Hak atas Kekayaan Intelektual

K. Bertens*, KOMPAS, 13 Des 2014

Maksud tulisan ini tentu saja bukan mempersoalkan hak atas kekayaan intelektual itu sendiri. HKI itu sangat penting. Posisi kita dalam dunia internasional akan terguncang terus bila pengusaha Indonesia menjiplak begitu saja merek dagang negara lain, misalnya. HKI justru harus didukung dan diperkuat. Yang dipertanyakan adalah apakah HKI itu terjemahan tepat untuk intellectual property rights dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, meragukan hal itu pun sudah merupakan perbuatan agak berani karena pemakaian istilah HKI (atau HAKI) sudah mantap dalam masyarakat. Sudah ada UU HKI dan sudah ada Direktorat Jenderal HKI di Kementerian Hukum dan HAM. Jadi, yang mau mempersoalkan terjemahan tadi harus mempunyai argumentasi kuat.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sekali Lagi tentang Bunga dan Riba

K. Bertens* (KOMPAS, 15 Feb 2014)

TULISAN Samsudin Berlian (SB), ”Bunga ’Ya’, Riba ’Jangan’” dalam Kompas, 25 Januari lalu, menarik untuk diperhatikan. Lebih-lebih karena di sini penjelasan tentang bahasa mengantar kita ke penjelasan tentang etika. Etika memang bicara tentang yang boleh dilakukan (ya) dan yang tidak boleh dilakukan (jangan). Salah menggunakan dua istilah itu tidak saja merupakan suatu kesalahan di bidang bahasa, tetapi juga di bidang moral. Kita semua setuju, hal terakhir ini jauh lebih penting.

Menurut SB, bunga adalah uang yang dibayarkan sebagai biaya pemakaian uang yang dipinjamkan. Sementara riba adalah uang sangat tinggi yang diminta untuk meminjamkan uang sehingga tidak dapat dianggap wajar lagi. Penjelasan ini tidak baru. Semua bahasa modern mempunyai dua kata guna menunjukkan dua cara yang berbeda untuk memperoleh uang dengan perbuatan meminjamkan itu. Dalam bahasa Inggris ada kata interest di samping usury. Kalau kita lihat dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M Echols dan Hassan Shadily, di situ interest diterjemahkan sebagai ”bunga” dan usury sebagai ”riba”.

Dengan demikian, di Indonesia perbedaan arti antara bunga dan riba sudah diterima agak umum. Namun, seperti disinyalir SB juga, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih menyamakan riba dengan bunga uang. KBBI ini dianggap norma resmi dalam menentukan arti kata.

Baca lebih lanjut

Etika dan Etiket

KOMPAS, 13 Apr 2012. K. Bertens, Guru Besar Emeritus Unika Atma Jaya, Jakarta

Sumber gambar: VirginiaTech

Beberapa waktu lalu dalam rubrik ”Klasika” Kompas edisi 5 Maret 2012 dimuat artikel singkat, ”Etika Berbicara di Telepon”. Di situ dijelaskan bagaimana operator telekomunikasi di perusahaan harus menjalankan tugasnya. Misalnya, ia tidak boleh bicara dengan nada tinggi. Nada bicara harus selalu dijaga dan tetap tenang. Sebagai pembuka percakapan, ia harus mengucapkan salam dan menyebutkan namanya kepada lawan bicara. Sebelum menutup pembicaraan, ia tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepada lawan bicara, dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

Aktor Intelektual

KOMPAS, 1 Mei 2000. K. Bertens, Guru Besar Universitas Atma Jaya, Jakarta

Ilustrasi: Frontline Actors Agency

Tahun-tahun terakhir media cetak maupun elektronik berulang kali menyebut tentang “aktor intelektual”. Tidak jelas kapan istilah ini untuk pertama kali muncul, tetapi rasanya sekitar empat tahun yang lalu belum terdengar. Mungkin ungkapan ini mulai dipakai menjelang keadaan kacau yang mendahului lengser-nya Soeharto.

Sering dikatakan bahwa kerusuhan atau aksi teror pasti ada aktor intelektualnya. Dan banyak orang menginginkan agar aktor intelektual di belakang semua kejadian tidak terpuji itu segera ditangkap dan diseret ke pengadilan. Maksudnya tentu otak yang ada di belakang semua peristiwa yang merisaukan ini, bukan pelakunya.

Baca lebih lanjut