Bakal Calon

Mulyo Sunyoto*, KOMPAS, 24 Mei 2014

MEGAWATI Soekarnoputri dan Fadli Zon—jika keduanya cermat memaknai bahasa—boleh jadi merasa gerah membaca berita di koran-koran mengenai figur yang mereka gadang-gadang menempati kursi kekuasaan nomor wahid negeri ini. Jokowi (yang dijagokan Mega) dan Prabowo (yang dilambungkan Fadli), sebelum deklarasi masing-masing selaku calon presiden awal pekan ini, oleh media massa ditulis secara berubah-ubah sebagai calon presiden di satu ruang dan waktu, serta bakal calon presiden di rubrik dan kesempatan yang lain.

Ada media yang ajek menyebut orang-orang yang diusulkan—siapa pun pengusulnya, entah parpol entah perseorangan—sebagai penghuni prima Istana Negara 2014-2019 itu sebagai bakal calon, bukan calon. Argumen tohornya: sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan Jokowi dan Prabowo atau siapa pun sebagai calon presiden, predikat yang layak untuk mereka adalah bakal calon.

Baca lebih lanjut

Penyataan

Mulyo Sunyoto* (KOMPAS, 11 Jan 2014)

APA yang dilakukan orang-orang yang bekerja di Pusat Bahasa? Spontan pertanyaan kurang etis itu tercetus ketika saya tak menemukan nomina turunan dari kata dasar nyata di atas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Dalam beberapa pertemuan di forum diskusi bahasa, para pejabat Pusat Bahasa mengatakan bahwa di instansi lingkungan kerja mereka ada bidang kerja yang ranah tugasnya memantau denyut dan dinamika aktivitas berbahasa di ruang publik, di antaranya di media massa, baik cetak maupun dalam jaringan.

Dari pantauan itu, konon, kosa kata yang digunakan masyarakat namun belum tercantum di KBBI akan dipungut untuk dimasukkan sebagai lema baru dalam penerbitan berikutnya.

Baca lebih lanjut

Rumah Cuci

KOMPAS, 14 Des 2012. Mulyo Sunyoto, Magister Pendidikan Bahasa.

Sumber gambar: mayadewi.wordpress.com

Di ambang senja bahasa Indonesia, yang keberadaannya kian tersuruk dan tersudut di belantara nama-nama dan cap dagang berbahasa Inggris, masih ada cerita kecil ihwal sebentuk perlawanan kebahasaan yang patut disampaikan. Kisah ini muncul tidak di sebuah pusat keramaian kota besar, tetapi di pasar rakyat Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Berdiri di antara sederet tempat usaha yang menawarkan aneka barang dan jasa, sebuah bangunan dengan warna cat yang pudar mewartakan jenis usaha di sebidang papan: rumah cuci. Siapa pun yang seumur-umur baru sekali membaca frasa di papan itu sangat mungkin tak perlu repot memahami maknanya sebab frasa itu segera mengingatkan sang pembaca pada frasa lain berpola serupa dengan pemaknaan yang bersinggungan. Kamus Besar Bahasa Indonesia tak mengenal rumah cuci, tetapi sedikitnya merekam rumah makan, rumah gadai, dan rumah ibadah.

Baca lebih lanjut

Agar (Sekali Lagi)

KOMPAS, 16 Sep 2011. Mulyo Sunyoto, Pemerhati Sintaksis, Magister Pendidikan Bahasa

Di kolom ini, 20 Februari 2009, saya mengulas agar, partikel kelas konjungsi yang kerap diperlakukan sebagai adverbia dalam berbagai judul berita. Di situ saya berpendapat bahwa peran tambahan kata sambung sebagai kata keterangan merupakan gejala evolusi ekspansif makna kata. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia belum mencatat fenomena itu.

Kali ini saya hendak memperlihatkan gejala serupa: pengayaan makna yang dilakukan masyarakat pada konjungsi penanda harapan, yang lagi-lagi belum termuat dalam dua kitab susunan instansi pemerintah itu. Oleh KBBI agar cuma disepadankan dengan supaya, ‘kata penghubung untuk menandai harapan’. Dalam TBBBI, agar dikelompokkan sebagai konjungtor subordinatif tujuan, yang bersinonim dengan supaya, biar.

Baca lebih lanjut

Matinya Penumpang

KOMPAS, 3 Des 2010. Mulyo Sunyoto Magister dalam Linguistik.

Sebuah bus pengangkutan umum berjalan perlahan keluar dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Di belakang kendaraan itu, dalam jarak sepelempar, seseorang bergegas mengejar bus. Sopir tak menghentikan kendaraannya. Kenek melihat gelagat orang itu lewat kaca spion. Kepada sopir, sang kenek berteriak, ”Ada sewa, ada sewa.”

Sewa, bukan penumpang. Sopir dan kenek kendaraan pengangkutan umum di Jakarta seolah tabu menggunakan kata penumpang menyebut ‘orang yang naik kendaraan umum’. Sejak kapan dan mengapa para awak kendaraan umum di Jakarta memilih sewa dan menampik penumpang? Saya tak tahu. Yang pasti, di Sumatera Utara hal itu kaprah belaka.

Baca lebih lanjut

Apa/Siapa Namamu

KOMPAS 24 Des 2009. Mulyo Sunyoto.

Nama dan orang yang menyandangnya, di mata pebahasa Inggris, seolah dapat dipisahkan seperti sandang dan sang penyandang.  Keduanya dapat dipisahkan dengan tegas.

Tapi, di mata kita, nama dan sang pemilik ibarat api dan panasnya. Tak mungkinlah memisahkan keduanya. Begitulah perbedaan esensial kenapa orang berbahasa Inggris menggunakan rumusan: “Apa nama anda?”, dan bukan “Siapa nama anda?” sebagaimana orang Indonesia biasa bertanya.

Baca lebih lanjut

Ragam Bahasa yang Elitis

KOMPAS 10 Des 2009. Mulyo Sunyoto. Magister Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta.

Penganjur ragam bahasa baku, yang punya hasrat kuat untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti selalu disuarakan Pusat Bahasa, sudah saatnya sadar diri bahwa mayoritas warga berbahasa Indonesia tak bisa diajak berbangga diri menggunakan bahasa ragam resmi.

Baca lebih lanjut

Agar

KOMPAS, 20 Feb 2009. Mulyo Sunyoto. Pemerhati Sintaksis.

Ada apa dengan partikel kelas konjungsi itu? Sebelum masuk inti perkara, saya melantur sepanjang dua alinea bersama agar.

Perempuan Yahudi yang mengandung, bersama sang suami, menyelesaikan soal matematika. Tentu tak perlu yang terlampau rumit atau terlalu mudah dipecahkan. Itu dilakukan agar si orok berlatih mengasah otak.

Agar memperoleh keturunan lantip seencer benak Yahudi, ibu berbadan dua Melayu bisa menjajal adat kaum Tzipi Livni itu. Bukankah tak berdosa mengikuti kebiasaan baik satu kaum, yang di sini oleh kebanyakan orang disebut (dengan sempit dada) Zionis?

Baca lebih lanjut