Merdekalah, Wartawan!

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 18 Feb 2017

Jumat pagi 2 Desember 2016, yang populer dengan kode 212, beberapa jam menjelang demonstrasi salat Jumat di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, tersiar berita tentang orang-orang yang “diamankan” di Markas Brimob dengan dugaan makar, atau polisi “mengamankan” sejumlah orang yang diduga makar. Reporter dan penyiar TV rupanya kompak memakai kata diamankan dan mengamankan pada berita itu, sedangkan sebagian besar teks di media sosial dan situs berita internet tegas menggunakan ditahan, ditangkap, menahan, menangkap. Saya rasa mayoritas lebih suka diksi yang kedua sebab lebih pas dengan dunia-masa-kini dan tidak memerangkap mereka dalam anakronisme.

Baca lebih lanjut

EYD

Kurnia J.R.* (Kompas, 3 Des 2016)

Memang asyik membaca narasi yang disesaki argumentasi dengan hasrat merobohkan sebuah kultus persona yang diberi label diktator. Berbagai hal yang melekat pada dirinya dan sejarah bangsanya selama era kediktatorannya dikuliti dengan gaya serbacela, curiga, dan mendakwa. Begitulah esai Benedict Anderson tentang Soeharto dalam New Left Review 50 (Maret 2008), ”Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant”, yang secara umum ditelan mentah-mentah oleh intelektual Indonesia.

Baca lebih lanjut

Calon Haji

Kurnia J.R.* (Kompas, 8 Okt 2016)

Media massa biasa menggunakan istilah calon haji buat orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sejak berangkat dari rumah sampai tuntas menunaikan semua tahap ritualnya. Dalam perjalanan pulang dari Mekkah, barulah tanggal kata calon dan ”sah” sudah orang yang bersangkutan menyandang gelar haji. Apabila sebelumnya media massa menulis ”Rombongan calon haji berangkat ke Tanah Suci”, kini penulisannya menjadi ”Rombongan haji pulang di Tanah Air”.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan PT KAI

Kurnia J.R.* (Kompas, 11 Jun 2016)

Kenapa kita wajib meneguhkan niat dan laku untuk konsisten menggunakan bahasa nasional dalam forum resmi seperti komunikasi publik, pelayanan publik, pemerintahan, teknologi, sosial, pendidikan, bisnis, dan niaga? Pertanyaan itu perlu ditegaskan untuk dijelaskan sebab kritik terhadap perilaku berbahasa campur-aduk Indonesia-Inggris tak jarang ditanggapi dengan sinisme sebagai kenyinyiran ahistoris dan anakronistis.

Baca lebih lanjut

Materi Bahasa

Kurnia J.R.*, Kompas, 2 Apr 2016

Albert Camus adalah bintang kejora di gugusan parafrasa kesusastraan Perancis. Esai-esainya kaya dengan parafrasa yang brilian, sementara novel-novelnya sarat dengan frase yang indah, yang dituangkan dengan ketenangan yang stabil dan hening. Penerjemahnya ke dalam bahasa lain tentu akan secara otomatis terkondisikan ke suasana meditatif yang merupakan ciri khas gayanya. Penerjemah Camus ke dalam bahasa Indonesia, Nh Dini dan Apsanti Djokosujatno, menunjukkan gejala itu.

Baca lebih lanjut

Bahasa Subversif

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 6 Feb 2016

Pada mulanya adalah kata. Itulah pelajaran pertama bagi manusia. Setiap bayi tidak dituntut macam-macam oleh orang tua yang gemas kecuali berlatih mengeja ”maa-maaa… paa-paaa.”

Bahasa ditanamkan dengan landasan cinta untuk menghayati pola-pola konstruktif sepanjang hidup manusia. Secara kontekstual, bahasa tidak bebas-nilai. Keluarga, lembaga sosial, dan lembaga pendidikan adalah satu rangkaian yang membangun konvensi dan relasi humanitas yang diperkuat tata nilai etis, moral, dan religi.

Baca lebih lanjut

Kepantasan

KOMPAS, 15 Mar 2013. Kurnia JR, Pujangga.

Bahasa bukan semata-mata persoalan gramatikal, leksikal, dan ejaan. Ketika dipakai dalam komunikasi antara dua orang atau lebih, bukan hanya wacana yang bermain di situ, tetapi juga aspek ekstrinsik yang mencakup status para pelaku ujaran, relasionalitas antarpelaku, konteks situasional, juga nada yang menampilkan aspek emosional.

Suatu kalimat dengan diksi tertentu mungkin pantas dilontarkan seseorang yang tidak atau kurang berpendidikan, tetapi ditanggapi sebagai tindakan tercela kalau diucapkan oleh orang yang seharusnya ketat menjaga perilaku berkat statusnya yang terpandang di masyarakat.

Baca lebih lanjut