Mudik, Hilir, dan Balik

Beni Setia*, KOMPAS, 24 Jan 2015

PENGALAMAN 25 tahun hidup di tengah budaya Jawa membuat saya terkadang berpikir, mudik itu akronim menuju ke udik. Sebuah kerangka berpikir biner, yang mengontraskan pedalaman yang ketinggalan dan agraris dengan kota yang modern dan bersifat industrial dengan pekerja formal dan informal yang mengelilingi dan menunjang buruh yang dibayar murah. Saya curiga, narasi ini tak bermula dari riset lapangan dan penjelajahan bacaan, melainkan melulu hasil akrobat kata ala Jawa, uthak-athik gathuk, kutak-kutik (tapi) ngepas.

Baca lebih lanjut

Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Baca lebih lanjut

Jalan Tol

Beni Setia*, KOMPAS, 21 Sep 2013

Terkadang orang menyinonimkan kata majemuk jalan tol dengan jalan bebas hambatan meski lema tol itu tidak berarti ’bebas hambatan’. Memang jalan itu sangat tidak menoleransi hambatan bagi pemakainya sehingga jejalurnya diisolasi dengan pagar pengaman (dengan merujuk kepada kecepatan minimal kendaraan pemakai jalur), tetapi ketika kita memasuki jalan itu dan akan menggunakannya secara sewa pakai, kita harus melewati pintu tol.

Baca lebih lanjut

Teks Suroboyoan

KOMPAS, 9 Nov 2012. Beni Setia, Pengarang

Sumber gambar: Loker Direktori

Catatan Rainy MP Hutabarat, ”Koaya Roaya” (Kompas, 7/9/2012), jernih menandai dua gejala berbahasa. Pertama, masuknya sisipan u di suku kata awal satu kata, yang secara lisan menandakan ada peningkatan level kuantitas serta kualitas makna (kata) awal.

Setahu saya, cara itu dipinjam dari tradisi berbahasa lisan di Surabaya, subdialek bahasa Jawa. Secara teknis, peningkatan makna (kata) enak dilakukan dengan menyisipkan partikel u ke suku kata pertama (vokal e) dan bukan suku kata berikutnya (nak). Hingga secara tekstual tertulis uenak, meski orang sering memakai versi transliterasi lisan uee-nak.

Pilihan meletakkan sisipan u sebelum vokal menyebabkan ba-nyak jadi bua-nyak, can-tik jadi cuan-tik, ka-ya jadi kua-ya. Sekaligus lu-ar (biasa) seharusnya tertulis luu-ar (biasa), meski pelafalan meleburkan u tambahan dan l jadi panjang.

Baca lebih lanjut