Pembawa Acara atau Juru Acara

Lampung Post, 22 Feb 2012. Ninawati Syahrul, Pegawai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Pada awal 2012 saya menghadiri beberapa undangan resepsi pernikahan. Biasanya acara diatur dengan urutan yang rapi. Pada kesempatan seperti itu, biasanya ada orang yang bertugas membacakan urutan jalannya acara.

Ada yang menarik perhatian saya berkenaan dengan penggunaan istilah untuk petugas penata atau pengantar acara tersebut. Apakah istilah pengacara, pembawa acara, juru acara, protokol, announcer, atau master of ceremony (MC)? Melihat bentukan kata tersebut, timbul pertanyaan, bentukan manakah yang tepat di antara beberapa kata itu?

Baca lebih lanjut

Iklan

Turut Belasungkawa dan Berdukacita

Ilustrasi lilin duka cita. Sumber: imgur

Lampung Post, 21 Sep 2011. Ninawati Syahrul, Pegawai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta

Ketika ada kerabat atau teman tertimpa musibah sehingga menyebabkan kematian, kita segera menggirimkan ucapan “Kami turut belasungkawa dan berdukacita yang sedalam-dalamnya atas musibah…”, atau “Kami sekeluarga mengucapkan turut belasungkawa dan berdukacita atas meninggalnya…”.

Ucapan seperti itu sepertinya sudah mentradisi di lingkungan kita. Penggunaan kata belasungkawa dan berdukacita tampaknya selalu hadir bersama. Yang menjadi permasalahan di sini adalah sudah benarkah pemakaian kedua kata itu secara bersamaan?

Baca lebih lanjut

Pengrajin atau Perajin

Lampung Post, 15 Jun 2011. Ninawati Syahrul, Pegawai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

SATU bulan yang lalu saya diajak oleh seorang teman untuk melihat pameran kerajinan tangan. Ada yang menarik perhatian saya berkenaan dengan penulisan kata pengrajin dan perajin di depan stan-stan pameran. Ternyata dalam menuliskan kata pengrajin dan perajin berbeda antara stan yang satu dan stan yang lain. Melihat bentukan kata tersebut, timbul pertanyaan, bentukan manakah yang tepat antara kedua kata itu?

Pengrajin ialah orang yang pekerjaannya membuat barang-barang kerajinan atau orang yang mempunyai keterampilan berkaitan dengan kerajinan tertentu, seperti kelompok penenun songket Palembang dapat disebut pengrajin songket dari Palembang. Barang-barang tersebut tidak dibuat dengan mesin, tetapi dengan tangan sehingga sering disebut barang kerajinan tangan.

Baca lebih lanjut

Kesalahan “Daripada”

Lampung Post, 13 April 2011. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Para penutur bahasa Indonesia sudah sepatutnya dapat menggunakan kosakata yang dikuasainya dengan tepat. Penggunaan kosakata yang tepat akan menghasilkan pembicaraan yang enak didengar. Sebaliknya, jika penggunaan kosakata tidak tepat, pembicaraan tidak mustahil membingungkan pendengar. Akibat pemilihan kata yang kurang tepat, kalimat menjadi samar-samar atau bahkan menggelikan. Ada juga pemilihan kata yang tidak tepat yang masih dapat dipahami oleh orang lain, tetapi dari segi kaidah penulisan kata, kata yang dipilihnya tidak termasuk kata baku.

Dalam hal inilah, pemilihan kata itu penting dilakukan dengan cermat agar kalimat yang disusun dapat dicerna dan dipahami pendengar dengan baik. Misalnya, sangat banyak penggunaan kata “daripada” yang bukan pada tempatnya. Sebaliknya, ungkapan yang harusnya menggunakan “daripada” diganti dengan kata lain. Mari kita lihat contoh kesalahan pemakaian kata “daripada” satu per satu.

Baca lebih lanjut

Urgensi Memakai Ungkapan

Lampung Post, 19 Jan 2011. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Pemakaian bentuk-bentuk ungkapan yang bersifat idiomatis adalah bagian penting dari kegiatan berbahasa. Ungkapan menurut J.S. Badudu adalah bentuk kebahasaan yang bermakna khusus atau kiasan. Bahasa Indonesia memiliki banyak makna kiasan untuk kata-katanya.

Kalau pemakai bahasa Indonesia paham betul dengan ungkapan, tentu bahasa akan dapat dipergunakan dengan penuh kesantunan dan keindahan. Dengan begitu, peristiwa bahasa yang tidak menyenangkan seperti kata-kata yang tidak sopan, berbahasa dengan semaunya, dan berbahasa tidak santun, akan dapat diminimalisasi. Dalam konteks kesantunan, ungkapan cenderung memiliki tingkat kesopanan lebih tinggi dan menambah keindahan karena kadar keterusterangannya yang tidak tinggi.

Baca lebih lanjut

Kerancuan Penataan Pernalaran

Lampung Post, 24 Nov 2010. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

PERNALARAN adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Dengan perkataan lain, pernalaran ialah proses mengambil simpulan dari bahan bukti atau petunjuk atau yang dianggap barang bukti atau petunjuk (Moeliono, 1988: 124-125).

Masalah kerancuan sering terjadi di mana-mana. Dalam arti, kerancuan muncul baik dalam ragam lisan maupun tulis. Apabila kerancuan terdapat pada ragam bahasa lisan, hal itu tidak begitu terasa karena konteks situasi pembicaraan pada umumnya justru turut menentukan makna atau maksud suatu pernyataan yang disampaikan. Akan tetapi, situasi semacam itu tidak terdapat pada ragam bahasa tulis.

Baca lebih lanjut

Salah Kaprah Karena Mubazir

Lampung Post, 1 Sep 2010. Ninawati Syahrul, Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, kita akrab sekali dengan bentuk-bentuk kebahasaan, seperti turun ke bawah, naik ke atas, dan maju ke depan. Bentuk-bentuk tersebut boleh dikatakan sebagai bentuk yang mubazir. Bentuk mubazir bila dibiarkan terjadi terus-menerus bisa jadi akan dapat berubah menjadi bentuk salah kaprah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru, kaprah dimaknai sebagai lazim atau biasa. Dengan demikian salah kaprah dapat diartikan sebagai kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan lagi sebagai kesalahan. Karena sudah menjadi kelaziman, penolakan pun terjadi jika upaya pelurusan dilakukan. Penolakan lazimnya dilakukan karena terdapat rasa janggal pada bentuk kebahasaan hasil pelurusan.

Baca lebih lanjut

Di Balik Koranisasi dan Radionisasi

Lampung Post, 14 Jul 2010. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Media. Sumber: iStockphotoAPA sesungguhnya yang ada di balik bentuk koranisasi dan radionisasi dari segi kebahasaan? Bentuk koranisasi dan radionisasi sepertinya sama karena sama-sama berakhir dengan ‘isasi’.

Sekalipun kedua bentuk itu sepertinya sama, kenyataannya tidak demikian. Bentuk koranisasi memiliki kata dasar koran, sedangkan radionisasi memiliki kata dasar radio. Karena yang pertama berakhir dengan bunyi konsonan, yakni konsonan (n), bentuk -isasi dapat begitu saja ditempelkan hingga menjadi bentuk koranisasi.

Baca lebih lanjut

Memasyarakatkan Olahraga dan Memberolahragakan Olahraga

Lampung Post, 26 Mei 2010. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

PADA saat-saat tertentu banyak dipasang spanduk atau kain rentang. Spanduk tidak jarang dipasang dengan warna yang bermacam-macam dan huruf yang besar-besar. Tentu spanduk ini dipasang di tempat-tempat yang ramai, baik ramai oleh orang yang berlalu lalang, maupun ramai oleh arus kendaraan.

Jika kita amati, sebagian yang tertulis pada spanduk sudah merupakan pernyataan yang benar, tetapi tidak sedikit pula yang memperlihatkan pernyataan yang tidak benar. Memang, bunyi spanduk itu sedap didengar karena ada unsur rima yang harmonis memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Akan tetapi, maknanya tidak didukung oleh bentuk yang ada.

Baca lebih lanjut

Bebas Parkir Boleh dan Bebas Rokok Jangan

Lampung Post, 12 Mei 2010. Ninawati Syahrul, M.Pd.: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

DI halaman sebuah rumah, terpampang tulisan ‘Bebas Parkir’. Sungguh baik hati orang yang memiliki tempat tersebut dengan memberikan keleluasaan kepada pengendara untuk memarkir sepeda motor dan mobilnya di sana. Padahal, tidak jarang kita menemukan tulisan yang bernada sebaliknya. Pemilik halaman rumah tidak segan-segan menempelkan papan pengumuman yang bertuliskan ‘Dilarang Parkir! Banyak Kendaraan Keluar Masuk’.; ‘Dilarang Parkir Di Sepanjang Pagar Ini!’; dan ‘Dilarang Parkir Di Depan Pintu Ini!”

Bebas parkir sering dipakai sebagai terjemahan dari free parking. Terjemahan seperti ini kurang tepat. Hal ini disebabkan dalam bahasa Indonesia bentuk bebas parkir artinya adalah bebas untuk parkir (memarkir kendaraan) atau leluasa untuk parkir. Maka, implikasi makna di balik bentuk itu adalah bahwa orang dapat dengan semaunya memarkir kendaraannya.

Baca lebih lanjut