Rendra, Merendra, Munir, Memunir

MunirMajalah Tempo 28 Sep 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pemerhati politik dari Universitas Indonesia.

DI tengah hiruk-pikuk pemakaman Wahyu Sulaiman Rendra, 7 Agustus lampau, di Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, saya tercenung. Mengapa pentakziah tak semembeludak khalayak yang datang pada pemakaman Mbah Surip beberapa hari sebelumnya di tempat sama?

Tapi, segera saya menemukan jawabannya: Mbah Surip meninggal sebagai seorang selebritas, sementara Rendra sebagai orang besar. Selebritas menjadi terkemuka karena namanya. Orang besar terpandang karena jejaknya pada zaman.

Baca lebih lanjut

Politik Sapagodos

Majalah Tempo 27 Jul 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pemerhati politik dari Universitas Indonesia.

BERDEBAT ternyata bukan perkara kemahiran bersilat lidah, melainkan soal kebudayaan. Inilah catatan penting Pemilihan Presiden 2009 dari sisi kebahasaan.

Ketika beradu punggung, semua kandidat saling serang tajam atau saling sindir nyinyir. Tapi, ketika saling bersua wajah di panggung debat, mereka saling sepakat. Inilah ”politik sapagodos”.

Baca lebih lanjut

Koalisi

Majalah Tempo 8 Jun 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pemerhati politik dari Universitas Indonesia.

Setiap periode kekuasaan berpotensi menjadi ladang pembantaian kata-kata. Sebagai konsekuensi dari buruknya praktek politik semasa, kata-kata tertentu mengalami penurunan makna. Konotasi pemaknaan kata-kata itu terdegradasi dari netral atau positif menjadi negatif.

Baca lebih lanjut

’Akan’ Melawan ’Sudah’

Majalah Tempo 6 Apr 2009. Eep Saefulloh Fatah, pemerhati politik.

Saya yakin hari-hari ini Anda sedang merasa dikepung banyak janji. Janji itu terpampang di poster, spanduk, baliho, bendera, dan beragam atribut kampanye kandidat dan partai di jalan-jalan. Janji itu juga diudarakan lewat iklan televisi, radio, dan media cetak. Sejak 16 Maret 2009 lalu, janji itu juga disuarakan lewat arak-arak an dan panggung kampanye.

Baca lebih lanjut

Demokratisasi dan Politik Bahasa

Majalah Tempo 23 Feb 2009. Eep Saefulloh Fatah, Pengamat Politik.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain bangsa, lain proses demokratisasi, lain pula persoalan kebahasaannya.

Di Uni Soviet, penguasa komunis mempraktekkan politik dan ideologi monolitik. Keragaman diharamkan. Kebudayaan dan bahasa lokal pun dibunuhi secara sistematis selama tujuh dasawarsa.

Baca lebih lanjut

Titik Dua

Majalah Tempo 12 Jan 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pengamat politik.

Setiap kali mengirim kolom untuk media massa, saya selalu mencemaskan nasib ”titik dua” saya. Sangat sering terjadi, sang ”titik dua” tak jadi muncul dalam kolom yang diumumkan ke khalayak. Ia dihabisi para editor. Malang nian nasibnya.

Padahal, sebagai penulis kolom, saya menggemari titik dua. Bagi saya, ia wakil terbaik dari gagasan ekonomi kata sekaligus penggaris bawah yang efektif.

Baca lebih lanjut