Minuman Keras

F. Rahardi*, KOMPAS, 25 Feb 2017

Belakangan ini oplosan dan miras (akronim dari minuman keras) lebih sering digunakan oleh media massa dibandingkan dengan frasa minuman keras. Dua kata itu sering muncul di media massa terkait kematian peminumnya. Tren minum oplosan di Indonesia juga disebabkan kekeliruan memaknai minuman keras. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, minuman keras bermakna ’minuman beralkohol yang memabukkan, seperti bir, anggur, arak, tuak’.

Baca lebih lanjut

“Outbound”

F. Rahardi*, KOMPAS, 12 Sep 2015

Sumber gambar: Outbound Bogor Place

Diam-diam kata outbound—kadang-kadang ditulis outbond—telah masuk ke ranah publik. Di Taman Impian Jaya Ancol (DKI Jakarta), Taman Buah Mekarsari, dan Taman Safari (Jawa Barat) tersua baliho berisi informasi tentang keberadaan fasilitas outbound. Hampir semua fasilitas outbound itu berupa sarana permainan tali tinggi—dan yang paling terkenal flying fox—hingga kata outbound menjadi identik dengan flying fox, atau permainan tali tinggi, dan paling jauh hanya terkait dengan aktivitas rekreasi luar ruang.

Baca lebih lanjut

Gesekan

F. Rahardi*, KOMPAS, 18 Apr 2015

“Saya meminta agar (antar)institusi Polri-KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing,” itulah pernyataan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jumat 23 Januari 2015. Pernyataan itu dikeluarkan terkait penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto oleh Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI pada hari yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, gesek ‘sentuh’ dan ‘geser’; menggesek ‘menyentuh dengan gesekan’; gesekan ‘perbuatan menggesek’, ‘hasil menggesek’.

Baca lebih lanjut

Bambu Jepang

F. Rahardi*, KOMPAS, 12 Jul 2014

SAMBIL menunjuk deretan bambu hias di halaman kompleks perkantoran, seorang ibu bertanya kepada arsitek lanskap lulusan perguruan tinggi ternama. ”Itu bambu apa sih, Mbak?” Si mbak cepat sekali menjawab. ”Itu bambu jepang!” Ibu itu bertanya lebih lanjut. ”Apakah bambu itu memang berasal dari Jepang?” Setelah agak lama berpikir, mbak arsitek menjawab. ”Ya, pasti, dong. Mosok bukan dari Jepang disebut bambu jepang?” Padahal, bambu itu bukan dari Jepang, melainkan dari Thailand. Namanya juga bukan bambu jepang, melainkan bambu biara, Monastery bamboo, Thyrsostachys siamensis.

Mengapa bambu yang berasal dari Thailand di Indonesia bisa disebut sebagai bambu jepang, ya? Memang banyak komoditas dengan nama tempat tertentu yang asal-usulnya bukan dari tempat tersebut. Itik dan sawo manila bukan berasal dari Manila, Filipina, melainkan dari Amerika Selatan. Duku palembang bukan berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, melainkan dari Jambi. Asam selong bukan berasal dari Selong (Sri Lanka), melainkan dari Brasil, Amerika Selatan.

Baca lebih lanjut

Nasib Ternak Domba

F. Rahardi*, KOMPAS, 17 Mei 2014

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat populasi ternak domba di Indonesia pada 2013 sebanyak 14,5 juta ekor. Jumlah itu cukup besar, tetapi masih kalah dibandingkan dengan kambing yang berpopulasi 18,5 juta ekor. Meskipun populasi domba cukup besar, saya tak pernah menjumpai daging domba dijual di pasar atau pasar swalayan. Yang ada hanya daging kambing dan tentu saja daging sapi. Warung sate dan gule (gulai) domba juga tidak pernah saya temui. Yang ada selalu sate dan gule kambing.

Apakah 14,5 juta domba yang dipelihara peternak Indonesia itu tak pernah dipotong? Di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ternyata domba-domba itu juga rutin dipotong, dikuliti, dibersihkan, dan dagingnya dijual. Pada saat itulah nama domba menghilang, berganti dengan kambing. Selama ini daging domba memang selalu dipasarkan dengan sebutan ”daging kambing”. Ketika disate dan digule pun, namanya bukan sate dan gule domba, melainkan ”sate dan gule kambing”. Dalam bahasa Jawa, kambing dan domba memang sama-sama disebut wedus, yakni wedus jowo dan wedus gèmbèl.

Baca lebih lanjut

Merokok Membunuhmu

F. Rahardi* (KOMPAS, 29 Mar 2014)

BEBERAPA baliho iklan rokok di Jakarta mulai mencantumkan peringatan ”Rokok membunuhmu”. Ini merupakan pemanasan bagi pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tertanggal 24 Desember 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. PP ini sudah dilengkapi dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 tertanggal 1 April 2013 berikut lampirannya. Pada Juli 2014, PP dan Permenkes itu akan sepenuhnya diterapkan.

Jadi, mulai Juli tahun ini dalam kemasan rokok akan tercantum lima peringatan berupa teks dan gambar: (1) Merokok sebabkan kanker mulut; (2) Merokok membunuhmu; (3) Merokok sebabkan kanker tenggorokan; (4) Merokok dekat anak berbahaya bagi mereka; (5) Merokok sebabkan kanker paru-paru dan bronkitis kronis. Peringatan ini akan menggantikan peringatan sebelumnya yang berupa teks berikut: ”Peringatan Pemerintah: ’Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin’.”

Baca lebih lanjut

Karya Ilmiah

F. Rahardi*, KOMPAS, 2 Nov 2013

Dalam Pasal 35 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan tertulis: ”(1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam penulisan karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah di Indonesia; (2) Penulisan dan publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk tujuan atau bidang kajian khusus dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing.” Teks Pasal 35 UU ini secara jelas menunjukkan bahwa ada bentuk tulisan berupa karya ilmiah. Karya tulis populer selama ini dianggap sebagai antonim dari bentuk tulisan karya ilmiah.

Baca lebih lanjut

Tamu Wajib Lapor

F. Rahardi*, KOMPAS, 27 Jul 2013

Tulisan ”Tamu harap lapor” atau ”Tamu wajib lapor” banyak dijumpai di pos satpam (satuan pengamanan), di gerbang perkantoran, pabrik, juga perumahan. Maknanya, orang yang datang sebagai tamu di kantor, pabrik, atau kompleks perumahan itu diharapkan atau diwajibkan melaporkan sesuatu ke satpam yang berada di pos itu. Isi laporannya identitas diri, tempat yang dituju, orang yang akan ditemui, dan maksud kedatangan. Hal seperti ini wajar dalam suasana perang di sebuah pos militer, tetapi berlebihan di sebuah kantor, pabrik, apalagi kompleks perumahan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, tamu adalah orang yang datang berkunjung ke tempat orang lain atau ke perjamuan, atau orang yang datang untuk menginap (di hotel), untuk membeli-beli (di toko). Kamus, yang merupakan cermin pengertian masyarakat, mendeskripsi tamu sebagai pihak terhormat hingga wajib disambut, kalau perlu dijamu. Dan memang demikianlah yang terjadi selama ini. Masih menurut KBBI, lapor bermakna ’memberi tahu’. Misalnya lapor untuk masuk atau keluar meninggalkan hotel. Di sini tamu memang ”wajib lapor”, bahkan ketika meninggalkan hotel, tamu wajib melunasi semua tagihan yang menjadi beban dan tanggung jawabnya.

Baca lebih lanjut

Sewa dan Penumpang

KOMPAS, 10 Des 2010. F Rahardi: Sastrawan.

Rubrik ini pekan lalu berisi ”Matinya Penumpang”. Dalam tulisan itu Mulyo Sunyoto membuat hipotesis bahwa para pengemudi dan kenek bus pengangkutan umum di Jakarta menggunakan kata sewa, bukan penumpang, karena numpang berkonotasi gratisan, sementara sewa berkonotasi membayar. Hipotesis Mulyo ini salah. Sewa dalam konteks pengangkutan umum di Jakarta bukan berasal dari sewa bahasa Indonesia ’pemakaian sesuatu dengan membayar’, melainkan sewa dialek Medan dari bahasa Batak Toba yang memang berarti ’penumpang’.

Baca lebih lanjut

Juru Kunci

KOMPAS, 12 Nov 2010. F Rahardi: Penyair.

Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-DI Yogyakarta kembali meletus. Mbah Maridjan Sang Juru Kunci ikut jadi korban letusan. Frasa juru kunci kembali marak di media massa. Frasa ini mulai memasyarakat pada erupsi Merapi 2006. Ketika itu Mbah Maridjan menolak ikut mengungsi dan tetap bertahan di kampungnya. Kampung Kaliadem di sebelah timur Kinahrejo hancur diterjang awan panas. Sementara itu, Kinahrejo kampung Mbah Maridjan selamat. Mbah Maridjan lalu menjadi idola dan bintang iklan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, juru kunci adalah penjaga dan pengurus tempat keramat, makam, dan sebagainya. Dalam entri KBBI, kuncen diartikan ’juru kunci’. Juru kunci dalam KBBI diadopsi dari Baoesastra Djawa WJS Poerwadarminta, djoeroe koentji ’wong sing pinatah ngrekso pakoeboeran oetawa papan sing kramat’.

Baca lebih lanjut