Asli

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 21 Jan 2017

Di berbagai kota cukup sering saya baca ”label” asli pada papan nama rumah makan sate kambing: ”Sate Kambing Haji Darsono Asli”, ”Sate, Tengkleng, Sop Kambing Pak Karim Asli”, atau ”Sate dan Nasi Goreng Bang Kumis Asli”. Saya terusik, mengapa nama orang mesti ditambah kata asli? Bukankah cukup mencantumkan nama, misalnya, ”Mi Ayam Bakso Bang Gondrong”, ”Gudeg Ibu Darmo”, ”Gepuk Nyonya Liem”, atau ”Nasi Uduk Bang Dul”?

Baca lebih lanjut

Tanda Mata dari Langit

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 19 Nov 2016)

anak-anak kecil/bermain di jalan-jalan/kehilangan tanah lapang/pohon tumbang/tembok didirikan/kiri kanan menyempit/ anak-anak terhimpit/anak-anak itu anak-anak kita/ingatlah ketika kau mendirikan rumah/ingatlah ketika kau menancapkan pipa pabrik ….

Cuplikan sajak ”Anak-anak” karya Wiji Thukul itu menggambarkan dunia yang tidak ramah anak. Orang-orang membangun kampung, kelurahan, kecamatan, atau kota tanpa mengingat bahwa anak-anak adalah juga warga yang harus diperhitungkan. Anak-anak kehilangan tempat bermain-main yang aman dan sehat sehingga mereka bermain alip berondok atau bermain tali atau bermain bola di jalan-jalan. Lingkungan kota juga dikepung berbagai spanduk iklan yang bunyinya tidak memperhitungkan kehadiran anak sebagai warga kota. Dalam sebuah kota yang penuh dengan mal, gedung jangkung, dan jalan-jalan yang siang malam riuh dengan kendaraan bermotor, tempat bermain anak telah dikemas atau dipaketkan di play station dan berbagai tempat rekreasi lainnya.

Baca lebih lanjut

Bahasa Lisan di Media Baru, Siapa Takut?

Rainy M.P. Hutabarat*, Kompas, 3 Sep 2016

Kehadiran media baru semakin mengukuhkan bahasa lisan dilengkapi puluhan kode emosi berupa gambar-gambar. Bahasa formal perlahan-lahan bergeser ke wilayah media lama (buku, majalah, jurnal ilmiah, surat kabar cetak). Aplikasi yang tersedia menunjukkan bahwa media dan jejaring sosial dirancang untuk komunikasi yang melibatkan emosi-emosi manusia. Di situs berita daring, misalnya, tersedia sederet kode emosi untuk mengekspresikan reaksi pembaca seusai membaca. Anda tinggal pilih rasa suka, lucu, sedih, takut, takjub, kaget, dan seterusnya. Di jejaring sosial (Facebook, Twitter, Whatsapp, dll) tersedia aplikasi kode emosi yang lebih kaya, termasuk gestur.

Baca lebih lanjut

Tesamoko dan Gender

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 14 Mei 2016)

“Secara umum perbaikan di sini menyangkut baik bentuk atau penyajian maupun kandungan isinya.” (Eko Endarmoko, Mukadimah Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua, April 2016). Bertolak dari kutipan ini, saya langsung mencari kata-kata yang bias gender. Kata pelacur dan senarai sinonimnya segera saya periksa karena pengartian kata-kata tersebut menjadi indikator bahasa yang bebas bias gender.

Baca lebih lanjut

Bidadari

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 19 Mar 2016

Bom Sarinah melambungkan ”72 bidadari” dalam diskusi di media sosial dan opini media cetak. Lebih lengkap lagi: 72 bidadari dan pengantin surga. Bidadari di sini bukan makhluk fana yang bermukim di mayapada, melainkan penghuni surga yang kekal kecantikannya, kesetiaannya, pun cintanya. Tujuh puluh dua bidadari itu merupakan hadiah bagi setiap lelaki yang tewas sebagai syahid yang lalu menjelma menjadi ”pengantin surga”. Mereka akan melayani pengantin surga sepenuh jiwa-raga.

Baca lebih lanjut

Bahasa sebagai Perlawanan Publik

Rainy MP Hutabarat*, KOMPAS, 16 Jan 2016

Rakyat Indonesia rupanya punya cara kreatif dalam merespons berbagai keputusan sosial politik yang mengusik nalar sehat dan ulah politikus. Salah satu adalah pelesetan, bentuk perlawanan publik melalui bahasa yang muncul di setiap rezim dan marak pada era Orde Baru hingga sekarang. Pelesetan adalah kritik atau sindiran berwajah humor dan banyak digunakan rakyat dengan memanfaatkan berbagai media: kaus, stiker, komedi, obrolan, media sosial, dan syair lagu oleh pengamen di bus kota.

Baca lebih lanjut

Lokalisasi

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 8 Agu 2015

Kata lokalisasi kerap dihubungkan dengan seks komersial. Hanya dengan menyebut lokalisasi, orang langsung mengaitkannya dengan tempat jual-beli seks walau secara leksikal berbeda arti. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) Pusat Bahasa, lokalisasi berarti pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan.

Sebagai kompleks jual-beli seks, lokalisasi dipandang sepadan dengan tempat maksiat, dan seks komersial setara dengan perbuatan maksiat. Lokalisasi juga dituduh sebagai penyebab perdagangan perempuan dan anak-anak. Umumnya, moralitas dijadikan alasan utama penolakan atau penutupan lokalisasi.

Baca lebih lanjut

Ekstrak

Rainy M.P. Hutabarat*, Majalah Tempo, 11 Mei 2015

Ilustrasi: NutraIngredients-USA

Dalam kampanye pemilihan presiden 2014, kata ekstrak mendadak ramai digunakan sebagai satire. Awalnya, pemakaian kata ini sepi-sepi saja, terbatas di lingkungan bisnis produk-produk herbal, seperti obat-obatan dan suplemen makanan. Di pasar swalayan atau toko khusus obat dan vitamin, kata ini mudah ditemukan pada kotak atau wadah, antara lain ekstrak bawang putih tunggal, ekstrak bengkuang, ekstrak mengkudu atau ekstrak buah noni, ekstrak daun sirsak, ekstrak kunyit putih, ekstrak temu lawak, ekstrak temu putih, ekstrak jahe merah, dan ekstrak daun jati Belanda. Berbagai produk obat dan suplemen makanan impor juga menggunakan kata extract untuk sari simplisia nabati: garlic extract, grape fruit seed extract, Hawaiian noni extract, atau standardized herbal extract. Iklan ekstrak kulit manggis yang muncul beberapa kali dalam sehari di salah satu stasiun televisi komersial meletupkan popularitas kata ini ke seantero negeri.

Baca lebih lanjut

Bahasa Ibu dan Bahasa Etnik

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 11 Apr 2015

Tulisan Saut Poltak Tambunan bertajuk ”Bahasa Ibu, Apa Perlunya?” di rubrik ini (28 Februari 2015), mengingatkan kembali ihwal ancaman kepunahan bahasa-bahasa etnik. Saat ini, tersisa 746 bahasa daerah di Indonesia dan pada akhir abad ke-21 diperkirakan hanya 75 bahasa daerah yang bertahan. Sori Siregar menanggapi dengan tulisan bertajuk ”Pintu Budaya Etnik” (14 Maret 2014). Ia mengaku baru bisa menikmati karya Poltak, Mangongkal Holi, yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage ”setelah buku pemenang itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau dengan bantuan kamus Batak, kalau ada.” Menurut Sori, ”Bahasa daerah yang kita sebut juga dengan bahasa ibu, seharusnya diberi tempat khusus di dunia pendidikan sejak awal.”

Baca lebih lanjut

Bakar dan Panggang

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 14 Feb 2015

Tiba-tiba, kami mempersoalkan kata bakar dan panggang. Pasalnya, seorang teman menolak makanan yang dibakar, entah ayam, ikan, kambing, jagung, entah pisang. ”Saya mau yang dipanggang di oven. Terhadap yang dibakar, saya khawatir arang yang digunakan memicu karsinogen,” katanya. Terlepas dari soal karsinogen yang disebut-sebut pemicu sel kanker, ada pertanyaan: apakah beda panggang dan bakar?

Baca lebih lanjut