Literasi

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 26 Des 2016)

Sebuah kata baru telah lahir dalam tubuh bahasa Indonesia, bernama literasi. Sulit untuk memastikan tahun kelahirannya, juga siapa yang melahirkannya. Sepertinya ia balita, atau—paling sedikit—masih kanak-kanak. Kata ini belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. Di kalangan yang merasa terdidik, kata literasi sangat populer dan diucapkan terus-menerus, tidak hanya oleh kalangan ilmiah, tapi juga oleh mereka yang mengurus perihal kesusastraan, termasuk sastrawan sendiri. Kata itu dilekatkan pada kegiatan akademis dan sastra yang bertemakan—misalnya—”budaya literasi” atau “pesta literasi”.

Baca lebih lanjut

Bahasa Sederhana

Berthold Damshäuser*, Majalah Tempo, 3 Nov 2014

Saya baru mengetahui—melalui sebuah laporan di majalah Spiegel—bahwa istilah leichte sprache (bahasa sederhana atau mudah) di Jerman adalah istilah baku yang tercantum dalam peraturan hukum Jerman. Istilah ini berkaitan dengan bahasa yang wajib digunakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, termasuk lembaga pemerintahan, antara lain kementerian.

Baca lebih lanjut

Merenungkan Makna (PDIP)

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 14 Jul 2014)

Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

“Pak,” tanya seorang mahasiswa, “kami sempat membaca tulisan Bapak di kolom Bahasa majalah Tempo edisi 24-30 Juni 2013, yang berjudul ‘Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia’. Lepas dari kenyataan bahwa tulisan sok filosofis itu tidak lebih dari sebuah laporan biasa, kami kurang memahaminya, dimulai dari judulnya.”

“Lho,” pikir saya, “bukannya bangga tulisan guru mereka dimuat di majalah terpandang, mahasiswa saya malah mengkritik.” Tapi, ya, tak apa, daripada kesal, lebih baik memasang wajah ilmiah dan bereaksi dengan sabar: “Barangkali konsep ‘manusia Indonesia’ yang kurang jelas. Mari saya terangkan.”

Baca lebih lanjut

Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 23 Jun 2013)

Seseorang mengirim surat elektronik yang mengatakan kolom Bahasa saya dirindukan. Tentu saya gembira membacanya, meski heran juga, mengapa laporan saya tentang diskusi mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn diminati, bahkan dirindukan. Bukankah dalam kolom itu saya selalu melaporkan argumentasi mahasiswa yang aneh-aneh dan membingungkan? Tak mungkin itu yang diminati. Akhirnya saya yakin bahwa laporan saya diminati dan dianggap berguna semata-mata karena luasnya wawasan sang dosen yang bisa menjadi tauladan bagi dosen-dosen di Indonesia. Bersenjatakan ilmu dan kesabaran, sang dosen rupanya sanggup membimbing muridnya ke arah kebenaran, seperti terbukti lagi beberapa minggu yang lalu.

“Pak, boleh saya bertanya? Apakah manusia Indonesia, andai ada fenomena yang dinamakan ‘Manusia Indonesia’, telah mengalami perkembangan atau evolusi?” seorang mahasiswi membuka diskusi.

Baca lebih lanjut

Jati Diri dan Bahasa Indonesia

Berthold Damshauser*, Majalah Tempo, 21 Apr 2013

Lapor. Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi pada jam mata kuliah di Jurusan Indonesia Universitas Bonn. Diskusi itu bermula dari pertanyaan seorang mahasiswa.

“Menurut Bapak, apa ciri khas budaya Indonesia dan bertolak dari itu di mana kira-kira identitas atau jati diri bangsa Indonesia?”

Gembira atas pertanyaan segampang itu, saya memasang wajah ilmiah dan menjawab, “Bangsa Indonesia dan itulah ciri juga jati dirinya adalah bangsa pemilik filosofi agung bernama Pancasila. Berkat filosofi itu, yakni berdasarkan keyakinan akan Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia gigih mempertahankan persatuan dan kesatuannya, berjuang menyempurnakan kerakyatan alias demokrasi, juga demi semakin meluasnya keadilan sosial serta meningginya peradaban, yaitu dengan tidak pernah melupakan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.”

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia dan Puisi

Majalah Tempo, 18 Nov 2012. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Sumber gambar: dumais.us

Sumber gambar: dumais.us

Sudah saatnya saya melapor lagi tentang sebuah diskusi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Bayangkan! Di antara mahasiswa saya ada yang tertarik pada puisi Indonesia! Bahkan ada yang mencoba menerjemahkannya ke bahasa Jerman. Namun upaya itu mengakibatkan mereka frustrasi.

“Pak, susah sekali memahami teks berbagai puisi Indonesia. Kami bingung, lalu bertanya kepada teman kami, orang Indonesia, apa kiranya maksud kalimat-kalimat tertentu. Jawaban yang kami terima belum jelas juga karena teman-teman Indonesia memberi keterangan yang sangat berbeda, bahkan bertentangan.”

“Lho,” jawab saya, “puisi memang memungkinkan banyak tafsiran.”

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia sebagai Cermin?

Majalah Tempo, 20 Feb 2012. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Bonn; Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok.

“Pak, teks ini tak dapat kami terima. Sajikan dong teks yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau tidak ada, kami mohon kuliah ini digunakan untuk membahas tema lain. Bukankah telah lama Bapak berjanji menyampaikan renungan Bapak tentang perkembangan bangsa Indonesia?“

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia

Majalah Tempo, 14 Nov 2011. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Ini laporan tentang sebuah diskusi mengenai “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia”. Diskusi itu melibatkan mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan dosennya (saya sendiri).

Pada salah satu kuliah bagi mahasiswa tingkat akhir program master, saya berupaya menanamkan rasa bangga di hati mahasiswa yang sudah lima tahun dengan tekun dan tabah mempelajari bahasa Indonesia: “Tak lama lagi, Anda akan tamat. Perlu kiranya Anda ketahui bahwa bahasa yang kini cukup Anda kuasai berpeluang besar menjadi ‘bahasa dunia’, ‘bahasa internasional’, atau ‘bahasa peradaban dunia’. Tentang itu telah banyak tulisan di berbagai media Indonesia.”

Baca lebih lanjut

Bahasa Pancasila

Majalah Tempo, 8 Agu 2011. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Ini sebuah cerita tentang bahasa Indonesia yang digunakan dalam teks Pancasila. Diskusi ini terjadi di  kelas bahasa Indonesia, semester dua, Universitas Bonn, Jerman.

Pada saat di ruang kuliah ketika kami membahas imbuhan ke-an, saya suka menggunakan teks Pancasila sebagai bahan ajar. Mahasiswa mendekati teks Pancasila tanpa terbebani pengetahuan kontekstual tentang “makna” atau “pesan” kelima sila itu. Maka mereka berupaya memahami Pancasila secara filologis: memaknakan kata dan kalimat dengan berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan akal sehat.

Baca lebih lanjut