Ekspor Kata

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 21 Mar 2016

Kolom ini tidak bermaksud menandingi kolom mahaguru saya, Sapardi Djoko Damono, yang bertajuk “Impor Kata” dalam rubrik ini (Tempo, 14-20 Desember 2015). Tulisan ini hanya melengkapi risalah yang mendahului itu. Jalan pikirannya sederhana: jika ada impor, semestinya ada ekspor, layaknya neraca perdagangan antarnegeri. Impor kata, seperti telah ditulis, berarti mendatangkan kata dari luar bahasa sendiri; sedangkan ekspor kata, sebaliknya, mengirim kata dari bahasa sendiri ke bahasa (negeri) lain. Catatannya, tidak seperti ekspor/impor komoditas, dalam ekspor/impor kata tidak selalu jelas siapa pelakunya, dan apakah hal itu sengaja dilakukan atau tidak.

Baca lebih lanjut

Diaspora Nasi Kuning

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 11 Jan 2016

Kongres Diaspora (Sumber: HetaNews)

Empat hotel berbintang yang sempat saya singgahi di empat kota di Sulawesi—Manado, Gorontalo, Palu, dan Kendari—menyuguhkan pilihan menu sarapan yang sama: nasi kuning. Mungkin kebetulan saja. Kabarnya, nasi tersebut jadi sarapan sehari-hari masyarakat di kota-kota itu. Pertanyaannya, bagaimana cara nasi kuning itu, yang selama ini “hidup” dalam budaya Jawa, tiba di Tanah Sulawesi. Menurut beberapa teman di sana, nasi kuning itu diduga datang bersama orang Jawa yang berdiaspora ke berbagai wilayah di Sulawesi pada masa lalu. Masuk akal meski perlu diteliti lebih cermat.

Baca lebih lanjut

Perang Bahasa

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 2 Nov 2015

Ilustrasi bahasa di India berdasarkan jumlah penutur (Crossics)

Walau berasal dari kalangan bazar, Harishchandra tak serta-merta ingin menjadi saudagar semata. Ia memang anggota Naupatti, asosiasi pedagang di Benares, India Utara, pada masa kolonial Inggris. Namun, menurut sejarawan Inggris, C.A. Bayly, dalam Rulers, Townsmen and Bazaars: North Indian Society in the Age of British Expansion (Cambridge, 1983), Harishchandra tak segan-segan menyarankan kepada keluarganya agar menginvestasikan sebagian hartanya dalam kegiatan sastra dan budaya. Lantaran itu, ia disindir sebagai “manusia mahal” oleh para pedagang tulen, yang umumnya melulu berpikir soal laba.

Baca lebih lanjut

Abrogasi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 17 Agu 2015

Ilustrasi: GoLearnTo

Mbah Bardi, juru kunci makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sempat berkisah banyak kepada saya saat nyadran menjelang bulan puasa yang lalu. Di pesaréan itu, tuturnya, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang meninggal dunia sekian tahun lampau. Simbah, kini 83 tahun, mengenang ketiga almarhum sebagai priyayi alus yang terpandang di desanya. Ia mengaku kenal pribadi dengan mereka. Saya sendiri, lantaran beda generasi, tak pernah tahu siapa yang dikisahkan itu. Cuma, sepengetahuan saya, nama-nama itu terkait dengan sebutan jabatan amtenar tempo dulu.

Baca lebih lanjut

Bonus Demografi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 8 Jun 2015

Ilustrasi: Today.ng

Petang hari, hampir setahun lalu, televisi Al Jazeera di Doha, Qatar (yang sempat saya tonton di lounge sebuah hotel di Pontianak), menyiarkan wawancara dengan Eliya Zulu dari African Institute for Development Studies. Topik pembicaraan saat itu adalah pertumbuhan penduduk di Benua Afrika yang diramalkan bakal melonjak dalam abad ini. Yang menarik adalah kutipan perkiraan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF. Zulu menyebutkan 4 dari 10 bayi yang lahir di dunia pada akhir abad ini adalah orok Afrika. Dengan wajah sumringah, dia mengatakan generasi baru Afrika itu merupakan sumber daya unggul yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di benuanya.

Baca lebih lanjut

Relawan

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 9 Mar 2015

Ilustrasi: Núcleo de Ação Dr. Celso

Sekitar setengah abad silam, kata relawan rasanya tak pernah mencuat ke ruang publik. Tapi orang ramai kala itu terpukau pada sukarelawan yang terasa riuh hampir saban hari. Berpidato memperingati hari proklamasi kemerdekaan yang bertajuk “Tahun Kemenangan” (1962), Presiden Sukarno melukiskan bagaimana sukarelawan terbentuk. “Berjuta-juta sukarelawan,” ujarnya, “laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri—satu bukti bahwa bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apa pun.”

Baca lebih lanjut

Blusukan, Bludusan, Tournee

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 10 Nov 2014

Sejak nama Joko Widodo melejit, kata blusukan terasa bermakna penting. Bahkan, setelah ia menjadi presiden, sejumlah tokoh politik dan pejabat negeri bertindak layaknya kata kerja itu. Padahal sebelumnya, dalam khazanah Jawa, kata itu cuma ragam informal yang lazim digunakan dalam cakapan lisan. Pemakaiannya pun terbatas untuk memerikan perilaku yang dianggap “tak tertib” menurut takaran kelumrahan. Misalnya untuk mengatakan anak-anak desa yang gemar bermain menyuruk-nyuruk ke tengah tegalan bersemak hingga membuat ibunya waswas campur jengkel. “Dasar bocah mbethik, sudah tau mau magrib kok masih blusukan di kebon,” begitu kira-kira ujar sang ibu meradang.

Baca lebih lanjut

Demagogi Lagi

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 28 Jul 2014)

TIGA kali membaca kolom bahasa Rocky Gerung, “Demagogi” (Tempo, 7-13 Juli 2014), Wawa, pelajar sekolah menengah, tetap bertanya-tanya apa gerangan arti kata pada judul kolom itu. Ia merasa tak menemukan definisi demagogi yang lugas dalam tulisan tersebut. Pada teks, ia membaca demagogi (adalah) “busa kalimat”, atau “demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau”, dan seterusnya. Baginya, ungkapan itu terasa canggih tapi sulit dipahami. Jujur ia mengaku “belum cukup umur” untuk mengerti pikiran abstrak.

Namun ia juga punya “kriteria” bahwa suatu kolom bahasa seyogianya bisa memberi penjelasan semantis yang terang.

Pertanyaan tersebut mungkin bukan sekadar soal teknis kebahasaan. Ada pantulan kesenjangan: generasi sekarang tak mengalami riuh-rendah politik masa lalu yang, mengutip sejarawan Ricklefs, penuh “janji kosong”. Isu demagogi merebak sepanjang masa Demokrasi Terpimpin yang direngkuh Presiden Sukarno kala itu. Sukarno sendiri sadar dirinya sering dijuluki demagog oleh pihak tertentu. “Ada juga yang mengatakan bahwa saya ini seorang ‘demagog’, dan ada pula yang menyebutkan saya seorang ‘fraseolog’ yang pandai memakai perkataan muluk-muluk,” katanya dalam pidato peringatan Proklamasi Kemerdekaan pada 1961.

Baca lebih lanjut

Komunitas

Kasijanto Sastrodinomo, KOMPAS, 19 Jul 2014

BEBERAPA waktu yang lalu di Makassar digelar Pesta Komunitas Makassar 2014. Acara yang baru kali pertama diadakan itu diangkat jadi kalender tahunan pariwisata Sulawesi Selatan. Terdaftar 75 komunitas ambil bagian dalam pesta itu yang dikelompokkan menjadi komunitas kreatif, komunitas hobi dan gerakan sosial, serta komunitas berbasis kampus. Mereka tampil dengan bermacam sebutan unik seperti Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri, Komunitas Jalan-jalan Seru Makassar, dan Akademi Berbagi Makassar. Ada pula yang bernama seram seperti Indonesian Zombie Club, Klontank Gang, dan Endemic Shuffle.

Seorang teman lama di sana, Andi Maryam, menraktir saya sop ulu juku atau kepala ikan kakap yang rasanya asam-manis-pedas nan aduhai segar. Kabarnya, penggemar sop ini juga punya komunitas sendiri yang kerap makan bareng-bareng di restoran khusus masakan itu. Bukan hal aneh karena bukankah ada klub penggemar teh atau kopi. Saya jadi ingat Gowang, teman lain, yang ingin membentuk paguyuban konsumen herbal dengan tujuan menjaga kesehatan tubuh secara alami. Jadi, jenis atau wujud komunitas bisa apa saja, seakan-akan tak terbatas dan terkesan gampang dibentuk.

Baca lebih lanjut

Crimea, Bahasa dan Bangsa

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 28 Apr 2014)

ETNIS Rusia di Semenanjung Crimea, republik otonom di bawah daulat Ukraina, mungkin ingin menunjukkan pemeo lama: “bahasa menunjukkan bangsa” masih berlaku. Memiliki bahasa sendiri dan mayoritas (59,5 persen dari seluruh populasi Crimea menurut sensus 2001), orang Rusia di Crimea merasa tetap sebagai bagian dari bangsa Rusia alih-alih warga negara Ukraina. Tak aneh, dalam referendum pertengahan Maret lalu, lebih dari 90 persen etnis Rusia di Crimea ingin kembali ke pangkuan Beruang Merah. Keinginan itu sejatinya tetap membara tatkala Negara Uni Soviet kala itu Rusia sebagai faktor utama pecah sekian tahun yang lalu.

Sebaliknya, di Ukraina, yang berpenduduk hampir 50 juta jiwa, etnis Rusia merupakan minoritas, sekitar 22 persen, sementara etnis Ukraina mencapai 72 persen. Selebihnya etnis kecil yang lain. Logis bila bahasa Ukraina dan Rusia menjadi dominan di negeri itu. Bagi Ukraina, menerima Crimea atau Krim menurut bahasa Rusia ke dalam ikatan kebangsaan bisa dilihat sebagai “amanah revolusi”. Dalam Perang Krim (1854–1856), Rusia terlibat perebutan wilayah itu bersama Turki, Prancis, dan Inggris. Awalnya Rusia kalah dalam perang itu, tapi kemudian Stalin berhasil menarik Crimea masuk ke himpunan Uni Soviet pada 1921.

Baca lebih lanjut