Kepantasan

KOMPAS, 15 Mar 2013. Kurnia JR, Pujangga.

Bahasa bukan semata-mata persoalan gramatikal, leksikal, dan ejaan. Ketika dipakai dalam komunikasi antara dua orang atau lebih, bukan hanya wacana yang bermain di situ, tetapi juga aspek ekstrinsik yang mencakup status para pelaku ujaran, relasionalitas antarpelaku, konteks situasional, juga nada yang menampilkan aspek emosional.

Suatu kalimat dengan diksi tertentu mungkin pantas dilontarkan seseorang yang tidak atau kurang berpendidikan, tetapi ditanggapi sebagai tindakan tercela kalau diucapkan oleh orang yang seharusnya ketat menjaga perilaku berkat statusnya yang terpandang di masyarakat.

Baca lebih lanjut

Soak

KOMPAS, 18 Jan 2013. Kurnia JR, Pujangga.

Akronim soakKetika membaca sebuah berita di lembaran ”Kabar Jabar” koran Republika terbitan 26 Desember 2012 halaman 26, saya dihentikan oleh sepotong kata: rutilahu. Saya balik ke awal. Ternyata rutilahu itu akronim dari rumah tidak layak huni.

Saya tidak tahu apakah faktor ”Jabar” yang memicu ”kreativitas” penciptaan akronim baru ini. Maklum, saya terkesima melihat suburnya akronim di masyarakat Priangan. Dimulai dari akronim comro dan misro. Comro (oncom di jero atau oncom di dalam) adalah gorengan dari singkong parut berisi oncom, sedangkan misro (amis di jero atau manis di dalam) berisi gula aren.

Baca lebih lanjut

Hal Etimologi

KOMPAS, 28 Des 2012. Kurnia JR, Cerpenis.

Sumber gambar: Last Word Books

Lagi, harapan terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, agar dilengkapi data asal-usul kata, disuarakan. Kali ini aspirasi itu tercetus dalam diskusi bahasa di acara peluncuran buku bahasa Ajip Rosidi di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, pada 5 Desember 2012.

Kita mafhum perihal pentingnya kelengkapan data etimologis lema, yang menjelaskan asal muasal lema: dari bahasa apa, kapan kemunculannya pertama kali dalam bahasa Indonesia, oleh siapa, dalam teks apa—lengkap dengan data publikasinya. Keterangan etimologis lema membuat kamus bahasa-bahasa asing lebih berbobot dan mengemban komitmen historiografis bagi masyarakat/bangsa penuturnya. Data tersebut dapat membantu kita memahami aspek kesejarahan suatu lema, baik itu berupa kata, idiom, pemeo, maupun frasa, sehingga kita bisa bersikap akan menerima begitu saja atau mengoreksi.

Baca lebih lanjut

Wakaf Politik

KOMPAS, 29 Sep 2012. Kurnia JR, Cerpenis

Sumber gambar: Anne Ahira

Di pagar Masjid Raya Bandung terpajang spanduk bertulisan: ”Kami wakafkan pada masyarakat Kang … untuk menjadi Gubernur Jawa Barat 2013–2018”.

Ini gaya bahasa yang tidak biasa dan boleh dibilang baru dalam politik kita. Kalau diamati lebih lanjut, bisa dipahami kenapa dipilih kata wakaf yang berkonotasi religius. Spanduk itu dibuat oleh Forum Silaturahmi Ormas Islam Kota Bandung. Tercantum juga di situ deretan nama organisasi kemasyarakatan Islam.

Kang dalam bahasa Sunda semakna dengan bang dalam bahasa Betawi, mas dalam bahasa Jawa, uda dalam bahasa Padang, bli dalam bahasa Bali. Di bumi Parahyangan, dengan panggilan tersebut sang tokoh didekatkan kepada publik untuk meraih simpati sosial-politis. Soekarno lebih senang dipanggil bung karena egaliter. Panggilan ini bisa menjembatani celah-celah tribalisme ke cakupan nasional.

Baca lebih lanjut

Bahasa Lisan

KOMPAS, 21 Sep 2012. Kurnia JR, Cerpenis.

Sumber gambar: Preschools4all

Tidak banyak wartawan media elektronik, televisi dan radio, yang bahasa lisannya bagus dalam arti memenuhi standar dan kaidah bahasa baku, efektif, dan ekonomis ketika menyampaikan laporan langsung. Pada umumnya tata bahasa mereka belepotan. Tak jarang, pelafalan istilah-istilah tertentu keliru akibat kemiskinan perbendaharaan kata. Ada juga problem pilihan kata yang kacau-balau plus pengulangan dan pemanjangan kalimat-kalimat. Laporan yang seharusnya ekonomis dan lugas pun jadi bertele-tele, bahkan ngawur.

Baca lebih lanjut

Komedian?

KOMPAS, 16 Mar 2012. Kurnia JR, Cerpenis

Sekarang ada sebutan yang lebih populer bagi seniman panggung pengocok perut: komedian. Istilah pelawak mulai ditinggalkan tanpa alasan jelas kecuali kecenderungan masyarakat yang mudah terkesima oleh kosakata keinggris-inggrisan. Ini gejala peyorasi dalam linguistik. Dalam hal ini, kata pelawak mengalami degradasi semantik.

Peminjaman atau penyerapan kosakata dari bahasa asing adalah situasi alamiah dan wajar dalam suatu bahasa. Yang celaka jika proses itu berakibat pembonsaian khazanah bahasa kita sendiri. Kosakata asing diserap seraya merendahkan derajat makna padanannya yang sudah ada dalam bahasa kita tanpa urgensi sama sekali.

Baca lebih lanjut

Bahasa Pemerintah

KOMPAS, 15 Jul 2011. Kurnia JR, Cerpenis

Lagi-lagi, soal klise ini: kasus kuminggris, yakni pemakaian anasir Inggris yang tidak perlu atau tak pada tempatnya dalam wacana berbahasa Indonesia. Akhir-akhir ini pemerintah memberi contoh tak mendidik dengan memakai anasir Inggris dalam program-programnya. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia membuka lembaga pelayanan bagi masalah TKI. Namanya Crisis Center BNP2TKI. Bagian pelayanan pengaduannya Call Center TKI. Padahal, pelayanan ini bukan untuk orang asing.

Disusul oleh PT Kereta Api Indonesia yang menerapkan sistem baru di rute Jakarta-Bogor dengan nama KRL Commuter Line. Di jalan raya, warga Jakarta telah terbiasa dengan istilah busway: jalur khusus bus Transjakarta. Frasa jalur busway pun telah merasuki benak kita.

Baca lebih lanjut

Peribahasa

KOMPAS, 1 Jul 2011. Kurnia JR, Cerpenis

Kalau di hutan tak ada singa, beruk rabun bisa menjadi raja. Peribahasa adalah cetusan ringkas yang mengandung pandangan bijak tentang hal-hal yang kita alami, hadapi, harapkan, hindari, pelajari, maknai agar mencapai keluhuran budi dan keselamatan dalam hidup.

Bahasa Melayu sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia kaya dengan peribahasa. Setiap aspek dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkup kecil rumah tangga sampai cakupan ketatanegaraan, ditelaah dan melahirkan ungkapan berupa peribahasa, pantun, pepatah, dan ujaran-ujaran yang padat makna.

Baca lebih lanjut

Demi

KOMPAS, 4 Mar 2011. Kurnia JR, Cerpenis

Mengobrol dengan warga beberapa kampung di Jawa Barat dan Banten terasa menggelitik. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kebiasaan membubuhi kalimat yang diucapkan dengan kata demi buat menegaskan ”kejujuran”. Umpamanya, ”Saya mah, demi, kalau masak sayur enggak pernah pakai mecin.” Atau, ”Demi, ini mah demi, nih! Mendingan enggak makan saya mah daripada nipu atawa nyolong. Allah teh ningali.” Maksudnya, Allah Mahamelihat.

Kiranya Anda bisa menebak arti demi yang mereka maksud. Ya, betul, demi yang sering mereka gunakan itu adalah partikel yang lazim diterapkan penutur bahasa Indonesia secara luas. Dengan partikel itu mereka ingin mengatakan (lengkapnya) ”demi Allah” atau ”demi Tuhan”, namun kata Tuhan atau Allah dilesapkan atau tidak diujarkan. Tampaknya perilaku ini sudah merupakan kebiasaan di kalangan mereka sehingga dilontarkan begitu saja sebagai bagian dari langgam lisan yang santai.

Baca lebih lanjut