Bahasa Kikuk

Kurnia J.R.* (Kompas, 20 Jan 2018)

Di media digital bahasa Indonesia kerap tampil kikuk, seumpama orang terjebak situasi salah kostum. Menghadiri pemakaman dalam busana pesta atau sebaliknya. Serba salah, tetapi terus terjadi karena dua alasan. Pertama, karena pelaku tak tahu dan tak mau belajar. Kedua, pelaku tak sendirian dan, karena beramai-ramai, mereka tak merasa bersalah atau bermasalah.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sangga Membonceng Sanggah

Kurnia J.R.* (Kompas, 21 Okt 2017)

Seorang mahasiswa ekonomi berdarah penyair sedang jatuh cinta. Dia jadi gandrung kosakata langka untuk menanggulangi defisit leksikon di benaknya yang mendadak romantis. Dia tidak peduli walau terjadi inflasi kata arkais dalam statistik mingguan yang selalu memuncak setiap Sabtu malam yang puitis.

Baca lebih lanjut

Gerakan Disiplin Korektif

Kurnia J.R. (Kompas, 22 Jul 2017)

Penulisan kata depan di yang ditulis rapat dengan sebutan tempat seperti “disini”, “dikanan”, “dibawah”, merupakan salah satu kekeliruan yang kian banyak terlihat di instansi pemerintah, di stasiun kereta, bandar udara dan laut, pada papan reklame di ruang publik, kawasan bisnis-komersial dan wisata, hingga lembaga pendidikan, terlebih-lebih di jejaring sosial.

Baca lebih lanjut

Merdekalah, Wartawan!

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 18 Feb 2017

Jumat pagi 2 Desember 2016, yang populer dengan kode 212, beberapa jam menjelang demonstrasi salat Jumat di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, tersiar berita tentang orang-orang yang “diamankan” di Markas Brimob dengan dugaan makar, atau polisi “mengamankan” sejumlah orang yang diduga makar. Reporter dan penyiar TV rupanya kompak memakai kata diamankan dan mengamankan pada berita itu, sedangkan sebagian besar teks di media sosial dan situs berita internet tegas menggunakan ditahan, ditangkap, menahan, menangkap. Saya rasa mayoritas lebih suka diksi yang kedua sebab lebih pas dengan dunia-masa-kini dan tidak memerangkap mereka dalam anakronisme.

Baca lebih lanjut

EYD

Kurnia J.R.* (Kompas, 3 Des 2016)

Memang asyik membaca narasi yang disesaki argumentasi dengan hasrat merobohkan sebuah kultus persona yang diberi label diktator. Berbagai hal yang melekat pada dirinya dan sejarah bangsanya selama era kediktatorannya dikuliti dengan gaya serbacela, curiga, dan mendakwa. Begitulah esai Benedict Anderson tentang Soeharto dalam New Left Review 50 (Maret 2008), ”Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant”, yang secara umum ditelan mentah-mentah oleh intelektual Indonesia.

Baca lebih lanjut

Calon Haji

Kurnia J.R.* (Kompas, 8 Okt 2016)

Media massa biasa menggunakan istilah calon haji buat orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sejak berangkat dari rumah sampai tuntas menunaikan semua tahap ritualnya. Dalam perjalanan pulang dari Mekkah, barulah tanggal kata calon dan ”sah” sudah orang yang bersangkutan menyandang gelar haji. Apabila sebelumnya media massa menulis ”Rombongan calon haji berangkat ke Tanah Suci”, kini penulisannya menjadi ”Rombongan haji pulang di Tanah Air”.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan PT KAI

Kurnia J.R.* (Kompas, 11 Jun 2016)

Kenapa kita wajib meneguhkan niat dan laku untuk konsisten menggunakan bahasa nasional dalam forum resmi seperti komunikasi publik, pelayanan publik, pemerintahan, teknologi, sosial, pendidikan, bisnis, dan niaga? Pertanyaan itu perlu ditegaskan untuk dijelaskan sebab kritik terhadap perilaku berbahasa campur-aduk Indonesia-Inggris tak jarang ditanggapi dengan sinisme sebagai kenyinyiran ahistoris dan anakronistis.

Baca lebih lanjut