Mudik

Rohman Budijanto*, Majalah Tempo, 6 Jul 2015

Ilustrasi: Dakwatuna

Mudik adalah kata yang mengalami peningkatan martabat. Sejak menjadi sebutan untuk tradisi eksodus tahunan menyambut Lebaran, kata ini makin jauh dari makna asalinya, yakni “mengudik” atau menuju udik. Kata “udik” ini pernah menjadi ejekan untuk orang yang tertinggal kemajuan. Sergahan “dasar udik” atau “maklum, dari udik” atau “udik banget” menjadi ekspresi merendahkan. Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota, ternyata berasal dari “udik” dan mengikuti tradisi “mudik”. Kata “udik” pun kian jarang disebut untuk menghina.

Baca lebih lanjut

Istilah Kampanye Hitam yang Salah Kaprah

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 9 Jun 2014)

SEORANG kawan asal Malang, Jawa Timur, yang sedang belajar di London mempertanyakan kenapa media-media di Indonesia memakai istilah “kampanye hitam” untuk menyebut serangan opini yang buruk tentang pihak lawan politik. Dia, mungkin juga banyak orang lain, heran mengapa warna hitam selalu diidentikkan dengan sesuatu yang buruk. Di negara-negara yang penghormatan hak asasi manusianya lebih kuat, kata “hitam” atau black memang harus digunakan dengan lebih hati-hati karena bisa berisiko persoalan rasisme.

Uniknya, istilah “kampanye hitam” seolah-olah diterjemahkan dari bahasa Inggris, black campaign. Padahal, kalau kita memasukkan istilah itu ke mesin pencari di Internet, black campaign justru bisa berarti mulia, yakni gerakan perjuangan opini untuk memperkuat pemenuhan hak-hak asasi, termasuk hak kaum Afro-Amerika (www.blackcampaign.com).

Istilah black campaign yang direproduksi oleh komentator dan politikus, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, adalah bahasa Inggris bentukan kita sendiri, karena dalam bahasa asalnya sudah sangat berbeda makna.

Baca lebih lanjut

Mencuci Uang, Mencuci Dosa

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 16 Des 2013)

PENCUCIAN uang, yang kian banyak disebut, adalah istilah yang ironis. Tak hanya dijeratkan pada orang yang dituduh melakukan korupsi, tapi juga dibidikkan pada tersangka premanisme (Tempo, 9-15 Desember 2013). Ikhtiar ini dimaksudkan agar pelaku kejahatan kian tak gampang menikmati harta jarahannya.

Letak ironi pilihan kata “pencucian uang” ada pada maknanya. Jika terminologi itu dimaknai secara harfiah, mencuci uang semestinya membuat uang kotor jadi bersih-seperti halnya mobil, baju, sepatu, atau kaus kaki yang menjadi bersih setelah dibasuh. Namun diputarnya uang kotor hasil kejahatan dalam aneka cara pencucian uang tak membuat uang itu jadi bersih, tapi malah menimbulkan kejahatan baru, kekotoran baru.

Baca lebih lanjut

Kerajaan Republik Indonesia

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 23 Sep 2013)

Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia banyak bersimpang jalan, meski berakar dari bahasa puak Melayu. Berbagai reaksi mewarnai pergeseran makna dalam satu kata yang sama-sama digunakan oleh kedua bahasa. Persis seperti yang digambarkan Saudara Ahmad Sahidah dalam ulasannya tentang jarak makna antara bahasa Indonesia dan Malaysia (“Menemukan Kata Bersama“, Tempo, 9-15 September 2013).

Tak jarang jarak makna ini memang jungkir-balik. Simak contoh kabar di Berita Harian, Malaysia, edisi 25 Juni lalu, berjudul “Presiden Indonesia Minta Maaf”, tentang asap (jerebu) akibat kebakaran hutan yang mengotori udara jiran.

Baca lebih lanjut

Sekat Kultural Istilah Agama

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 21 Jul 2013)

SAAT ujian bahasa Indonesia sekolah menengah atas, saya pernah menemukan soal seperti ini. Dari bahasa apa kata agama, pahala, dosa, surga, dan neraka? Jawabannya pilihan ganda: Arab, Inggris, Belanda, Sanskerta. Ini soal yang cukup menjebak. Lima kata tadi lebih mudah diasosiasikan berasal dari bahasa Arab, karena para pengkhotbah dan dai sering menyebutkannya. Namun, jika dikaji sedikit lebih dalam, mudah diketahui kata-kata itu berasal dari bahasa Sanskerta atau bahasa kultural Hindu.

Kelima kata tersebut juga serumpun dengan kata sembahyang. Kaum muslim puritan mulai meninggalkan kata bentukan yang melibatkan bahasa Sanskerta ini, karena dimaknai berasal dari kata sembah dan hyang. Tuhan dalam Islam tak disebut hyang, tapi ini sebutan untuk umat Hindu. Lagi pula, kalau muslim mau menyesuaikan kata sembahyang dengan sembahallah, misalnya, agak terlalu memaksa. Karena itulah kata sembahyang kerap diganti dengan istilah asli dari bahasa Arab, yakni shalat atau salat atau sholat, sesuai dengan ejaan yang disukai.

Baca lebih lanjut

Daya Tahan Bahasa Uang

Majalah Tempo, 7 Apr 2013. Rohman Budijanto, Wartawan Jawa Pos

Pembicaraan bahasa uang kini riuh. Keputusan pemerintah untuk melakukan redenominasi menjadi obrolan publik. Rupiah memang sudah masuk kategori “uang sampah” karena nilainya rendah terlalu banyak nol. Penghilangan tiga nol dari rupiah bisa meningkatkan gengsi mata uang kita.

Satu rupiah, yang resminya masih 100 sen, memang nyaris tak bernilai. Satu rupiah saja sulit dibayangkan nilainya, apalagi satu sen. Tapi, jika rupiah sudah dihilangkan tiga nol, agak lumayan nilainya. Satu rupiah baru akan senilai Rp 1.000 sekarang. Bila Anas Urbaningrum bilang, “Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas,” agak mudah dinilai dengan uang baru.

Baca lebih lanjut

Tuhan Nan Egaliter

Majalah Tempo, 2 Des 2012. Rohman Budijanto, Wartawan Jawa Pos.

Sumber gambar: rockgod.co.nz

ORANG Indonesia seperti berteman dengan Tuhan. Untuk menyebut Sang Pencipta, tak dipakai bahasa penghormatan khusus. Ketika sedang membicarakan Tuhan, kita cukup menyebutnya Dia atau -Nya. Tak perlu sebutan dengan bahasa yang lebih “tinggi”, seperti Beliau. Yang membedakan Tuhan dengan orang adalah kata gantinya yang diawali huruf besar.

Ketika kita berbicara langsung dengan Tuhan pun, kita berbicara dengan akrab. Kita menyebut-Nya dengan Kau, -Mu, atau Engkau. Tidak dengan bahasa yang meraja, misalnya Tuan atau Paduka. Padahal, dengan orang yang kita hormati, kita menyebut dengan ungkapan spesial, “Anda”.

Baca lebih lanjut

‘Agama Sejati’ dan Celana Jins

Majalah Tempo, 30 Jan 2012. Rohman Budijanto, Wartawan

APA kira-kira reaksi publik kita ketika ada secarik produk mode diberi merek “Agama Sejati”? Besar kemungkinan akan gempar. Sulit terpikirkan bagaimana gaya berpakaian bisa diberi label “Agama Sejati”. Tapi, dari kawasan dunia bebas, produk berlabel True Religion ini malah sukses.

Saat masuk ke Indonesia, produk denim kelas atas karya suami-istri dari Los Angeles, Jeffrey dan Kym Lubell, ini tidak menimbulkan kehebohan. Salah satunya karena merek itu tak diindonesiakan, tetap True Religion. Ada jarak psikologis berbahasa yang menjaga agar yang memakai merek itu tidak dianggap sedang “mengamalkan agama sejati”.

Baca lebih lanjut

Bahasa Fiksi dalam Hukum

Majalah Tempo, 5 Des 2011. Rohman Budijanto, Wartawan

NYAWA hukum, selain keadilan, adalah kepastian. Peraturan perundang-undangan (juga putusan hakim) selalu berusaha dihindarkan dari tafsir ganda atas kata-kata hukum. Untuk memastikan, definisinya banyak dijelaskan dalam pasal undang-undang. Tapi, betapapun tingginya tingkat kepastian bahasa hukum, rembesan makna fiksional, rancu, dan ganda tak terhindarkan.

Kita sangat mengenal kejahatan “penggelapan”. Istilah ini resmi dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).  Lazimnya, “penggelapan” berarti membuat gelap atau menghalangi cahaya (agar gelap). Tapi ternyata KUHP, yang merupakan terjemahan dari Wetboek van Strafrecht ala Belanda kolonial, tidak menyebut pemadaman lampu bergilir Perusahaan Listrik Negara sebagai penggelapan. Penggelapan diartikan sebagai perbuatan memiliki barang yang diamanahkan pada seseorang dengan melawan hukum.

Baca lebih lanjut