Makam di Tanah Suci

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 12 Okt 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Setahun lalu, saya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Selain mendapat pengalaman spiritual, saya membawa pulang pengalaman kebahasaan. Pengalaman spiritual berhaji tidak perlu saya jabarkan dalam tulisan ini. Sebab, apa yang saya alami selama 38 hari di Tanah Suci—Madinah dan Mekah—kurang-lebih sama dengan yang dialami jemaah haji pada umumnya. Tidak demikian dengan pengalaman kebahasaan. Mungkin hanya beberapa orang yang tertarik memperhatikannya, termasuk saya.

Baca lebih lanjut

Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 18 Nov 2013)

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut. Gambar kedua, di samping kanan gambar pertama, berupa gambar ayam. Sedangkan gambar ketiga berwujud ikan, tapi berkaki ayam. Ketiga gambar itu dilengkapi keterangan dalam bahasa Jawa. Di atas gambar pertama tertulis iki iwak (ini ikan). Keterangan gambar kedua bertulisan iki pitik (ini ayam). Adapun keterangan gambar ketiga merupakan gabungan gambar pertama dan kedua, yakni iki iwak pitik (ini ikan ayam).

Melihat gambar ketiga berikut membaca keterangan yang menyertainya, reaksi pertama saya adalah mengatakan: mana ada ikan ayam, atau lebih tepatnya: ikan berkaki ayam. Mobilitas ikan tidak menggunakan kaki, tapi berenang dengan menggerakkan sirip dan ekor. Jika manusia berkaki ikan, di dalam dunia dongeng tentu saja ada, yaitu ikan duyung. Meski di alam nyata belum pernah ditemukan ikan ayam, dalam bahasa keseharian kita malah sering mendengar istilah tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Baca lebih lanjut

Kata yang Berkembang Biak

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Agu 2013)

DALAM urusan bahasa, masyarakat Indonesia termasuk yang paling kreatif. Di tangan orang Indonesia, satu kata bisa beranak-pinak. Meski secara fisik fonemik berbeda seratus persen dengan induknya, anak-anak kata baru tidak meninggalkan tali pertautan dengan induknya. Anak kata baru itu ada yang berasal dari serapan kata asing, dari padanan kata Indonesia sendiri, bahkan dari bahasa daerah.

Orang Inggris menyebut pregnant bagi wanita yang tengah hamil. Bangsa kita tidak puas hanya dengan satu kata untuk menerjemahkan pregnant, tapi menggunakan empat kata sekaligus: hamil, bunting, mengandung, dan berbadan dua.

Untuk menyebut orang yang sudah tidak bernyawa, bahasa Inggris hanya menggunakan kata die/dead. Tidak demikian dengan orang Indonesia. Di negeri ini setidaknya terdapat delapan kata yang semakna dengan die/dead, yakni mati, meninggal (dunia), tewas, mampus, wafat, gugur, (ber)pulang, dan mangkat.

Baca lebih lanjut

Pesawat Minum di Depot

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 19 Mei 2013)

Mengapa tempat ini disebut stasiun? Pertanyaan itu selalu menggoda setiap kali saya membeli bensin di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Bukankah stasiun identik dengan kereta api dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan bahan bakar?

Pemakaian istilah stasiun untuk tempat pengisian bahan bakar terasa janggal dan menarik jika kita kaji ulang. Ternyata penggunaan kata stasiun untuk menyebut tempat penjualan bahan bakar memang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi keempat), definisi lema stasiun terkait hanya dengan dua hal, kereta api dan meteorologi, yakni “1 tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dsb; tempat perhentian kereta api dsb; 2 Met bangunan yg dilengkapi peralatan secara khusus untuk melaksanakan fungsi tertentu”. Contohnya stasiun aerologi (stasiun udara atas) dan stasiun bumi (tempat menangkap dan menyebarkan siaran secara elektris)”.

Baca lebih lanjut

Ustad dan Ulama

Majalah Tempo, 3 Mar 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan Penyair

Al-Munawwir“Jika keberatan dengan proses penahanan, kami mempersilakan kuasa hukum Ustad Luthfi mengajukan praperadilan.” Kata ustad dalam pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad sebagaimana dikutip Jawa Pos (7 Februari 2013) itu menarik untuk ditelisik. Kata ustad adalah serapan dari bahasa Arab yang dalam kalimat tersebut digunakan kurang tepat. Bukan lantaran Luthfi Hasan Ishaaq (mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera) sedang terjerat kasus dugaan korupsi impor daging sapi, melainkan kurang akurat dilihat dengan kacamata bahasa.

Dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, lema ustad diterjemahkan sebagai “guru” dalam arti yang luas. Guru atau dosen mata pelajaran/mata kuliah apa saja, tidak sebatas guru yang mengajarkan pelajaran agama. Orang yang mengajar bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan matematika layak menyandang sebutan ustad.

Baca lebih lanjut

Metamorfosis ‘Kiri’

Majalah Tempo, 6 Jan 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan penyair.

Sumber gambar: Fellowship of the Minds

KIRI dan kanan. Antonim dua kata itu tidak terbatas pada arah semata, tapi juga menjalar hingga ke aspek kehidupan lebih luas, dari etika pergaulan sehari-sehari, religi, hingga politik.

Dalam kehidupan sosial-budaya, “kanan” dianalogikan kepada hal-hal baik. Sebaliknya “kiri” dikaitkan dengan yang tidak baik. Ketika anak balita menjulurkan tangan kiri untuk menerima permen pemberian orang, orang tuanya akan segera mencegah dan bilang, “Hayo, tangan kanannya mana?”

Baca lebih lanjut

Binatang yang Memperkaya Bahasa

Majalah Tempo, 16 Des 2012. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan Penyair.

Sumber gambar: Beritagar

Binatang punya sumbangsih besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Selain serapan dari bahasa asing dan daerah, banyak kosakata untuk istilah dan ungkapan dalam bahasa Indonesia berasal dari binatang. Istilah atau ungkapan yang menggunakan nama binatang itu kebanyakan dipakai untuk mewakili ekspresi, baik negatif maupun positif.

Ketika Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, akhir Oktober lalu, menyatakan ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat suka meminta upeti kepada perusahaan negara, muncul istilah sapi perah. Pengamat mengatakan BUMN selama ini menjadi sapi perah para politikus. Bahkan Dialog Petang Metro TV menampilkan visualisasi BUMN “Sapi Perah” DPR dalam bentuk ilustrasi sapi bertulisan BUMN sedang diperah susunya oleh anggota DPR. Andai kawanan sapi perah bisa ngomong, pasti mereka akan ramai-ramai berdemo, memprotes penyelewengan makna itu. ’’Susu kami menyehatkan, kenapa kami disamakan dengan anggota DPR pemeras? Kami tidak terima!’’ kira-kira begitu pekik mulut sapi perah.

Baca lebih lanjut

Tali-temali Gender

Majalah Tempo, 26 Mar 2012. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos

Gerakan Women2Drive mengguncang Arab Saudi. Women2Drive (Linnisai Biqiyadatis Sayyarati), yang dipelopori Manal al-Sharif, asisten computer security perusahaan minyak Aramco, adalah kampanye menuntut hak mengemudi mobil bagi perempuan Arab Saudi yang gaungnya mendunia. Negara-negara Arab lain sudah lebih “liberal”, tak hanya membolehkan mengemudi, tapi juga memberi kemungkinan luas menduduki jabatan publik, sementara persoalan mengemudi mobil masih menjadi persoalan di Arab Saudi.

Konservatisme Arab Saudi ini seakan-akan ahistoris. Sejarah membuktikan, pada awal perjuangan Islam, perempuan Arab bisa berdiri sejajar dengan kaum laki-laki. Selain Khadijah dan Aisyah, ada nama Nusaibah binti Kaab atau Ummu Imarah (pejuang logistik dalam Perang Uhud), Asma binti Abu Bakar, Rufaidah binti Sa’ad (organisator perawat korban perang), Asma binti Yazid al-Anshariyah (orator wanita ulung), untuk menyebut beberapa nama pemuka kaum perempuan.

Baca lebih lanjut