Bang, Bung

Majalah Tempo, 29 Nov 2010. Marco Kusumawijaya: Arsitek.

Anda perhatikan jika terbang dengan pesawat Garuda. Kini penumpang akan disapa dengan kalimat “Bapak dan Ibu yang terhormat”. Di masa lalu, kita sempat mendengar kalimat “Para pelanggan yang terhormat”, yang membuat kita merasa diperlakukan sebagai subyek pasar semata. Sebelumnya, seingat saya pernah pula digunakan “Tuan tuan dan Puan puan”. Kini kadang kadang juga “Para penumpang yang terhormat”. Tentu saja itu hanya kalau mereka bicara lewat mikrofon. Ketika pramugarinya bertemu penumpang di pintu pesawat, mereka akan menyapa dengan “Pak” dan “Bu”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bahasa Sang Pemimpi

Majalah Tempo 11 Jan 2009. Marco Kusumawijaya, editor http://www.rujak.org.

SANG Pemimpi bukan film pertama yang membuat kita merenungkan kembali bahasa setempat. Sebelumnya, salah satu film, Perempuan Punya Cerita oleh Nia Di Nata, berbahasa Sunda hampir menyeluruh di dalamnya, sesuai dengan lingkungan ceritanya. Sarah Sechan dan Annisa Nurul Shanty, dua pemeran tokoh utama dalam film itu, kebetulan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka. Maka bahasa Sunda dalam film itu sangat berhasil.

Baca lebih lanjut

Bahasa Jalan

Majalah Tempo 1 Jun 2009. Marco Kusumawijaya. Urbanis, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta.

APA salahnya aspal—?/Di kota aspal aku betah, demikian tulis Bertold Brecht. Dengan aspal, permukaan jalan untuk mobil telah menjadi lebih halus daripada kaki lima untuk pejalan kaki, bertentangan dengan undang-undang abad ke-18 di Inggris yang memberikan syarat permukaan untuk pejalan kaki harus lebih halus daripada yang untuk kendaraan. Sejak itu selamanya makna jalan menyempit jadi sedikit. Padahal, jalan memberikan struktur pembacaan tentang kota. Ia ruang khalayak sesejatinya. Karena itu, perilaku di jalan mencerminkan watak bangsa.

Baca lebih lanjut

Kehilangan Kata-kata

Majalah Tempo 13 Apr 2009. Marco Kusumawijaya. Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta.

Yang saya maksud bukan kehabisan kata-kata, melainkan benar-benar terancam hilangnya kata-kata bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua ancaman, ialah hilangnya realitas yang diacu oleh kata, dan hilangnya makna dalam penerjemahan yang tidak memadai—lost in translation. Semuanya berdampak pada berkurangnya ke bhinekaan.

Baca lebih lanjut