Pascakebenaran

Samsudin Berlian (Kompas, 7 Apr 2018)

Ketika nyawa-Nya sedang ditimbang di ujung tanduk, antara bebas dan mati, Sang Guru ditanya sang hakim, “Apakah kebenaran itu?” Sang Guru diam saja. Mungkin Dia tahu, apa pun jawaban yang diberikan tidaklah berarti sebab keputusan, yakni keputusan politik, sudah selesai dijatuhkan sebelum pengadilan dimulai. Mungkin Sang Guru mafhum, di mata sang hakim dan massa penuduhnya, yang penting bukanlah kebenaran, melainkan pascakebenaran.

Baca lebih lanjut

Agar Jaga Jarak Aman

Samsudin Berlian (Kompas, 3 Mar 2018)

Pesastra memperkaya dan memperluas kata dan budaya. Pefilsafat memperdalam dan memperuncing ungkapan dan makna. Pebahasa memolakan dan mempertajam sistem dan tata. Imajinasi dan logika, tradisi dan sistemisasi, semua berperan besar dalam evolusi bahasa yang hidup. Semakin aktif dan kreatif para pebahasa cerdas berhikmat, semakin efektif dan memesona bahasa itu menjadi. Tapi, karya berjuta cerdik cendekia dan bijak bestari tiadalah arti dibandingkan dengan sebaris sabda birokrat pada rakyat semesta.

Baca lebih lanjut

Becak, Becak

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Feb 2018)

Kredit Foto: Nino Citra Anugrahanto untuk Kompas

Ketika masih ditarik kuda, ia dalam bahasa Hokkien disebut bechia. Be berarti ‘kuda’. Chia ‘kereta’. Tapi, mengapa ketika kuda penarik sudah berganti jadi manusia pengayuh, ia tetap disebut becak? Mungkin karena telah terjadi dua hal. Pertama, makna asali becak sudah dilupakan; orang tidak lagi ingat bahwa be- di situ berarti ‘kuda’. Jadi, pengayuh, penumpang, dan pengamat becak tidak merasa heran, apalagi terganggu, tidak melihat kuda di sekitar mereka. Kedua, telah terjadi transposisi sempurna. Kereta yang dikayuh manusia mengambil alih fungsi kereta yang ditarik kuda secara lengkap, sementara keadaan-keadaan lain tidak berubah.

Baca lebih lanjut

“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Baca lebih lanjut

Inlander

Samsudin Berlian* (Kompas, 4 Nov 2017)

In– adalah awalan Latin yang berarti ‘di dalam’. Land berakar pada bahasa-bahasa Jerman atau Teutonik dan sudah dari zaman nenek moyang orang Eropa berarti ‘tanah’ atau ‘daerah/wilayah’. Akhiran -er (asal Jerman juga) berarti ‘orang yang berasal dari’. Jadi, berdasarkan analisis detail, mendalam, ilmiah, historis, logis, metodis, dan semantis yang terkandung di dalam ketiga kalimat bijak di atas, bisa kita simpulkan dengan hakkulyakin bahwa inlander berarti ‘orang udik’.

Baca lebih lanjut

Komunis dkk

Samsudin Berlian* (Kompas, 7 Okt 2017)

Komunis, momok khusus dewasa itu, berakar pada kata penuh faedah. Kata Latin communis berarti ’umum’. Kita kenal dalam bentuk Inggris common. ”Umum” memang lawan kata ”khusus”, tapi tidak kurang pula bermakna ’publik’ atau ’orang banyak atau masyarakat’, seperti yang termaktub dalam nama Pekerjaan Umum, kantor pemerintah yang berfungsi khusus membangun dan mengerjakan prasarana segala macam untuk masyarakat umum. Memang, kata communis juga mengacu pada konsep milik bersama, sesuatu yang dipakai semua orang.

Baca lebih lanjut

Alumni

Samsudin Berlian* (Kompas, 26 Agu 2017)

Alumni berarti anak-anak asuh, lumrah dipahami sebagai lulusan, keluaran, atau jebolan suatu lembaga pendidikan. Biasanya-walaupun tidak harus-ada sertifikat, diploma, atau ijazah yang menjadi bukti sah. Pada intinya kata alumni dipakai untuk orang-orang yang telah melewati suatu masa belajar-bersama di suatu lokasi atau peristiwa tertentu. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris kata itu bisa juga dipakai untuk keluaran semua tingkat sekolah, termasuk sekolah menengah dan dasar, untuk murid yang belum lulus, serta untuk, kadang-kadang, mereka yang putus-sekolah.

Baca lebih lanjut

Individualisme Vs Egoisme

Samsudin Berlian* (Kompas, 29 Jul 2017)

Individualisme lahir dari perhatian terhadap kehidupan bersama. Egoisme adalah pengutamaan kepentingan diri sendiri.

Awalan Latin in- berarti ’tidak’. Dividuus berarti ’bisa dibagi’ atau ’bisa dipisah’, dari dividere, ’membagi’. Membagi di sini berarti memecah sesuatu menjadi beberapa bagian. Jadi individu berarti yang tidak bisa dibagi atau dibelah lagi. Masyarakat bisa dibagi menjadi komunitas yang lebih kecil. Dibagi terus sampai sudah tinggal satu, itulah individu. Kalau dibagi lagi akan jadi pecahan. Hancur. Berantakan. Mati.

Baca lebih lanjut

Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Baca lebih lanjut

Zalimis

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Jun 2017)

Telah lahir pada hari ini istilah baru yang sangat perlu dipahami dalam diskursus sosial politik Indonesia kontemporer. Berikut lema dalam “Kamus Besok Bahasa Indonesia” dan satu kutipan pencerah.

za.li.mis

1. n orang atau kelompok yang zalim; pezalim

2. n orang atau kelompok yang (dianggap) sangat melampaui batas perikemanusiaan dalam bertindak zalim

3. n orang atau kelompok yang menganut, mendukung, membela, dan atau mengembangkan ideologi zalimisme dalam politik

Baca lebih lanjut