Pada Kecepatan Mereka Mengabdi

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 22 Mei 2017)

Pesan WhatsApp ini sering muncul di layar telepon seluler saya, sepintas mirip kode-kode ilmu nujum: “klo mo mkn dtg y, jgn php pls!” Lain hari muncul teks dalam bahasa Inggris: “Hi, w r y? PS: I’ll brb & tty abt dat 2day. Tx!” Di masa awal-awal dulu, teks yang membikin migrain ini saya kira salah ketik atau typo belaka. Seorang reporter muda di kantor redaksi kami menjelaskan kepada saya, huruf-huruf itu bukanlah typo. Dia lantas “menerjemahkan”-nya dengan cepat dan enteng:

Baca lebih lanjut

Iklan

Tak Cukup dengan Kata

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 7 Nov 2016)

Di ambang kampanye pemilihan kepala daerah, kata ini tiba-tiba bertebaran di halaman koran dan majalah, di judul-judul media online. Ia melesat dari bibir para reporter televisi dan radio. Ia melengketi upaya para calon kepala daerah beradu jago, saling jegal, baku sikut, menguar-uarkan puji, caci, fitnah kalau perlu. Pendek saja kata ini: pilkada.

Baca lebih lanjut

Imajinasi Menembus Bola

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 4 Jul 2016)

Di antara penggandrung sepak bola, saya masuk golongan anak bawang pasif. Saya tak menonton siaran pertandingan—di stadion apalagi. Saya belajar ihwal bola bila ada kewajiban menulis belaka. Walhasil, hubungan saya dengan bola jauhlah dari sikap berpihak yang penuh emosi, degup jantung, dan panas hati disertai puja dan cerca. Toh, tempik-sorak para wartawan yang menonton siaran babak penyisihan Piala Eropa 2016 selama tiga pekan terakhir membuat saya terpaksa aktif menjadi “penonton pasif”: tanpa nongkrong di depan televisi, saya bisa menandai hasil pertandingan hingga babak perempat final pekan ini lewat pekik-jerit mereka dari ruang redaksi di lantai tiga dan empat—ini jantung newsroom—Gedung Tempo.

Baca lebih lanjut

Dalam Belantara Dwibahasa

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 5 Okt 2015

Ilustrasi: Alboraq Translation Services

Sekali waktu, seorang kawan meminta saya membaca terjemahan pendek laporan feature seni pertunjukan yang dia tulis. Dia agak gugup karena ini pertama kalinya dia menerjemahkan—bukan mereportase dan menuliskannya sendiri. Naskah itu tak sampai dua halaman, tapi saya perlu menghimpun energi untuk menuntaskannya—karena ada banyak kalimat aneh. Salah satunya: “Setiap kali saya mencari pisang ketika melihat penampilan Alex. Dia fantastis.”

Baca lebih lanjut

Satu Bahasa, Tiga Dimensi

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 30 Mar 2015

Ilustrasi: Tempo

Leiden, akhir Maret 2014.

Tepuk tangan memecahkan ruangan Universitas Leiden, Belanda, begitu Boediono–Wakil Presiden Indonesia ketika itu–menutup kuliah umumnya. Rektor, para dekan, ahli-ahli Asia dan Indonesia, serta mahasiswa terus bertepuk tangan sembari mendekati sang dosen tamu untuk bersalaman pada siang musim semi itu.

Baca lebih lanjut

Puisi Metafora bagi Tuhan

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 7 April 2014)

Perjumpaan pertama saya dengan “puisi dan syair” terjadi di masa kanak-kanak dengan cara tak lazim di satu desa di pedalaman Flores Timur. Pada malam-malam terang bulan, kami, anak-anak sedesa, berkumpul di padang rumput kecil dekat rumah untuk mendengarkan cerita Perjanjian Lama dari seorang pastor Polandia yang mampir ke desa saban bulan. Kisah-kisah Perjanjian Lama bersumber pada peristiwa sebelum kelahiran Yesus. Babak setelah kelahiran Kristus termuat dalam Perjanjian Baru.

Duduk di atas sebuah batu, sang padri menatang satu buku setebal bantal. Itulah Alkitab “kuno” dengan Ejaan Van Ophuijsen. Yang melengketkan ingatan saya pada kelas-padang-rumput bukanlah “pelajaran agama”, melainkan story telling, penuturan, babak demi babak dari Kitab Kejadian, Keluaran, Raja-Raja, hingga Mazmur, Amsal, dan Shirakh-sekadar menyebut beberapa.

Baca lebih lanjut