Lokalisasi

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 8 Agu 2015

Kata lokalisasi kerap dihubungkan dengan seks komersial. Hanya dengan menyebut lokalisasi, orang langsung mengaitkannya dengan tempat jual-beli seks walau secara leksikal berbeda arti. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) Pusat Bahasa, lokalisasi berarti pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan.

Sebagai kompleks jual-beli seks, lokalisasi dipandang sepadan dengan tempat maksiat, dan seks komersial setara dengan perbuatan maksiat. Lokalisasi juga dituduh sebagai penyebab perdagangan perempuan dan anak-anak. Umumnya, moralitas dijadikan alasan utama penolakan atau penutupan lokalisasi.

Baca lebih lanjut

Ekstrak

Rainy M.P. Hutabarat*, Majalah Tempo, 11 Mei 2015

Ilustrasi: NutraIngredients-USA

Dalam kampanye pemilihan presiden 2014, kata ekstrak mendadak ramai digunakan sebagai satire. Awalnya, pemakaian kata ini sepi-sepi saja, terbatas di lingkungan bisnis produk-produk herbal, seperti obat-obatan dan suplemen makanan. Di pasar swalayan atau toko khusus obat dan vitamin, kata ini mudah ditemukan pada kotak atau wadah, antara lain ekstrak bawang putih tunggal, ekstrak bengkuang, ekstrak mengkudu atau ekstrak buah noni, ekstrak daun sirsak, ekstrak kunyit putih, ekstrak temu lawak, ekstrak temu putih, ekstrak jahe merah, dan ekstrak daun jati Belanda. Berbagai produk obat dan suplemen makanan impor juga menggunakan kata extract untuk sari simplisia nabati: garlic extract, grape fruit seed extract, Hawaiian noni extract, atau standardized herbal extract. Iklan ekstrak kulit manggis yang muncul beberapa kali dalam sehari di salah satu stasiun televisi komersial meletupkan popularitas kata ini ke seantero negeri.

Baca lebih lanjut

Bahasa Ibu dan Bahasa Etnik

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 11 Apr 2015

Tulisan Saut Poltak Tambunan bertajuk ”Bahasa Ibu, Apa Perlunya?” di rubrik ini (28 Februari 2015), mengingatkan kembali ihwal ancaman kepunahan bahasa-bahasa etnik. Saat ini, tersisa 746 bahasa daerah di Indonesia dan pada akhir abad ke-21 diperkirakan hanya 75 bahasa daerah yang bertahan. Sori Siregar menanggapi dengan tulisan bertajuk ”Pintu Budaya Etnik” (14 Maret 2014). Ia mengaku baru bisa menikmati karya Poltak, Mangongkal Holi, yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage ”setelah buku pemenang itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau dengan bantuan kamus Batak, kalau ada.” Menurut Sori, ”Bahasa daerah yang kita sebut juga dengan bahasa ibu, seharusnya diberi tempat khusus di dunia pendidikan sejak awal.”

Baca lebih lanjut

Bakar dan Panggang

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 14 Feb 2015

Tiba-tiba, kami mempersoalkan kata bakar dan panggang. Pasalnya, seorang teman menolak makanan yang dibakar, entah ayam, ikan, kambing, jagung, entah pisang. ”Saya mau yang dipanggang di oven. Terhadap yang dibakar, saya khawatir arang yang digunakan memicu karsinogen,” katanya. Terlepas dari soal karsinogen yang disebut-sebut pemicu sel kanker, ada pertanyaan: apakah beda panggang dan bakar?

Baca lebih lanjut

“Walk Out” dan “All Out”

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 8 Nov 2014

Bayangkan, nasib demokrasi di Tanah Air diobok-obok oleh dua ungkapan ini: walk out dan all out. Partai Demokrat yang diharapkan ikut mempertahankan pemilihan kepada daerah (pilkada) langsung ternyata walk out. Esok harinya beredar berita bahwa Susilo Bambang Yudoyono, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, justru menginstruksikan sebaliknya: all out. Publik gempar, marah, dan menuduh SBY sendiri pemain utama di balik permainan kata ini. SBY memang sudah menyatakan secara publik, dan dapat disaksikan di Youtube, secara pribadi ia mendukung pilkada langsung. Namun, bagi publik itu tak lebih dari pencitraan. Sampai sekarang tak ada penjelasan resmi dari fraksi bersangkutan, hanya komentar beberapa pengurusnya yang kebetulan diwawancarai media daring.

Baca lebih lanjut

Capres Sebelah

Rainy MP Hutabarat* (KOMPAS, 2 Agu 2014)

Keistimewaan Pemilihan Presiden 2014, selain hanya ada dua calon presiden-wakil presiden yang bertarung, adalah keterlibatan ribuan relawan di seantero negeri plus tatkala Indonesia tercatat sebagai salah satu negara teratas pengguna Facebook dan Twitter. Kehadiran relawan ditunjang media sosial telah mengubah komunikasi politik dan meningkatkan partisipasi publik dalam pemilu. Jika sebelumnya komunikasi politik cenderung vertikal (dari atas ke bawah), kini horizontal (dari rakyat ke rakyat). Ini berlangsung baik di media sosial maupun pertemuan para relawan. Berpolitik yang semula dianggap berat dan kerap jahat, sekarang dialami sebagai kegembiraan: pesta rakyat.

Soal penting dalam kampanye pemilihan presiden berbasis relawan adalah bagaimana mengodefikasikan calon presiden-wakil presiden pilihan dan kubu sendiri dengan jargon bermakna, menarik, dan mudah diingat. Beberapa jargon populer muncul dalam kampanye dan pergaulan di media sosial: Salam 2 Jari, Victory, Nomor Satu Jaya, Indonesia Bangkit, dan Garuda Merah. Jargon-jargon ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang menguatkan ungkapan tertulis.

Baca lebih lanjut

Jumat Keramat

Rainy M.P. Hutabarat* (Majalah Tempo, 17 Mar 2014)

Istilah “Jumat keramat” kian berkibar di lingkungan pers dan pengguna media sosial. Tanpa penjelasan panjang-lebar, semua paham artinya. Mesin pencari Google menyediakan 1,1 juta keterangan untuk istilah ini, yang tersebar di berbagai situs media daring. Istilah bertuah ini adalah ciptaan media massa untuk peristiwa pemanggilan atau penahanan terduga dan terdakwa korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sepanjang pengamatan saya, sejak didirikan, KPK selalu memanggil untuk memeriksa atau menahan terduga atau terdakwa korupsi pada ­Jumat, yakni setelah muslim, termasuk awak KPK, selesai salat.

Tampaknya, inilah yang merangsang pers menciptakan istilah “Jumat keramat”.

Dalam kehidupan berbagai agama, hari Jumat pun punya tempat istimewa. Kata ini berasal bahasa Arab: al-jum’ah. Artinya persatuan, kerukunan, dan pertemuan. Muslim diperintahkan Allah menegakkan salat Jumat. Hari Jumat dipandang sebagai sayyidul ayyaam wa’idul muslimin (penghulu hari dan hari raya umat Islam).

Baca lebih lanjut

Tambah Nama Beda Harga

Rainy MP Hutabarat* (KOMPAS, 1 Feb 2014)

DI pasar-pasar swalayan berbagai buah memiliki nama unik. Paling jamak nama kota atau daerah: jeruk medan, mangga indramayu, apel malang, dan salak bali. Sebagian buah impor berimbuhan nama negara: jeruk pakistan, apel australia, anggur kalifornia, jambu bangkok. Sebagian lagi menurut warna isi buah: naga merah, naga putih, apel merah, jambu biji merah, semangka kuning, paprika kuning, paprika merah; dan untuk jenis sayur dan umbi: kol ungu, bayam merah, atau ubi jalar ungu.

Nama tak sekadar menunjuk pada daerah atau negara produsen, tetapi juga mutu. Warna pun membedakan harga. Paprika kuning lebih mahal daripada paprika merah dan hijau. Buah naga merah berbeda harga dengan yang putih. Harga kol ungu jauh lebih mahal daripada harga kol putih. Dua faktor penting ikut menentukan harga: kelangkaan dan mutu dari segi kandungan nutrisi.

Baca lebih lanjut

Colenak, Batagor, Misro

Majalah Tempo, 4 Nov 2013. Rainy M.P. Hutabarat, Pekerja media dan penulis

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa telah mencantumkan banyak akronim baru. Rudal (peluru kendali), berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sinetron (sinema elektronik), cerpen (cerita pendek), dan sendratari (seni drama dan tari) hanyalah beberapa contoh.

Karena gemar makanan dan penasaran, saya pun menyu­suri akronim nama-nama makanan dalam kamus tersebut. Beberapa nama penganan terekam: dicocol enak disingkat colenak, yakni “penganan, dibuat dari singkong yang dibakar dan dicocolkan ke kinca (cairan dari gula merah)”; bakso tahu goreng (batagor), “makanan khas Bandung yang dibuat dari tahu berisi adonan bakso kemudian digoreng, diberi kuah kacang atau kuah bakso”; aci dicolok (cilok), “bakso yang dibuat dari tepung kanji dan dihidangkan dengan ditusuk seperti satai”; amis di jero (misro), “penganan dibuat dari singkong dan gula merah yang digoreng seperti comro”; dan oncom di jero (comro), “penganan dari singkong yang diparut, dibentuk bulat panjang, di dalamnya diisi oncom yang dibumbui, kemudian digoreng”. Uniknya, semua akronim itu merupakan nama penganan Sunda.

Baca lebih lanjut

Lagu Keagamaan

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 14 Sep 2013

Ilustrasi: Gallery Gogopix

Pada bulan Ramadhan yang lampau sebuah stasiun televisi di Jakarta menyiarkan perbincangan bertajuk ”Lagu Religi Makin Bersemi”. Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan pada Juni 2013 menggelar sebuah diskusi terbatas untuk para pekerja media Kristen bertajuk ”Peran Strategis Media Religi dalam Mendukung Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Di Indonesia ada beberapa sebutan untuk lagu keagamaan: lagu rohani, lagu dakwah, lagu Islami, lagu qasidah, dan lagu gerejawi. Semua sebutan ini menunjuk kepada fungsi lagu sebagai ungkapan iman dan untuk kebutuhan ritual keagamaan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV mengartikan religi sebagai ’kepercayaan kepada Tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia; kepercayaan (animisme, dinamisme); agama’. Dan agama diartikan sebagai ’ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Jadi religi dan agama berpadanan, namun dipandang berbeda cakupan. Arti kata religi lebih luas, meliputi animisme dan dinamisme, sedangkan pengertian agama ditekankan pada monoteisme.

Baca lebih lanjut