akronim memiliki pamrih-pamrih ideologi, linguistik, dan sejarah. Mereka turut mendefinisikan kejadian sebelum terpahamkan sebagai sejarah bergelimang makna. Singkatan dan akronim tak cuma mendokumentasikan kejadian berwujud ringkas, tapi juga berperan sebagai alat atau modal pengisahan sejarah.

Baca lebih lanjut