Re, Kembali, atau Li

Majalah Tempo, 17 Okt 2011. Jajang Jahroni, Mahasiswa S-3 Jurusan Antropologi Boston University

Kalangan muslim modernis gemar membuat kata dengan awalan re (kembali): rekonstruksi, reinterpretasi, reformasi, reformulasi, revitalisasi, reaktualisasi, redefinisi, reorientasi, reorganisasi, rejuvenasi. Mulai Munawir Sjadzali sampai Nurcholish Madjid dan Azyumardi Azra, semua pernah berurusan dengan kata-kata di atas. Mengapa istilah ini lahir? Apakah ini hanya gaya untuk menunjukkan bahwa mereka pernah bersekolah di luar negeri atau berhubungan dengan sesuatu yang lebih serius?

Kemunculan kata-kata dengan awalan re- ini ternyata ada hubungannya dengan pola pikir kaum modernis, yang melihat agama (baca Islam) sebagai konsep yang ideal, universal. Sementara itu, pemahaman manusia tentang agama bersifat lokal dan temporer. Maka terjadilah dialektika antara yang lokal dan universal ini. Namun, dalam kurun tertentu, pemahaman masyarakat tentang agama mengalami kejumudan, kebekuan. Agama yang seharusnya membebaskan justru terasa membelenggu. Di sinilah perlunya pembaruan. Maka pembaruan menjadi isu penting kalangan modernis. Agama harus disegarkan, dipahami, dan dikembalikan pada sumbernya yang sejati, yaitu Al-Quran dan Al-Sunnah.

Baca lebih lanjut

Pasar Bahasa

Majalah Tempo, 15 Agu 2011. Jajang Jahroni, Mahasiswa S-3 Jurusan Antropologi Boston University, Amerika Serikat

Ilustrasi: iStockphoto

Kalau kita sepakat bahwa bahasa adalah pasar dan masing-masing dari kita adalah penjual sekaligus pembeli, yang diperlukan adalah eksperimentasi. Kita harus mencari, menemukan, dan mencoba kata-kata baru untuk mengatasi berbagai persoalan kebahasaan kita, terutama dari serbuan kata-kata asing. Setelah itu, pasar akan menentukan apakah eksperimen kita diterima atau ditolak. Orang atau lembaga yang punya kuasa memang memiliki peluang yang besar dalam melakukan hal ini. Pakar bahasa Anton Moeliono sering membuat kata baru. Kata “pencakar langit”, “jalan layang”, “pasar swalayan”, dan “nirlaba” adalah hasil temuannya. Polisi pun rajin membuat istilah baru untuk meringkas bahasa mereka, seperti “senpi” (senjata api), “lalin” (lalu lintas), “curanmor” (pencurian kendaraan bermotor), dan “narkoba” (narkotik dan obat berbahaya). Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kalau kita menyadari bahwa kekuasaan tidak terpusat pada orang atau lembaga tertentu, tapi tersebar, kita tidak perlu menjadi Anton Moeliono untuk menciptakan kata. Kita punya kekuasaan betapapun kecilnya. Orang yang menggunakan kata “unduh” untuk “download” dan “unggah” untuk “upload” dan menuliskannya dalam jejaring Facebook adalah orang yang sadar akan kekuasaannya dan kreatif.

Baca lebih lanjut