Bahasa Pasaran

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 25 Jan 2016

Sumber: Jogja News

Kalimat itu terpampang di papan kayu lusuh di depan bangunan rumah dengan tulisan tangan yang menggunakan cat kayu: “Jual-beli sekenan.” Papan pemberitahuan semacam itu kini semakin banyak kita temui di ruas-ruas jalan pinggiran kota. Di sekeliling papan itu banyak teronggok barang afkiran, dari potongan pagar besi, kusen jendela, lemari, mebel, kipas angin, kulkas, hingga televisi berbadan gemuk.

Baca lebih lanjut

Metafor

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 21 Sep 2015

Ilustrasi: Metaphor Geeks

Metafor atau perlambang rupanya juga mengalami musim; ada masa subur, ada masa paceklik. Setidaknya hal ini berlaku pada syair atau lirik lagu. Masa subur metafor tentang cinta dan kecantikan, misalnya, merentang dari zaman kemerdekaan sampai akhir 1980-an. Setelah itu, datanglah masa paceklik yang berlangsung sampai sekarang. Marilah kita simak beberapa lirik lagu yang digubah pada masa-masa awal itu:

Aryati dikau mawar asuhan rembulan
Aryati dikau gemilang seni pujaan (Ismail Marzuki, tanpa tahun)

Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan (Mochtar Embut, 1960)

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia dan Kelas Menengah

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 19 Jan 2015

Ilustrasi: City A.M.

Dua puluh lima tahun lalu, Dede Oetomo, sosiolog Surabaya, mengabarkan temuan menarik hasil penelitiannya tentang hubungan antara bahasa dan penggunanya di majalah Prisma edisi Januari 1989. Lebih spesifik, ia bercerita bagaimana kelas menengah Indonesia memilih ekspresi bahasanya.

Baca lebih lanjut