Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 28 Des 2015

Benedict Anderson (Sumber: LA Times)

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi.

Baca lebih lanjut

Pilkada atau Pemilukada?

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 26 Okt 2015

Ilustrasi: Ragam Lampung

Beberapa daerah tengah bersiap menyelenggarakan pilkada atau pemilihan kepala daerah. Karena itu, ada baiknya kita memperbincangkan istilah ini. Sebenarnya istilah mana yang tepat: pemilihan kepala daerah disingkat pilkada atau pemilihan umum kepala daerah disingkat pemilukada?

Baca lebih lanjut

Sopir, Toilet, Trotoar, dan Bangkrut

Joss Wibisono* (Majalah Tempo, 30 Des 2013)

Empat kata yang menjadi judul ini sekadar contoh kata Prancis yang telah kita serap ke dalam bahasa Indonesia. Dua kata di tengah, yakni toilet dan trotoar, masih mirip aslinya karena orang Prancis mengeja keduanya sebagai toilettes dan ­trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua kata yang lain sudah menyerap dalam ejaan bahasa Indonesia karena sopir dalam bahasa Prancis adalah chauffeur dan mereka mengeja bangkrut sebagai banqueroute.

Bagaimana mungkin kita bisa menyerap bahasa ini? Bukankah, lain dengan Vietnam, Laos, atau Kamboja, Indonesia tidak pernah dijajah Prancis? Penyerapan bahasa Portugis ke dalam bahasa Indonesia bisa dipahami karena Indonesia pernah dijajah demikian lama. Demikian juga proses penyerapan bahasa Belanda. Tapi bagaimana bisa bahasa Prancis menyerap ke dalam bahasa Indonesia? Ternyata penyerapan bahasa Prancis melalui dua proses: kita menyerap kata-kata Prancis melalui bahasa Belanda.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Nobel Kesusastraan

Joss Wibisono* (Majalah Tempo, 7 Okt 2013)

Sebagai pembuka, berikut ini dua dalil.

Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnya berkaitan erat dengan bahasa. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karya sastra. Keindahannya tak akan pernah bisa terungkap lewat medium selain bahasa. Pada akhirnya, apa boleh buat, sebuah karya sastra harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca, dipahami, dan dinilai untuk bisa memperoleh penghargaan tersebut.

Kedua, sungguh mustahil menyebut satu bahasa lebih indah daripada bahasa lain. Karena itu, hadiah Nobel Kesusastraan yang biasa diumumkan pada Oktober tiap tahun dianggap harus menyeluruh ke setiap benua, bukan hanya untuk karya berbahasa kolonial (antara lain Inggris, Prancis, dan Spanyol). Jika lima benua sudah mendapat giliran, kita bisa meninjau anak benua. Di sini langsung terlihat karya sastra kawasan Asia Tenggara selalu saja luput. Dimulai pada 1901, dalam 112 tahun sejarah penghargaan ini, tak seorang pun penulis Asia Tenggara pernah memperoleh kehormatan Nobel Kesusastraan.

Baca lebih lanjut

Melajoe Belanda

Joss Wibisono* (Majalah Tempo, 2 Sep 2013)

Tanggapan dosen Universitas Indonesia, Kasijanto Sastrodinomo, dalam kolom “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo, 19-25 Agustus 2013) terhadap kolom saya, “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Juli-4 Agustus 2013), sungguh menarik. Pendapatnya yang simpatik terbaca sebagai ajakan untuk berbalas pantun. Berikut ini sekadar “pantun balasan” itu.

Dalam “Bahasa Nasional”, saya jelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda bahwa bahasanya tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah terjajah. Pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding penjajah Eropa lain. Tapi itu sama sekali tidak berarti Belanda berpangku tangan dalam soal bahasa. Lingua franca Hindia Belanda mereka jadikan sasaran. Semula mungkin cuma iseng, tapi pada akhir abad ke-19 obok-obok bahasa Melajoe itu jadi serius, sampai akhirnya pada 1901 lahirlah peraturan ejaan Van Ophuijsen. Kenapa mereka melakukan ini? Apa perlunya mengutak-atik bahasa kaum inlanders kalau mereka tidak ingin kalangan terjajah fasih berbahasa Belanda?

Baca lebih lanjut

Bahasa Nasional

Joss Wibisono* (Majalah Tempo, 28 Jul 2013)

Bayangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnya jika bahasa Indonesia tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Aceh bisa memahami orang Papua? Jangankan Aceh di Sumatera dan Papua di Indonesia timur yang secara geografis adalah dua pulau yang terpisah itu. Tanpa bahasa nasional, warga satu pulau saja tampaknya sudah akan kesulitan untuk bisa bertutur kata. Di Sumatera saja: bagaimana orang Aceh di kawasan utara harus menyapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Sudah jelas, tiadanya bahasa Indonesia tak akan pernah terbayangkan.

Bahasa nasional kita memang layak dibanggakan juga karena kita tak perlu berbahasa Belanda, bahasa kolonial. Sudah sejak dulu kala nenek moyang kita di seantero Nusantara memiliki bahasa pengantar untuk berdagang, itulah bahasa Melayu. Awal nasionalisme Indonesia ditunjukkan dari bahasa. Pada 1928, para pemuda progresif memaklumkannya sebagai bahasa nasional, selain satu tanah air dan satu bangsa. Adakah penegasan bahasa nasional itu juga berarti penolakan bahasa Belanda?

Baca lebih lanjut

Bahasa Belanda di Nusantara: Dibayangi VOC

Majalah Tempo, 23 Jan 2012. Joss Wibisono, Jurnalis

Setiap bulan bahasa, ada sebuah pertanyaan yang terlewat dalam bagian ritual mengenang heroiknya Soempah Pemoeda. Pertanyaan penting itu adalah mengapa di masa kolonial, Belanda tidak mewajibkan kita berbahasa Belanda. Bukankah di Filipina, Spanyol memberlakukan bahasa mereka, seperti juga Portugal di Timor Lorosa’e dan Prancis di Indocina (yang kini bernama Vietnam, Kamboja, dan Laos)?

Kekuatan kolonial Eropa, yaitu Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugal, memang selalu membuat wilayah jajahan mereka menggunakan bahasanya sebagai bahasa komunikasi. Bahasa Inggris, Prancis, Portugis, dan Spanyol bukan saja menjadi bahasa pemerintah di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa pendidikan di sekolah-sekolah wilayah jajahan itu.

Baca lebih lanjut

Otoritas Bahasa: Perlukah?

Majalah Tempo, 20 Sep 2010. Joss Wibisono: Jurnalis.

PUSAT Bahasa, satu-satunya otoritas bahasa kita, terjerembap dalam kontroversi karena tuduhan menjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko. Tulisan ini mengajak pembaca mempertimbangkan perlu tidaknya lembaga ini.

Adalah Benedict Anderson yang mengajak kita untuk juga mereformasi bahasa Indonesia, setelah gegap-gempita reformasi politik dan ekonomi. Indonesianis senior ini datang dengan usul tersebut lewat sebuah kolom yang ditulisnya dalam ejaan Suwandi (berlaku 1947-1972) dan diumumkan majalah ini pada edisi terakhir 2001.

Baca lebih lanjut

Dari Mana Datangnya ‘Tuan’

Majalah Tempo, 5 Jul 2010. Joss Wibisono: Penyiar radio Nederland di Hilversum, Belanda.

Ismail Marzuki. Sumber: Wikipedia Indonesia.ADA baiknya tulisan ini diawali dengan dua larik syair lagu Juwita Malam, karya Ismail Marzuki (1914-1958).

Juwita malam siapakah gerangan tuan?
Juwita malam dari bulankah tuan?

Kemudian dua larik lagi, kali ini lagu Aryati, masih karya komponis yang sama:

Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan?
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam.

Belum jelas kapan Ismail Marzuki menciptakan keduanya, mungkin pada 1930-an. Tapi apa arti kata “tuan” pada dua lirik lagu di atas?

Baca lebih lanjut

Saling Serap Indonesia-Belanda

Majalah Tempo, 1 Maret 2010, . Joss Wibisono, Penyiar Radio Nederland di Hilversum, Belanda.

PARTAI politik pertama di Nusantara adalah Indische Partij, yang pada 1912, di Bandung, didirikan oleh Ernst Douwes Dekker (Setiabudi Danudirdja), Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Suryaningrat. Kata bahasa Belanda partij kita serap ke dalam bahasa Indonesia menjadi partai. Karena itu, kita punya Partai Keadilan Sejahtera, sedangkan di Malaysia ada Parti Keadilan. Perbedaan dan akar sejarahnya jelas: Malaysia dipengaruhi bahasa Inggris (party), kita mendapat pengaruh bahasa Belanda.

Baca lebih lanjut