Adinegoro dan Ensiklopedia Berbahasa Indonesia Pertama

Hairus Salim H.S.* (Majalah Tempo, 9 Jun 2013)

Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan atau lebih dikenal sebagai Adinegoro (1904-1967) menyumbang banyak pada bahasa Indonesia karena dua buah karyanya yang bisa disebut “pertama” dalam bahasa Indonesia: Atlas Semesta Dunia (1952, bersama Adam Bachtiar dan Sutopo) dan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954).

Ensiklopedia yang dimaksud tidak istimewa sebenarnya. Ensiklopedia itu berukuran 14,5 x 21 cm, dengan tebal hanya 404 halaman, termasuk pengantar dan indeks. Tak ada gambar atau foto sebagaimana umumnya ensiklopedia yang dikenal di masa kini. Tapi ensiklopedia itu penting karena, seperti judulnya, menegaskan “¦dalam Bahasa Indonesia”. Artinya, Indonesia belum memiliki ensiklopedia sendiri. Ensiklopedia yang beredar saat itu hanya tersedia dalam bahasa Inggris atau Belanda, seperti Encyclopedia Britannica dan Winkler Prins.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Babu ke Pekerja Rumah Tangga

Majalah Tempo, 17 Mar 2013. Hairus Salim H.S., Penulis dan Editor

Kata-kata memiliki riwayat, makna, dan emosi. Kata-kata juga memiliki perubahan dan perkembangannya sendiri. Ada kata yang bertahan, ada kata yang hilang, dan ada kata baru yang muncul.

Jika membaca buku-buku atau tulisan-tulisan lama dalam bahasa Indonesia, kita pasti akan terantuk pada banyak kata yang kini tak lagi atau setidaknya jarang digunakan. Tentu saja kosakata itu hingga kini masih tertera di kamus bahasa Indonesia. Mengapa kata itu tak lagi digunakan dan apakah gantinya telah memadai?

Baca lebih lanjut

Sang Pemula

Majalah Tempo, 20 Jan 2013. Hairus Salim H.S., Penulis dan Editor.

MetonimiaDi kantor saya, setiap kali ada rapat atau diskusi kecil, usul untuk suguhan air minumnya selalu saja aqua. Tapi yang muncul sering bukan Aqua, bisa merek minuman lain yang jumlahnya sekarang menjamur. Aqua sendiri dalam bahasa Latin memang artinya air. Tentu istilah itu digunakan bukan karena keinginan menghidupkan bahasa Latin, melainkan karena Aqua adalah merek pertama air minum kemasan yang dikenalkan di Indonesia sejak 1980-an dan kini sangat populer.

Mirip dengan kasus aqua di atas adalah produk makanan mi dadak, istilah kamus bahasa Indonesia untuk menyebut makanan mi yang setelah dimasak sekejap sudah siap buat disantap. Meski kini ada banyak merek untuk jenis makanan yang paling menasional ini, orang tetap lebih sering menyebutnya supermi, yang boleh jadi merupakan merek mi dadak yang pertama. Jadi, kalau di sebuah kios kecil ada yang bilang ingin beli supermi, yang dimaksud belum tentu Supermi sebagai merek produk itu. Bisa juga merek lain yang kini jumlahnya telah mencapai puluhan.

Baca lebih lanjut