Bahasa Menunjukkan Harga

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 8 Jan 2018)

Bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa itu sangat karib dengan telinga kita. Maklum, ia sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahkan dulu guru saya di sekolah dasar mendoktrinkan jiwa nasionalisme kepada muridnya dengan peribahasa itu. Walhasil, kami hafal di luar kepala, sekalian artinya: baik-buruk sifat dan tabiat orang dan/atau bangsa dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tadarus

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Jun 2017)

Selain berpuasa di siang hari, membaca Al-Quran adalah ibadah yang banyak dilakukan muslimin selama Ramadan. Setiap malam, begitu tarawih kelar, surau dan masjid tak pernah sepi oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Kegiatan membaca Al-Quran di malam Ramadan bisa sampai tengah malam, bahkan ada yang baru berhenti sampai parak makan sahur.

Baca lebih lanjut

Mini

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 13 Mar 2017

Pertamina dan Pertamini. Dua nama yang mirip sekali. Hanya beda satu huruf terakhir: “a” dan “i”. Tak aneh jika kita mengira keduanya memiliki “pertalian darah”. Apalagi setelah melihat sepak terjang Pertamini yang sangat lincah seperti Pertamina. Dalam waktu singkat, ia sudah bertebaran di mana-mana. Berdiri di pinggir-pinggir jalan. Setia menunggu kendaraan yang kehausan di tengah perjalanan. Menunggu sepeda motor dan mobil yang bahan bakar minyak (BBM)-nya menipis dan jarak ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih jauh. Atau si pemilik kendaraan malas pergi ke SPBU karena jarak rumahnya lebih dekat ke Pertamini.

Baca lebih lanjut

SIM atau KIM?

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 6 Jun 2016)

Bahasa Indonesia sedang menghadapi dua masalah sekaligus. Kedua masalah itu bersumber dari faktor internal (baca: penggunanya), bukan dari faktor eksternal. Masalah pertama terkait dengan ancaman kepunahan. Kata dan ungkapan yang pernah populer sebelumnya, perlahan namun pasti, mulai hilang. Bukan menghilang, tapi sengaja dihilangkan. Aktor penghilangnya, mengutip pernyataan Dodi Ambardi (kolom Bahasa! Tempo edisi 23-29 Mei 2016), tidak lain adalah kelompok penemu teknologi, para pengiklan, dan kaum profesional sekolahan.

Baca lebih lanjut

Pinurbo Memeluk Agama

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 2 Mei 2016)

Manusia religius lazimnya memiliki kecenderungan untuk bisa sedekat mungkin dengan Tuhan, terutama ketika menjalankan ritual berdoa. Hal itu wajar. Sebab, dalam pendekatan ilmu bahasa, antara Tuhan dan manusia sebagai ciptaan-Nya memang sangat dekat. Keduanya berasal dari satu akar kata dalam bahasa Arab yang sama, yakni khalaqa. Dari khalaqa berkembang kata Khaliq (pencipta). Dalam ejaan Indonesia ditulis “Khalik” dengan huruf “K” menggunakan huruf kapital karena merupakan sebutan untuk Tuhan. Di depan kata “Khalik” biasanya didahului dengan kata “Sang”. Dari khalaqa juga lahir kata “makhluk” (ciptaan/yang diciptakan).

Baca lebih lanjut

Makam di Tanah Suci

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 12 Okt 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Setahun lalu, saya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Selain mendapat pengalaman spiritual, saya membawa pulang pengalaman kebahasaan. Pengalaman spiritual berhaji tidak perlu saya jabarkan dalam tulisan ini. Sebab, apa yang saya alami selama 38 hari di Tanah Suci—Madinah dan Mekah—kurang-lebih sama dengan yang dialami jemaah haji pada umumnya. Tidak demikian dengan pengalaman kebahasaan. Mungkin hanya beberapa orang yang tertarik memperhatikannya, termasuk saya.

Baca lebih lanjut

Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 18 Nov 2013)

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut. Gambar kedua, di samping kanan gambar pertama, berupa gambar ayam. Sedangkan gambar ketiga berwujud ikan, tapi berkaki ayam. Ketiga gambar itu dilengkapi keterangan dalam bahasa Jawa. Di atas gambar pertama tertulis iki iwak (ini ikan). Keterangan gambar kedua bertulisan iki pitik (ini ayam). Adapun keterangan gambar ketiga merupakan gabungan gambar pertama dan kedua, yakni iki iwak pitik (ini ikan ayam).

Melihat gambar ketiga berikut membaca keterangan yang menyertainya, reaksi pertama saya adalah mengatakan: mana ada ikan ayam, atau lebih tepatnya: ikan berkaki ayam. Mobilitas ikan tidak menggunakan kaki, tapi berenang dengan menggerakkan sirip dan ekor. Jika manusia berkaki ikan, di dalam dunia dongeng tentu saja ada, yaitu ikan duyung. Meski di alam nyata belum pernah ditemukan ikan ayam, dalam bahasa keseharian kita malah sering mendengar istilah tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Baca lebih lanjut