Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Setelah Menara Babel

Goenawan Mohamad* (Majalah Tempo, 10 Mar 2014)

Saya pernah mendengar seorang penyair bahasa daerah membaca puisinya dengan menarik dan kocak, dan kemudian mengatakan, “Bahasa Indonesia adalah bahasa imperialis.”

Saya tak tahu adakah ironi dalam ucapannya. Tapi, kalau tidak, ia lupa bahwa tiap bahasa-juga bahasa daerahnya-punya kemungkinan mendesak bahasa lain. Yang disebut bahasa “Sunda”, misalnya, atau “Jawa”, dapat dilihat sebagai bahasa yang dikonsolidasikan, dan sebagai akibatnya meminggirkan bahasa yang tak diakui sebagai “Sunda” atau “Jawa” yang “baik dan benar”. Dalam keadaan itu, bahasa Indonesia justru jadi alternatif yang membebaskan. Orang-orang dari tempat saya dibesarkan, di pesisir utara Jawa, yang hidup dengan bahasa “Jawa” yang dianggap tak pantas, akan lebih leluasa berbahasa Indonesia bila mereka bercakap-cakap dengan para priayi dari Surakarta.

Mungkin itu sebabnya bahasa Indonesia, yang tak dianggap sebagai asing, berkembang seperti sekarang.

Baca lebih lanjut