Memanjatkan Doa

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 6 Mei 2017

Dalam koran dan majalah sudah jarang sekali kita membaca kontur “memanjatkan doa”, apalagi dalam media cetak di Medan. Frasa itu dihindari dan telah menjadi semacam tabu karena ulah seorang ahli bahasa yang sangat kondang suatu ketika. Logikanya begini: “Apakah doa itu sejenis beruk yang kita suruh memanjat pohon kelapa lalu sampai di atas memetik buahnya dan melemparkannya ke bawah lalu kita memungutnya?” (lihat: Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa, Depdiknas, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm 76). He-he-he, betul juga!

Baca lebih lanjut

Metode Pendidikan

Damiri Mahmud* (Kompas, 17 Des 2016)

Saya setuju dengan kesimpulan Yanwardi dalam rubrik ini yang terbit pada Sabtu, 5 November 2016: ”Keterterimaan suatu bentukan bahasa adalah masalah sosial, bukan gramatikal.” Kasus kata bentukan pembelajar itu hampir sama dengan membawahi-membawahkan dan mengatasi-mengataskan yang digulirkan oleh ahli bahasa beberapa waktu sebelumnya sehingga ramai juga dibicarakan. Akhirnya tenggelam sendiri. Bahkan, media cetak yang cepat menerima hal-hal baru tampak kebingungan menggunakannya. Sebabnya ya, itu tadi, dalam masyarakat kita telah mengakar istilah membawahi dan mengatasi, tak dijumpai membawahkan dan mengataskan. Memang benarlah bahwa suatu bentukan bahasa merupakan masalah sosial.

Baca lebih lanjut

Lalia atau Celoteh

Damiri Mahmud* (Kompas, 15 Okt 2016)

Menurut penyelidikan para antropolog, tidak ada satu bukti pun bahwa manusia prasejarah hingga periode manusia Neanderthal dapat berkomunikasi atau mengekspresikan dirinya dengan bahasa. Menurut catatan para ahli, suara atau komunikasi yang dapat mereka ucapkan hanya pada tingkat lalia, kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘berceloteh’ atau ‘mengoceh’. Lalia itu tidak bisa digunakan untuk berbicara atau bertukar pikiran;  hanya untuk mendorong perbuatan atau mengisyaratkan suatu kejadian penting dalam kehidupan kelompok.

Baca lebih lanjut

Remaja Putri

Damiri Mahmud* (Kompas, 1 Okt 2016)

Dalam bahasa Arab ada kelas kata muzakkar (maskulin) dan muannas (feminin). Salah satu cara mengenal kelas kata muannas ialah dengan menambahkan huruf ta-marbutah ke dalam kata itu. Misalnya ’abid untuk maskulin dan ’abidah untuk feminin, amin menjadi aminah. Di negeri kita penanda itu telah dilekatkan salah kaprah. Seorang lelaki yang baru pulang dari melaksanakan ibadah haji diberi gelar Haji, misalnya Haji Abdullah, sementara perempuan disebut Hajah Siti Aminah. Padahal, di negeri Arab sendiri kata hajah tidak dikenal, sementara kata haji adalah kelas kata verba, bukan nomina.

Baca lebih lanjut

Kenyam

Damiri Mahmud* (Kompas, 23 Jul 2016)

Dalam artikel “Lekat di Lidah, Sulit Dilupa” yang tersua di Kompas terbitan Minggu, 3 April 2016, ada kalimat “Pada setiap sesapannya, jejak kopi terasa mencuri dan mendominasi lidah.” Kemudian ada pula kalimat “Banyak pelanggan yang menyesap kopi sambil bermain catur.” Yang menarik perhatian pada kalimat itu adalah kata sesap serta bentukan sesapan dan menyesap.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Dongeng

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 20 Feb 2016

Berbahasa adalah proses dari perjalanan kebudayaan yang panjang. “Bahasa menunjukkan bangsa” sungguh tepat. Apabila kita  mencoba mengganti sebuah istilah yang telah kita pakai cukup lama, sadar atau tidak sadar kita telah memutus mata rantai kebudayaan itu. Jadi, bahasa adalah manifestasi suatu kebudayaan dari mana kita bisa melihat jejak dan perilaku suatu bangsa. Mengapa orang Inggris menyebut negerinya sebagai fatherland dan mengapa pula kita menyebut Indonesia sebagai Ibu Pertiwi? Ini tentu menghendaki penjelasan yang panjang tentang akar kebudayaan masing-masing.

Baca lebih lanjut

Gonta-ganti Istilah

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 14 Nov 2015

Ilustrasi sekolah (Sumber: Tabung Wakaf Indonesia)

Dalam seluk-beluk bahasa dikenal apa yang disebut dengan istilah. Waktu saya mengaji dulu, dipelajari apa yang disebut dengan makna lughat dan makna isthilah. Makna lughat adalah arti yang tersurat, sedangkan makna isthilah adalah arti khusus atau tersirat. Dicontohkan arti lughat kata shiyam adalah ’menahan’, sedangkan arti isthilah-nya ’menahan diri dari yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari’.

Baca lebih lanjut