Dosa dalam Bahasa

Lampung Post, 9 Feb 2011. Febrie Hastiyanto: Pegiat kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

SEBAGAI anak kandung kebudayaan, bahasa bukan sesuatu yang bersifat nonetis alias bebas nilai. Preferensi sistem nilai seseorang memungkin pemilihan kata tertentu, juga dengan maksud-maksud tertentu. Saya tak hendak mendiskusikan preferensi ini secara benar atau salah menurut kaidah bahasa Indonesia yang benar, tetapi hendak memotret realitas kebahasaan secara sosiologis belaka.

Dalam banyak pidato atau sambutan, kita sering mendengar frase: “kurang dan lebihnya mohon maaf”. Termasuk frase “sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih”. Frase pertama berpotensi sumir, dan perlu sejumlah penegasan: mengapa ia harus minta maaf? Atas kekurangan apa, juga terhadap kelebihan yang mana. Begitu juga pernyataan terima kasih. Sesudah apa dan sebelum bagaimana.

Baca lebih lanjut

Bangsa Dua Suku Kata

Lampung Post, 5 Jan 2011. Febrie Hastiyanto: Pegiat Kelompok Studi Idea. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Kita sudah dikenal sebagai bangsa yang gemar bergosip, namun sering malas melafalkan kata-kata panjang. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang efektif memenggal kata sesuka hati, sekaligus produktif menciptakan rupa-rupa akronim. Menariknya, pemenggalan kata dan akronim dilakukan untuk membentuk kata baru yang umumnya terdiri atas dua suku kata.

Coba tengok nama-nama kota di Indonesia. Kota-kota yang namanya tersusun lebih dari dua suku kata dipenggal semaunya. Tanjung Karang dan Teluk Betung, misalnya menjadi Karang dan Teluk dalam pelafalan sehari-hari. Berbeda dengan Solo, Medan, Bandung, atau Kupang yang terdiri dua suku kata sehingga dilafalkan utuh. Bisa jadi banyak anak-anak kita hari ini menganggap Yogya (dilafalkan Jogja) sebagai satu kata utuh lupa pada “Karta”, sebagai bagian integral identitas Yogya.

Baca lebih lanjut