Mukjizat Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab

Majalah Tempo, 26 Des 2011. Nikolaos van Dam, Pakar Timur Tengah dan mantan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Irak, Mesir, dan Turki

Merupakan impian banyak orang Arab bahwa setiap orang bisa berbicara bahasa Arab klasik yang sama. Bagi beberapa ahli bahasa Arab, dialek Arab dianggap bentuk yang menyimpang dari bahasa yang digunakan dalam Al-Quran atau dari bahasa Arab yang digunakan Nabi Muhammad. Kenyataannya, dialek Arab sudah lama hidup, bahkan pada era kehidupan Nabi Muhammad. Jadi, merupakan suatu hal yang anomali jika Semenanjung Arab dulu adalah suatu wilayah linguistik yang homogen.

Sebuah wilayah yang luas memang lazim memiliki beraneka ragam dialek. Bahasa Arab Al-Quran merupakan salah satu dari begitu banyak ragam tersebut, juga di masa lalu. Bagi kalangan nasionalis Arab, impian terus berlanjut bahwa semua orang Arab seharusnya menggunakan ragam bahasa klasik yang sama. Kenyataannya, tidak ada satu orang pun yang menggunakan bahasa Arab klasik atau bahasa Arab modern yang baku sebagai bahasa ibu, baik di rumah maupun dalam lingkungan sosial informal lainnya. Karena itu, suatu hal yang tidak realistis untuk berharap bahwa bahasa Arab klasik kelak akan menjadi bahasa penyatu masyarakat Arab, yang dalam hal ini memang belum pernah terjadi. Namun itu tetap sangat penting sebagai faktor pemersatu bagi dunia Arab.

Baca lebih lanjut

Kata Serapan Arab Apakah Ejaan Mengikuti Pelafalan?

Majalah Tempo 15 Jun 2009. Nikolaos van Dam. Duta Besar Belanda di Indonesia.

SEJUMLAH ahli yang mempelajari kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia lebih banyak memberikan perhatian pada atau mementingkan karakteristik bahasa Arab ketimbang pada bahasa penerima dan kaidah linguistiknya serta yang menyangkut pelafalannya.

Menurut saya, pelafalan berbagai fonem dalam kata serapan Arab dalam bahasa Indonesia, seperti Dad (), Za’ (), Ain ( ), dan Fa’ () lebih banyak berkaitan dengan bagaimana kecenderungan pihak penerima mengucapkan kata asing tertentu, daripada pengucapan yang pihak asing yang menyediakannya menentukannya. Fonem Arab yang tidak dikenal ditafsirkan oleh pendengar sebagai fonem yang secara fonetis mendekati fonem tersebut dan merupakan bagian dari sistem fonem mereka sendiri.

Baca lebih lanjut

Kamus Besar yang Agak Terlalu Sempurna

Majalah Tempo 30 Mar 2009. Nikolaos van Dam. Duta Besar Belanda untuk Indonesia.

MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.

Salah satu hambatan bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia adalah luasnya kosakatanya. Kenyataan bahwa bahasa ini memiliki 20 ribu kata serapan dari berbagai bahasa, yang tersusun dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (2008) karya Russell Jones, bisa mengarah pada kesimpulan yang salah, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif miskin dengan kosakata asli yang agak terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) dengan 90 ribu butir masukan dan subbutir masukan jelas memperlihatkan justru sebaliknya, dan menggarisbawahi kekayaan linguistik dan budaya bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut