Sesuatu

Lampung Post, 8 Feb 2012. Dian Anggraini.

“Selamat Lebaran ya, semoga bisa menjadi sesuatu, Alhamdulillah bisa jadi sesuatu di bulan Ramadan ini.” “Sesuatu enggak menurut kamu?”

Bisakah Anda menebak kutipan kalimat siapakah itu? Saya yakin, dari anak kecil hingga orang tua bisa menjawab pertanyaan ini. Penutur tersebut pasti Syahrini, mantan teman duet Anang Hermansyah yang kini fenomenal.

Demam Syahrini kini menjangkiti masyarakat kita. Tidak hanya eksistensi berbusananya yang ditiru, gaya bicara juga menjadi tren. Kata “sesuatu” begitu populer. Rekan-rekan selebritas Syahrini pun mulai ketularan dan latah mengucapkannya saat disorot kamera.

Ia mengaku banyak orang yang mengikuti kata “sesuatu.” Namun, salah menggunakan kata tersebut dalam kalimat. Lalu, ia pun mengajari bagaimana cara memakai kata “sesuatu” yang benar menurutnya. “Kalau habis dandan aduh cantiknya, sesuatu banget,” ujar Syahrini. Ia juga mencontohkan bagaimana pengucapan kata sesuatu itu dilontarkan. “Harus lemah gemulai ngomongnya,” kata Syahrini.

Baca lebih lanjut

Iklan

‘Dua Family’

Lampung Post, 21 Des 2011. Dian Anggraini, Staf Kantor Bahasa Provinsi Lampung

LEBIH dari sebulan terakhir, mata saya selalu tertuju pada sebuah rumah makan bernama Dua Family. Rumah makan yang kini tumbuh bak jamur di musim hujan itu mengusik rasa penasaran saya, tidak hanya pada menu yang ditawarkan melainkan pula cara penyajiannya.

Dilihat dari namanya, pastilah rumah makan tersebut menyajikan dua jenis masakan, Barat dan Timur. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika si pemilik kaya kreativitas, ia menciptakan kuliner baru dengan mengombinasikan kedua masakan tersebut, yang pastinya menggugah selera makan kita. Rasa pedas dan kaya rempah khas Timur, bercampur dengan gurihnya masakan para bule. Pasti lezat, gumam saya.

Baca lebih lanjut

Lidah untuk Menggigit

Lampung Post, 30 Mar 2011. Dian Anggraini: Pemerhati bahasa, tinggal di Bandar Lampung.

Duduk berlama-lama di depan televisi sebenarnya bukanlah kegemaran saya. Akan tetapi, belakangan ini, nyanggong di depan layar kaca terpaksa saya lakukan. Bukan karena kepincut sinetron atau gosip selebritas, melainkan saya terusik iklan salah satu produk pasta gigi.

Seorang ibu muda dengan lugas bercerita tentang gigi sensitifnya. Kegemarannya makan es krim terganggu sehingga ia terpaksa menggunakan lidahnya untuk menggigit. Namun, masalah itu teratasi karena ia menggunakan pasta gigi “x”. Kini, Ia sudah tidak merasa ngilu lagi.

Sekilas memang tidak ada yang salah dengan gigi ataupun produk yang ditawarkan. Hanya saja, saya terganggu dengan diksi yang dipergunakan ibu itu. “Jadi, saya pakai lidah saya untuk menggigit es krim,” ujarnya. Beberapa kali saya berusaha menerjemahkan maksudnya, lidah untuk menggigit, tapi tetap saja imajinasi saya tak sampai.

Baca lebih lanjut

Bahasa Kedua

Lampung Post, 25 Agu 2010. Dian Anggraini, Pemerhati bahasa, tinggal di Bandar Lampung.

Jika Anda menonton film Obama Anak Menteng yang diputar di bioskop bulan lalu, mungkin perhatian kita tertuju pada pemeran Barry Soetoro atau Obama kecil. Sosok kecil pemeran presiden ke-44 Amerika itu sangat piawai berakting dan fasih berbahasa Inggris. Rasa penasaran itu membuat saya mencari tahu siapakah dia.

Hasan Faruq Ali, demikian namanya, berusia 14 tahun. Sekilas ia tak berbeda dengan anak-anak yang berasal dari Indonesia bagian timur. Berhidung besar, rambut keriting, dan berkulit gelap. Namun, dugaan saya salah. Hasan bukanlah orang Indonesia. Ia lahir di Questa, New Meksiko, Amerika Serikat, dari pasangan Shakur Ali (personel grup religi Debu) dan Naseem Nahid. Mengetahui biografi Hasan, saya tak heran bila ia pandai berbahasa Inggris.

Baca lebih lanjut