Deparpolisasi

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 25 Apr 2016

Ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memutuskan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah sebagai calon independen, dunia politik geger. Sejumlah partai politik melakukan manuver agar Ahok-panggilan Basuki-gagal maju dalam pemilihan gubernur pada 2017.

Kegerahan partai politik ini dapat dimengerti karena sampai saat ini popularitas Ahok masih tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada calon-calon gubernur Jakarta lainnya yang sudah mengumumkan diri. Jika Ahok berhasil maju dan bahkan menang, partai politik tak diperlukan lagi dalam percaturan politik. Toh, tanpa partai pun seseorang bisa maju menjadi kepala daerah.

Baca lebih lanjut

Ikan Paus dan Iwak Pitik

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 23 Mar 2015

Ilustrasi: Cecilia Hidayat

Ada diskusi abadi antara saya dan istri saya: apakah kita boleh menyebut paus sebagai “ikan paus”? Obrolan dengan topik ini tak pernah tuntas dan selalu muncul kembali saat ada pemicunya. Hal terakhir yang membuat kami mendiskusikannya adalah kehadiran buku cerita anak-anak yang ditulis sastrawan Clara Ng.

Baca lebih lanjut

Sebelum Kita Mengenal Cokelat

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 12 Mei 2014)

Pekan lalu, sambil memplontosi kepala saya, pemangkas rambut menawarkan madu merah dari Kalimantan. Rupanya, berjualan madu ini adalah bisnis sampingannya. Ia memanfaatkan ketidakberdayaan saya saat dipangkas untuk memasarkan jualannya dengan leluasa. Saya tak tertarik membahas khasiat madu yang ia lebih-lebihkan. Saya lebih tertarik membahas kenapa dia menyebut madu di dalam botol transparan di atas meja itu sebagai madu merah. “Karena warnanya memang merah,” kata pemangkas asal Garut itu. Saya berkeras menyatakan bahwa warna madu itu cokelat. Kesepakatan tak tercapai, dan saya tidak membeli madunya.

Pengalaman serupa saya temui beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Madura. Seorang teman mengajak saya melihat sapi karapan yang, kata dia, berwarna merah. Saya penasaran karena belum pernah melihat sapi merah. Setahu saya, sapi itu berwarna putih-hitam, putih, atau cokelat. Saya kecele, sapi yang diyakini merah itu ternyata berwarna cokelat mengkilat. “Itu bukan cokelat, itu merah,” ujar teman saya berkeras. Menurut dia, warna cokelat itu seperti daun jendela yang dipelitur. Menurut saya, warna daun jendela dan daun telinga sapi karapan itu sama-sama cokelat, meski berbeda kegelapannya.

Baca lebih lanjut

Di Mana Tu(h)an?

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 5 Mei 2013)

Bulan lalu saya Jumatan di sebuah masjid dengan nama yang cukup indah, Taman Ibadah. Agak jarang tempat ibadah umat Islam memakai nama dari bahasa Indonesia. Hampir semua masjid memakai nama dari bahasa Arab, seperti At-Taqwa (nama paling banyak dipakai untuk masjid Muhammadiyah), Al-Muhajirin (biasanya di kompleks perumahan, karena berarti orang-orang yang pindah), dan Masjid Al-Qithaar (artinya kereta api, karena terletak di dekat stasiun di Surabaya).

Khatib berkhotbah tentang keimanan dan kepatuhan kepada Tuhan. Tapi, sepanjang ceramah, dia sama sekali tidak menyebut kata Tuhan. Ini bukan pertama kali saya mendengar ceramah dari seorang mubalig yang alergi pada kata Tuhan. Dan alasan yang saya dengar dari mereka yang menolak menyebut Tuhan ini agak aneh: “Seharusnya kita menyebut Allah, bukan Tuhan. Karena Tuhan itu bisa berarti banyak, sedangkan Allah hanya satu.” Agak ganjil. Bukankah, dalam iman tauhid, Tuhan itu hanya satu? Artinya, kita tak perlu khawatir akan tertukar oleh Tuhan lain saat menyebut kata Tuhan.

Baca lebih lanjut

Elegan, Glamor, dan Celine Dion

Majalah Tempo, 6 Feb 2012. Qaris Tajudin, Wartawan

Pekan lalu, di kolom ini ada tulisan menarik dari Rohman Budijanto. Ia mengamati sejumlah merek mode–dari busana hingga minyak wangi–yang unik, bahkan cenderung nyeleneh, atau “subversif”. Nama-nama produk mode itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdengar lebih aneh lagi.

Di antaranya ada True Religion (denim), Poison (parfum dari Christian Dior), Opium (parfum, Yves Saint Laurent), Agent Provocateurs (lingerie, parfum), Envy Me dan Guilty (keduanya parfum dari Gucci), Bathing Ape (produk fashion, lengkapnya A Bathing Ape in Lukewarm Water, disingkat BAPE), dan Urban Decay (mode).

Tulisan ini tidak akan menyanggah kolom Rohman, bahkan ingin melengkapinya. Saya hanya ingin menjelaskan dua hal yang belum terlalu diulas oleh tulisan berjudul “’Agama Sejati’ dan Celana Jins” itu.

Baca lebih lanjut

Busana Muslim

Majalah Tempo, 1 Agu 2011. Qaris Tajudin, Wartawan

Di hari-hari menjelang Ramadan, frasa “busana muslim” menjadi tren, muncul di mana-mana. Dari gerai-gerai pusat belanja hingga di artikel-artikel media massa. Tren ini akan terus berlangsung hingga Lebaran nanti. Maklum, pada bulan suci dan Lebaran, permintaan akan busana muslim memang tinggi. Banyak orang ingin terlihat lebih religius.

Reaksi ekonomis kenaikan permintaan ini adalah peningkatan suplai. Mulai butik para desainer ternama hingga toko di Tanah Abang menggenjot produksi busana muslim dan lalu mengiklankannya. Para desainer biasanya menggelar peragaan busana sebulan menjelang Ramadan. Pada saat yang sama, toko-toko busana menempel tulisan besar-besar: “Busana Muslim”.

Baca lebih lanjut

Makzul

Majalah Tempo, 8 Nov 2010. Qaris Tajudin: Wartawan.

“Impeachment bukan pemakzulan.” Demikian Saidi A. Xinnalecky memulai tulisannya di rubrik ini dalam kolom berjudul “Hikayat Pemakzulan” (Tempo, 25-31 Oktober 2010). Xinnalecky mengatakan kata makzul tidak tepat untuk menggantikan impeachment karena dalam bahasa aslinya (Arab) makzul tidak berarti menurunkan penguasa.

Ada banyak dalil yang ia utarakan, termasuk mengutip pengertian kata ‘azala (kata kerja dari ma’zul) di kamus-kamus bahasa Arab. Karena itu, Xinnalecky mengusulkan pencarian kata selain pemakzulan untuk menerjemahkan impeachment.

Baca lebih lanjut

Minimalisme

Majalah Tempo, 26 Jul 2010. Qaris Tajudin: Wartawan Tempo.

Bola lampu. iStockPhotoDalam sejumlah kesempatan memberikan pelatihan menulis di sekolah dan kampus, ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan. Para siswa dan mahasiswa itu selalu punya kendala dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Walhasil, sebelum bicara tentang teknik menulis dan pernak-perniknya (termasuk membenarkan kesalahan eja yang parah), saya harus menghabiskan setengah waktu untuk memotivasi mereka mengungkapkan sesuatu dengan cara beragam.

Baca lebih lanjut

Tentang Tahi Lalat dan Tetek-bengek

Majalah Tempo, 17 Mei 2010. Qaris Tajudin: Wartawan.

KreativitasSELAMA ini kita sudah kehilangan humor dan daya imajinasi. Kita semakin serius, kaku, dan tidak jenaka dalam berbahasa, terutama saat mencari nama atau padanan kata dalam bahasa Indonesia. Dari undang-undang hingga istilah digital selalu saja diberi nama yang sangat terperinci dan teknis. Akibatnya, sering kali nama itu menjadi panjang. Pada gilirannya, nama yang panjang itu lalu dibuat singkatan atau akronim hingga kita semakin tak paham dan lebih mengerti jika disampaikan dalam bahasa asing.

Baca lebih lanjut