Mini

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 13 Mar 2017

Pertamina dan Pertamini. Dua nama yang mirip sekali. Hanya beda satu huruf terakhir: “a” dan “i”. Tak aneh jika kita mengira keduanya memiliki “pertalian darah”. Apalagi setelah melihat sepak terjang Pertamini yang sangat lincah seperti Pertamina. Dalam waktu singkat, ia sudah bertebaran di mana-mana. Berdiri di pinggir-pinggir jalan. Setia menunggu kendaraan yang kehausan di tengah perjalanan. Menunggu sepeda motor dan mobil yang bahan bakar minyak (BBM)-nya menipis dan jarak ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih jauh. Atau si pemilik kendaraan malas pergi ke SPBU karena jarak rumahnya lebih dekat ke Pertamini.

Baca lebih lanjut

SIM atau KIM?

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 6 Jun 2016)

Bahasa Indonesia sedang menghadapi dua masalah sekaligus. Kedua masalah itu bersumber dari faktor internal (baca: penggunanya), bukan dari faktor eksternal. Masalah pertama terkait dengan ancaman kepunahan. Kata dan ungkapan yang pernah populer sebelumnya, perlahan namun pasti, mulai hilang. Bukan menghilang, tapi sengaja dihilangkan. Aktor penghilangnya, mengutip pernyataan Dodi Ambardi (kolom Bahasa! Tempo edisi 23-29 Mei 2016), tidak lain adalah kelompok penemu teknologi, para pengiklan, dan kaum profesional sekolahan.

Baca lebih lanjut

Pinurbo Memeluk Agama

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 2 Mei 2016)

Manusia religius lazimnya memiliki kecenderungan untuk bisa sedekat mungkin dengan Tuhan, terutama ketika menjalankan ritual berdoa. Hal itu wajar. Sebab, dalam pendekatan ilmu bahasa, antara Tuhan dan manusia sebagai ciptaan-Nya memang sangat dekat. Keduanya berasal dari satu akar kata dalam bahasa Arab yang sama, yakni khalaqa. Dari khalaqa berkembang kata Khaliq (pencipta). Dalam ejaan Indonesia ditulis “Khalik” dengan huruf “K” menggunakan huruf kapital karena merupakan sebutan untuk Tuhan. Di depan kata “Khalik” biasanya didahului dengan kata “Sang”. Dari khalaqa juga lahir kata “makhluk” (ciptaan/yang diciptakan).

Baca lebih lanjut

Makam di Tanah Suci

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 12 Okt 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Setahun lalu, saya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Selain mendapat pengalaman spiritual, saya membawa pulang pengalaman kebahasaan. Pengalaman spiritual berhaji tidak perlu saya jabarkan dalam tulisan ini. Sebab, apa yang saya alami selama 38 hari di Tanah Suci—Madinah dan Mekah—kurang-lebih sama dengan yang dialami jemaah haji pada umumnya. Tidak demikian dengan pengalaman kebahasaan. Mungkin hanya beberapa orang yang tertarik memperhatikannya, termasuk saya.

Baca lebih lanjut

Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 18 Nov 2013)

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut. Gambar kedua, di samping kanan gambar pertama, berupa gambar ayam. Sedangkan gambar ketiga berwujud ikan, tapi berkaki ayam. Ketiga gambar itu dilengkapi keterangan dalam bahasa Jawa. Di atas gambar pertama tertulis iki iwak (ini ikan). Keterangan gambar kedua bertulisan iki pitik (ini ayam). Adapun keterangan gambar ketiga merupakan gabungan gambar pertama dan kedua, yakni iki iwak pitik (ini ikan ayam).

Melihat gambar ketiga berikut membaca keterangan yang menyertainya, reaksi pertama saya adalah mengatakan: mana ada ikan ayam, atau lebih tepatnya: ikan berkaki ayam. Mobilitas ikan tidak menggunakan kaki, tapi berenang dengan menggerakkan sirip dan ekor. Jika manusia berkaki ikan, di dalam dunia dongeng tentu saja ada, yaitu ikan duyung. Meski di alam nyata belum pernah ditemukan ikan ayam, dalam bahasa keseharian kita malah sering mendengar istilah tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Baca lebih lanjut

Kata yang Berkembang Biak

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Agu 2013)

DALAM urusan bahasa, masyarakat Indonesia termasuk yang paling kreatif. Di tangan orang Indonesia, satu kata bisa beranak-pinak. Meski secara fisik fonemik berbeda seratus persen dengan induknya, anak-anak kata baru tidak meninggalkan tali pertautan dengan induknya. Anak kata baru itu ada yang berasal dari serapan kata asing, dari padanan kata Indonesia sendiri, bahkan dari bahasa daerah.

Orang Inggris menyebut pregnant bagi wanita yang tengah hamil. Bangsa kita tidak puas hanya dengan satu kata untuk menerjemahkan pregnant, tapi menggunakan empat kata sekaligus: hamil, bunting, mengandung, dan berbadan dua.

Untuk menyebut orang yang sudah tidak bernyawa, bahasa Inggris hanya menggunakan kata die/dead. Tidak demikian dengan orang Indonesia. Di negeri ini setidaknya terdapat delapan kata yang semakna dengan die/dead, yakni mati, meninggal (dunia), tewas, mampus, wafat, gugur, (ber)pulang, dan mangkat.

Baca lebih lanjut

Pesawat Minum di Depot

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 19 Mei 2013)

Mengapa tempat ini disebut stasiun? Pertanyaan itu selalu menggoda setiap kali saya membeli bensin di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Bukankah stasiun identik dengan kereta api dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan bahan bakar?

Pemakaian istilah stasiun untuk tempat pengisian bahan bakar terasa janggal dan menarik jika kita kaji ulang. Ternyata penggunaan kata stasiun untuk menyebut tempat penjualan bahan bakar memang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi keempat), definisi lema stasiun terkait hanya dengan dua hal, kereta api dan meteorologi, yakni “1 tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dsb; tempat perhentian kereta api dsb; 2 Met bangunan yg dilengkapi peralatan secara khusus untuk melaksanakan fungsi tertentu”. Contohnya stasiun aerologi (stasiun udara atas) dan stasiun bumi (tempat menangkap dan menyebarkan siaran secara elektris)”.

Baca lebih lanjut