Bahasa dan Perempuan

Lampung Post, 20 Jul 2011. Diah Meutia Harum, Pencinta Bahasa

Sebuah masyarakat dikonstruksikan oleh budayanya. Dalam hal ini, bahasa sebagai faktor penting yang berperan dalam kebudayaan terbentuk oleh budaya darimana masyarakat tersebut berasal. Indonesia dengan berbagai suku dan budaya memang kental dengan budaya patriarki. Masyarakat yang terhegemoni baik dengan tatanan maskulin maupun feminin tentu saja berperan penuh dalam pembentukan bahasa.

Luce Irigaray, seorang linguis dan feminis asal Prancis, menguraikan bagaimana pengaruh bahasa terhadap subjektivitas, terutama subjektivitas perempuan, sekaligus menegaskan bahasa harus berubah agar subjektivitas perempuan dapat dikenali di ranah budaya. Luce Irigaray secara khusus menyoroti pembedaan gender dalam bahasa Prancis yang memang menandai bahasanya secara spesifik dengan identitas laki-laki dan perempuan. Bagaimana dengan bahasa Indonesia?

Baca lebih lanjut

Iklan

Turun ke Bawah, Pleonasmekah?

Lampung Post, 11 Mei 2011. Diah Meutia Harum, Pemerhati bahasa dan bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

DALAM sebuah perbincangan di Kantor Bahasa, seseorang dari kami berceletuk, “Turunlah ke bawah!” Yang lain menyanggah dengan tenang, “Tentulah ke bawah, kalau turun. Lalu, mengapa mesti turun ke bawah?” Ujung-ujungnya, muncullah istilah pleonasme, muara dari perbincangan itu.

Bahasa adalah sistem lambang yang bersifat mana suka, hasil kesepakatan bersama antarpemakainya, yang digunakan oleh masyarakat untuk mengadakan interaksi. Dalam berinteraksi acap dijumpai pemakaian kata-kata yang berlebihan. Kata-kata yang berlebihan dalam pemakaian itulah dikatakan pleonasme. Pleonasme dari kata Latin “pleonasmus”, artinya “kata berlebih-lebihan” (Badudu, 1985: 55). Pleonasme dalam bahasa berarti pemakaian kata yang berlebihan-lebihan, yang sebenarnya tak perlu.

Benarkah “Turunlah ke bawah, pleonasme?”

Baca lebih lanjut

Kritik dalam Mengkritik

Lampung Post, 17 Mar 2010. Diah Meutia Harum, S.S.: Staf Subbidang Pembinaan, Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

SETELAH membaca tulisan Saudara Asarpin tentang mengkritik dan mengkritisi, saya tergelitik untuk turut sumbang saran dalam rangka memenuhi hak jawab saya. Sampai beberapa waktu lalu, saya tidak mengetahui bahwa Saudara Asarpin dalam rubrik Laras Bahasa tanggal 29 Juli 2009 mempertanyakan tulisan saya yang dimuat dalam rubrik ini juga pada tanggal 8 Juli 2009 yang lalu, sehingga saya mohon maaf apabila saya lambat dalam menuliskan tanggapan.

Baca lebih lanjut