Mobokrasi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 20 Feb 2017

OPINI majalah ini, “Bukan Republik Mobocracy” (Tempo, 5-11 Desember 2016), mengingatkan pada sebuah istilah yang selama ini mungkin kurang dikenal secara luas. Mobokrasi, istilah itu, boleh jadi kalah pamor dibanding demokrasi. Dalam opini itu, istilah mobokrasi merujuk pada “keadaan ketika hukum ditentukan oleh kerumunan massa”-dengan kata lain, yang dimaksud Opini Tempo: tatkala sekumpulan orang memaksa polisi menetapkan seseorang sebagai tersangka penistaan agama.

Baca lebih lanjut

Mendadak Haji

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 14 Nov 2016)

Bocah penjaja kantong kresek belanjaan di Pasar Depok Jaya pagi itu tiba-tiba menyapa saya dengan sebutan “pak haji”—ketika saya sedang asyik memilih ikan lele segar. “Kantongnya, Pak Haji,” begitu dia menawarkan jualannya. Sejenak saya mlenggong. Bukan karena apa; saya bukanlah haji. Saya juga belum pernah bersua atau berkenalan dengan bocah tersebut sehingga terasa aneh dia memanggil saya dengan sebutan itu. Ajaibnya lagi, tukang becak yang mangkal di gerbang pasar pun memanggil saya dengan cara serupa. “Becak, Pak Haji,” ia menawarkan jasa tumpangannya saat saya akan pulang dari pasar. Subhanallah, sepagi itu dua kali saya ditabalkan jadi “haji dadakan”.

Baca lebih lanjut

Wani Pira?

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 25 Jul 2016)

Setelah tawar-menawar beberapa saat tapi belum juga kunjung sepakat, seorang pedagang batik di Pasar Wonokromo, Surabaya, akhirnya ”menantang” (calon) pembeli yang tengah mengelus-elus selembar kain di tangannya, ”Wis, genahé sampéyan wani pira?” atau ”jelasnya Anda berani berapa”. Rupanya, penjual batik ingin memastikan kesanggupan pembeli membayar harga kain pilihannya. Sejenak saya yang mampir ke pasar itu akhir tahun lalutertegun. Inilah ekspresi ”wani pira” dalam ruang dan konteksnya yang asli. Sudah lama saya tidak mendengar ungkapan tawar-menawar yang khas di pasar seperti itu.

Baca lebih lanjut

Ekspor Kata

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 21 Mar 2016

Kolom ini tidak bermaksud menandingi kolom mahaguru saya, Sapardi Djoko Damono, yang bertajuk “Impor Kata” dalam rubrik ini (Tempo, 14-20 Desember 2015). Tulisan ini hanya melengkapi risalah yang mendahului itu. Jalan pikirannya sederhana: jika ada impor, semestinya ada ekspor, layaknya neraca perdagangan antarnegeri. Impor kata, seperti telah ditulis, berarti mendatangkan kata dari luar bahasa sendiri; sedangkan ekspor kata, sebaliknya, mengirim kata dari bahasa sendiri ke bahasa (negeri) lain. Catatannya, tidak seperti ekspor/impor komoditas, dalam ekspor/impor kata tidak selalu jelas siapa pelakunya, dan apakah hal itu sengaja dilakukan atau tidak.

Baca lebih lanjut

Diaspora Nasi Kuning

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 11 Jan 2016

Kongres Diaspora (Sumber: HetaNews)

Empat hotel berbintang yang sempat saya singgahi di empat kota di Sulawesi—Manado, Gorontalo, Palu, dan Kendari—menyuguhkan pilihan menu sarapan yang sama: nasi kuning. Mungkin kebetulan saja. Kabarnya, nasi tersebut jadi sarapan sehari-hari masyarakat di kota-kota itu. Pertanyaannya, bagaimana cara nasi kuning itu, yang selama ini “hidup” dalam budaya Jawa, tiba di Tanah Sulawesi. Menurut beberapa teman di sana, nasi kuning itu diduga datang bersama orang Jawa yang berdiaspora ke berbagai wilayah di Sulawesi pada masa lalu. Masuk akal meski perlu diteliti lebih cermat.

Baca lebih lanjut

Perang Bahasa

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 2 Nov 2015

Ilustrasi bahasa di India berdasarkan jumlah penutur (Crossics)

Walau berasal dari kalangan bazar, Harishchandra tak serta-merta ingin menjadi saudagar semata. Ia memang anggota Naupatti, asosiasi pedagang di Benares, India Utara, pada masa kolonial Inggris. Namun, menurut sejarawan Inggris, C.A. Bayly, dalam Rulers, Townsmen and Bazaars: North Indian Society in the Age of British Expansion (Cambridge, 1983), Harishchandra tak segan-segan menyarankan kepada keluarganya agar menginvestasikan sebagian hartanya dalam kegiatan sastra dan budaya. Lantaran itu, ia disindir sebagai “manusia mahal” oleh para pedagang tulen, yang umumnya melulu berpikir soal laba.

Baca lebih lanjut

Abrogasi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 17 Agu 2015

Ilustrasi: GoLearnTo

Mbah Bardi, juru kunci makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sempat berkisah banyak kepada saya saat nyadran menjelang bulan puasa yang lalu. Di pesaréan itu, tuturnya, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang meninggal dunia sekian tahun lampau. Simbah, kini 83 tahun, mengenang ketiga almarhum sebagai priyayi alus yang terpandang di desanya. Ia mengaku kenal pribadi dengan mereka. Saya sendiri, lantaran beda generasi, tak pernah tahu siapa yang dikisahkan itu. Cuma, sepengetahuan saya, nama-nama itu terkait dengan sebutan jabatan amtenar tempo dulu.

Baca lebih lanjut

Bonus Demografi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 8 Jun 2015

Ilustrasi: Today.ng

Petang hari, hampir setahun lalu, televisi Al Jazeera di Doha, Qatar (yang sempat saya tonton di lounge sebuah hotel di Pontianak), menyiarkan wawancara dengan Eliya Zulu dari African Institute for Development Studies. Topik pembicaraan saat itu adalah pertumbuhan penduduk di Benua Afrika yang diramalkan bakal melonjak dalam abad ini. Yang menarik adalah kutipan perkiraan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF. Zulu menyebutkan 4 dari 10 bayi yang lahir di dunia pada akhir abad ini adalah orok Afrika. Dengan wajah sumringah, dia mengatakan generasi baru Afrika itu merupakan sumber daya unggul yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di benuanya.

Baca lebih lanjut

Relawan

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 9 Mar 2015

Ilustrasi: Núcleo de Ação Dr. Celso

Sekitar setengah abad silam, kata relawan rasanya tak pernah mencuat ke ruang publik. Tapi orang ramai kala itu terpukau pada sukarelawan yang terasa riuh hampir saban hari. Berpidato memperingati hari proklamasi kemerdekaan yang bertajuk “Tahun Kemenangan” (1962), Presiden Sukarno melukiskan bagaimana sukarelawan terbentuk. “Berjuta-juta sukarelawan,” ujarnya, “laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri—satu bukti bahwa bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apa pun.”

Baca lebih lanjut

Blusukan, Bludusan, Tournee

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 10 Nov 2014

Sejak nama Joko Widodo melejit, kata blusukan terasa bermakna penting. Bahkan, setelah ia menjadi presiden, sejumlah tokoh politik dan pejabat negeri bertindak layaknya kata kerja itu. Padahal sebelumnya, dalam khazanah Jawa, kata itu cuma ragam informal yang lazim digunakan dalam cakapan lisan. Pemakaiannya pun terbatas untuk memerikan perilaku yang dianggap “tak tertib” menurut takaran kelumrahan. Misalnya untuk mengatakan anak-anak desa yang gemar bermain menyuruk-nyuruk ke tengah tegalan bersemak hingga membuat ibunya waswas campur jengkel. “Dasar bocah mbethik, sudah tau mau magrib kok masih blusukan di kebon,” begitu kira-kira ujar sang ibu meradang.

Baca lebih lanjut