(Laki-Laki) Feminis

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 1 Mei 2017

Bila Hari Kartini selalu identik dengan kesetaraan gender untuk perempuan, kini sudah saatnya untuk memulai percakapan tentang isu gender dan laki-laki. Tidak mengherankan bila selama ini isu gender selalu dipersamakan dengan isu “perempuan”. Sebab, beragam wacana gender yang beredar di ruang publik selalu berkisah tentang tuntutan perempuan atas representasi jenis kelaminnya di parlemen atau kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual. Setidaknya itulah yang muncul ke permukaan umum, yang semakin lama memperkuat asumsi bahwa istilah gender sama dengan perempuan.

Baca lebih lanjut

Waria

Hendri Yulius* (Majalah Tempo, 30 Mei 2016)

Meskipun praktek keberagaman gender telah ada di berbagai budaya lokal masyarakat Indonesia, seperti komunitas Bissu di Makassar, “waria” atau “wanita-pria” sebagai penanda identitas yang berada di luar konteks budaya lokal mulai digunakan pada 1978. Sebelumnya, kata “wadam” atau “wanita-adam” dipopulerkan Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada akhir 1960-an dan digunakan untuk menggantikan penggunaan kata “bencong” atau “banci” yang terkesan merendahkan bagi seorang lelaki yang berperilaku feminin. Namun penggunaan kata itu mendapat protes dari kalangan agama yang tidak setuju kata “adam” digunakan untuk menamai kelompok ini.

Baca lebih lanjut

Gender

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 18 Apr 2016

Meskipun kata “gender” sudah menjadi bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari, ternyata kata ini sebenarnya tidak pernah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam aplikasi KBBI Online, yang mengacu pada KBBI Daring Edisi III, yang memiliki hak cipta dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata “gender” atau “jender” tidak ditemukan sama sekali. Satu-satunya kata yang berhubungan dengan gender dan dapat ditemukan dalam KBBI adalah kata “kelamin”, yang memiliki arti “1 jodoh (laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina); sepasang; 2 sifat jasmani atau rohani yg membedakan dua makhluk sbg betina dan jantan atau wanita dan pria”.

Baca lebih lanjut

Banci!

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 15 Feb 2016

Dalam hal seksualitas, bahasa Indonesia memiliki banyak keterbatasan. Saya menyadarinya saat mengajar kelas pengantar kajian queer di salah satu universitas terkemuka di Bandung. Sebagai sebuah kajian keilmuan yang relatif baru, dalam bahasa Inggris, kata queer memiliki sejarah yang rumit dan panjang.

Baca lebih lanjut