Banjir Resolusi

Lampung Post, 12 Jan 2011. Oyos Saroso H.N.: Jurnalis dan pencinta bahasa Indonesia.

Sumber gambar: Kettlebell.com

MENJELANG tutup tahun 2010, banyak kawan di jejaring sosial Facebook dan Twitter yang membuat status dengan kata “resolusi”. Seorang pemilik akun Facebook menulis: “Resolusi 2011: saya akan berusaha semua target tercapai. Amin”. Kawan lain menulis: “Resolusi saya pada 2011 adalah bisa mewujudkan semua saya dan harapan orang tua.”

Berita selebritas di televisi pun juga berhambur kata “resolusi”. Banyak artis yang tiba-tiba fasih mengucapkan kata “resolusi”. Para pemburu berita pun kemudian turut menyebarluaskan kata “resolusi” itu dengan enteng.

Setahu saya sejak zaman Majapahit sampai menjelang akhir tahun 2010 tidak pernah terdengar ada orang (individu) akan melakukan resolusi pada setahun mendatang. Yang dimaksud mungkin adalah keputusan, program, rencana, atau mimpi besar yang ingin diwujudkan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Akhiran “ir” dan “isasi”

Lampung Post, 29 Des 2010. Oyos Saroso H.N.: Jurnalis.

GARA-GARA Soekarno-Hatta “memproklamirkan” kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka akhiran “ir” seolah menjadi salah satu khazanah akhiran dalam bahasa Indonesia. Maka, dalam praktik berbahasa sehari-hari, banyak orang latah dengan sering menyebut kata “koordinir”, “mengakomodir”, “mempolitisir”, dan sebagainya.

Sialnya, pemakaian akhiran “ir” ini sungguh produktif. Mungkin karena masyarakat gemar analogi. “Mengkoordinir” pembentukannya dianalogikan dengan “memproklamirkan”. Padahal, sebenarnya sudah ada padanan akhiran “ir” dalam bahasa Indonesia, yaitu “isasi”. Namun, nah di sinilah lucunya, akhiran “sasi” atau “isasi” itu sendiri sebenarnya juga bukan akhiran asli bahasa Indonesia. Ia merupakan serapan dari akhiran bahasa asing.

Baca lebih lanjut

Bahasa Media Massa

Lampung Post, 8 Des 2010. Oyos Saroso H.N.: Jurnalis.

“MUNGKIN tidak semua wilayah bisa terkover pemerintah karena anggaran yang terbatas. Pemerintah bisa memberikan data dan perusahaan bisa memberikan CSR-nya di sana,” kata dia.

Kalimat dia atas saya cuplik dari berita Lampung Post berjudul “CSR Harus Sinergi dengan Pembangunan” (3 Desember 2010, halaman 13). Tak ada yang salah dalam kalimat tersebut. Namun, sebagai pembaca saya terganggu dengan pemakaian kata “terkover” dan “memberikan CSR”.

Barangkali, si narasumber memang menyebut kata “tercover” lalu ditulis si wartawan dengan terkover. Kalaupun kata kover sudah ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebenarnya lebih pas jika terkover diganti dengan tercakup, tertampung, atau teratasi.

Baca lebih lanjut

Sekali Lagi, ‘Alay’

Lampung Post, 10 Nov 2010. Oyos Saroso H.N.: Jurnalis.

Akhir-akhir ini saya sering ditanya oleh banyak kawan tentang maraknya pemakaian bahasa gaul anak muda yang sering disebut sebagai bahasa alay. Pertanyaan bernada cemas biasanya berasal dari kalangan pendidik: apakah lama-lama bahasa gaul ala remaja itu tidak merusak bahasa? Bagaimana nanti nasib bahasa Indonesia jika bahasa alay justru lebih banyak dipakai?

Kecemasan itu wajar jika penutur bahasa Indonesia di perkantoran atau forum-forum resmi sudah menggunakan bahasa alay. Namun, jika para pendidik dan para muridnya, para pejabat dan anak buahnya, para bos dan karyawannya masih memakai bahasa Indonesia di lingkungan mereka, bahasa alay tak perlu dicemaskan. Kondisinya justru bisa dibalik: bagaimana kalau bahasa alay dibiarkan berkembang? Eh, siapa tahu pada tataran tertentu bisa memperkaya bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Politik Warna, Bahasa Warna

Lampung Post, 31 Mar 2010. Oyos Saroso H.N: Jurnalis dan pencinta bahasa Indonesia.

“Warna hijau dan kuning sebenarnya cocok. Hutan menghijau. Tapi kalau tananam mau berhasil harus menguning,” kata Jusuf Kala, saat menghadiri acara menanam pohon dalam rangka Bulan Menanam Pohon di sebuah bukit kritis Desa Ciuyah, Sajira, Lebak, Provinsi Banten, akhir Desember 2008 lalu. Kalla ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dan Ketua Umum Partai Golkar.

“Kalau padi mau dipanen itu menguning, akan cocok kalau langit biru. Kalau merah biasanya bahaya. Merah kan kebakaran hutan. Hahaha…” ujar Kalla, diakhiri dengan tawa lepas dan tepuk tangan ribuan undangan.

Baca lebih lanjut