‘Kamseupay’

Lampung Post, 15 Feb 2012. Febrie Hastiyanto, Bloger, peminat bahasa media sosial

Awal tahun 2012 ditandai dengan kembali populernya akronim “kamseupay” di media sosial kita. Kabarnya akronim ini pernah populer pada tahun 1980-an, bersamaan dengan lahirnya bahasa gaul kala itu semacam “doski”, “kawula muda” atau “yoi”—sebelumnya lema “yoi” diucapkan “yoa”, misalnya dapat kita simak dalam percakapan di seri-seri film Catatan Si Boy (Cabo).

Akronim dan kata bahasa gaul remaja Ibu Kota kala itu produktif diintroduksi antara lain melalui corong radio Prambors Jakarta. Kamseupay secara umum dipanjangkan menjadi “kampungan sekali uh payah”, sejumlah variasi tafsir kamseupay lahir seperti “kampungan sekali udik payah”, atau menganggap kamseupay sebagai kata, bukan akronim. Kalangan yang menganggap kamseupay sebagai kata umumnya mengartikannya sebagai “kampungan”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tanggal Ulang Tahun

Lampung Post, 18 Jan 2012. Febrie Hastiyanto, Penulis. Tinggal di Tegal Jawa Tengah

Perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia memang istimewa. Hanya saat bangsa ini memperingati ulang tahunnya itu kita menjadi familier (kembali) dengan singkatan “HUT” alias hari ulang tahun dan kata “dirgahayu”. Bila pada peringatan ulang tahun kemerdekaan digunakan istilah “HUT”, pada peringatan ulang tahun berdirinya daerah (kabupaten/kota atau provinsi) umumnya digunakan istilah “hari jadi”.

Berbeda ketika kita memperingati hari kelahiran seseorang yang lazim disebut “ulang tahun” saja. Sedemikian sering kita menggunakan singkatan HUT, sehingga membuat kita tak sadar bila singkatan ini berpotensi menyebabkan kekeliruan logika berbahasa.

Baca lebih lanjut

Kamus

Lampung Post, 7 Des 2011. Febrie Hastiyanto

Sesungguhnya penulis sekalipun tak luput dari kekeliruan. Dalam artikel saya sebelumnya, Pembobolan dan Penggelapan (27-7) saya tidak awas dalam membaca kamus. Saya membangun gagasan mengenai penggunaan kata bobol dalam pembobol dan pembobolan pada kasus-kasus kejahatan perbankan merujuk pada kamus, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online atau biasa disebut KKBI Daring yang diterbitkan Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. Saya kurang hati-hati mengutip lema bobol dengan kurang memperhatikan lema turunan dari bobol, yakni membobol dan pembobol.

Makna lema membobol yang keempat adalah mencuri uang (mengorupsi) dengan tipu daya (menipu pegawai atau pengawas, mempermainkan komputer, dsb) yang dapat digunakan dalam lema pembobol menjadi orang yang mencuri uang dengan tipu daya. Dengan demikian, gagasan saya bahwa pembobolan tidak sesuai dengan kaidah karena makna konotatifnya belum dimasukkan dalam KBBI sepenuhnya keliru, karena KBBI telah memasukkan makna konotatifnya yang dapat digunakan sebagai kata kerja dalam kasus-kasus kejahatan perbankan, termasuk perilaku koruptif pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Bahasa Lalu Lintas

Lampung Post, 24 Nov 2011. Febrie Hastiyanto, Pengguna jalan. Bergiat pada Kelompok Studi IdeA

LALU lintas dan jalan bersifat komplementer. Secara sederhana lalu lintas dapat dipahami sebagai pergerakan orang dan kendaraan di jalan. Untuk memudahkan pergerakan orang dan barang di jalan, lalu lintas dilengkapi dengan sistem tanda sebagai perangkat komunikasinya.

Sistem tanda dalam lalu lintas yang kita kenal di antaranya berbentuk bahasa (huruf, angka, dan kalimat), warna, isyarat, gambar (lambang), dan bunyi.

Bahasa dalam sistem lalu lintas sering kita baca ketika berkendara, tetapi beberapa di antaranya masih kurang tepat, baik efektivitas dan logika kalimat maupun pemilihan kata baku.

Baca lebih lanjut

Pembobolan dan Penggelapan

Lampung Post, 27 Jul 2011. Febrie Hastiyanto, Blogger, Tinggal di Tegal, Jawa Tengah

HARI-HARI terakhir kita akrab dengan istilah pembobol dan pembobolan. Istilah ini dikutip media ketika memberitakan kasus-kasus penggelapan dana milik nasabah bank.

Pembobol dan pembobolan juga digunakan untuk menyebut kasus-kasus penggelapan surat kredit (L/C) fiktif yang merugikan bank dan negara bila bank tersebut milik negara. Dalam kasus penarikan dana nasabah melalui ATM oleh orang yang tidak berhak, juga digunakan istilah pembobol dan pembobolan.

Apa sebenarnya arti kata bobol dan variannya, yakni membobol, membobolkan, kebobolan, pembobol, dan pembobolan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBIonline, bobol diartikan sebagai jebol atau rusak, dapat juga diartikan sebagai tembus.

Baca lebih lanjut

Sosiologi Eufemisme

Lampung Post, 18 Mei 2011. Febrie Hastiyanto, Penulis. Tinggal di Tegal, Jawa Tengah

ATAS nama kesantunan, kita telah terbiasa menggunakan bahasa yang memiliki pesan dalam makna harfiah, dan pesan dalam makna “yang diinginkan”, yang kita sebut sebagai eufemisme.

Seperti penggunaan idiom “lumayan” atau “dan lain-lain”. Bila ada seorang yang bertanya apakah seseorang cantik atau tampan, kebanyakan dari kita akan menjawab “lumayan”. Makna “lumayan” merupakan makna “antara”: antara cantik atau tampan dengan jelek. Bangsa kita tidak memiliki keberanian untuk menyebut seorang jelek, sekaligus tidak memiliki kebesaran hati untuk mengakui seorang tersebut benar cantik atau tampan.

Baca lebih lanjut

Untung Ada -Nya

Lampung Post, 20 Apr 2011. Febrie Hastiyanto: Bloger pada www.hastiyanto.wordpress.com dan www.masmpep.wordpress.com.

Dalam bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang saya tumpangi dalam perjalanan mudik ke Lampung, saya berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelah saya. Kami berkenalan, kemudian bercerita banyak hal, mengisi waktu perjalanan yang mulai menjemukan. Mungkin karena merasa telah akrab, kenalan baru saya itu bertanya: “rumahnya di mana, Mas?” Saya tertegun sejenak, meskipun mengerti maksudnya.

“Rumahnya di mana” merupakan kalimat yang sering kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari. Kata “rumah” bisa diganti dengan kata “nama”, “bapak”, “bekerja”, dan seterusnya. Saya kira realitas kebahasaan ini menunjukkan kekeliruan yang umum, antara menggunakan kaidah akhiran -nya, dan kesantunan di satu sisi. Selama saya bersinggungan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, saya mendapati kesan pertanyaan itu diucapkan untuk menyantunkan tutur berbahasa.

Baca lebih lanjut

Kos, Kontrak, Sewa

Lampung Post, 6 Apr 2011. Febrie Hastiyanto: Penulis. Tinggal di Tegal Jawa Tengah.

KITA mengenal istilah yang berbeda untuk satu konteks pemanfaatan ruang dan bangun milik orang lain yang berbayar. Semasa kuliah dulu, sebagai mahasiswa rantau saya mondok di rumah seseorang. Jadilah saya disebut anak kos. Pada masa itu, awal tahun 2.000, kos ditulis kost, sebagai kependekan dari in de kost.

In de kost menurut Wikipedia merupakan frasa dari bahasa Belanda yang artinya “makan di dalam”, istilah yang kemudian digunakan bagi seorang yang tinggal di rumah orang lain dengan membayar menurut jangka waktu tertentu, umumnya bulanan, sebagaimana ditulis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI mengindonesiakan in de kost menjadi indekos.

Baca lebih lanjut

Subjek Anonim dalam Diplomasi

Lampung Post, 23 Mar 2011. Febrie Hastiyanto: Penulis, tinggal di Tegal, Jawa Tengah.

BERITA dengan isu-isu diplomatik sering menggunakan nama kota, kawasan, atau ibu kota negara sebagai kata ganti subjek. Kita banyak mendapati kalimat-kalimat seperti: “Jakarta menyatakan belum mengambil sikap terkait sengketa perbatasan dengan Malaysia”. Penggunaan idiom Jakarta berpotensi bias dan sumir, terutama bila pertanyaanya menjadi: otoritas apa di Jakarta yang merilis informasi?

Representasi Pemerintah Republik Indonesia dapat melekat pada berbagai macam lembaga. Pemerintah Republik Indonesia dapat bermakna presiden, dalam hal ini Pak SBY langsung.

Baca lebih lanjut

Bahasa Waktu

Lampung Post, 9 Mar 2011. Febrie Hastiyanto: Penulis, tinggal di Tegal Jawa Tengah

Waktu sejatinya sesuatu yang bersifat eksak. Kita mengetahui satu bulan terdiri dari 28 sampai 31 hari. Atau satu jam terdiri dari 3.600 detik. Waktu juga bersifat melingkupi sehingga penggunaan kata kerja pada bilangan waktu dianggap kurang tepat. Kita pasti telah familier dengan frasa “menyingkat waktu”, termasuk frasa sejenis seperti “membuang waktu” maupun kebalikannya “mengisi waktu”. Dalam adab kesantunan berbahasa kita, bila hendak membuat janji bertemu sering kita awali dengan frasa “apakah ada waktu (untuk bertemu)?”

Penyebab kekeliruan berbahasa kita secara sederhana disebabkan oleh dua hal, pertama karena ketidaktahuan dan sebab ini mendominasi kekeliruan berbahasa. Sebab kedua, ekses dari tata kesantunan. Entah mengapa kesantunan berbahasa kita identik dengan basa-basi dan celakanya melanggar kaidah berbahasa. Kita telah terbiasa berbahasa menggunakan rasa ketimbang kaidah.

Baca lebih lanjut