Batas-Batas Makna

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 28 Nov 2015

Ilustrasi batas (Sumber: Colette Baron-Reid)

Bagi manusia, tiada kenyataan di luar makna. Kenyataan alam semesta sebagai keseluruhan dan serpihan kenyataan sebagai unsur penyusun dan perekat bangunan alam adalah potensi makna. Realitas dunia menyata di luar kita hanya ketika makna mewujud di dalam pikiran kita. Kalau ada kenyataan di luar makna, kita—per definisi—tak mungkin mengetahuinya. Pun kemampuan pemaknaan manusiawi kita bercacat. Itulah keterbatasan kita.

Baca lebih lanjut

Negeri Vs Negara

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 26 Sep 2015

Ilustrasi: Revlogs

Sudah waktunya negara sedang berkembang disingkirkan. Oh, bukan dengan diserbu, diboikot, atau dibokong. Negara saja yang disikat. Negeri dan rakyatnya, sih, perlu terus disokong dan disorong.

Negara berkaitan dengan kelembagaan, pengorganisasian, pemerintahan, kekuasaan, sistem perpolitikan. Negeri berhubungan dengan tanah air, keluarga besar, kehidupan dan penghidupan rakyat, leluhur, budaya.

Mendengar negeri tumpah darah terbayanglah kampung halaman elok penuh damai cinta tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda dan masa bahagia belajar mencuri mangga muda tetangga. Membaca negara tumpah darah tertayanglah saling bacok baku bunuh tanah mengamis darah merah sungai menggembung mayat putih.

Baca lebih lanjut

Aman dan Merdeka

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Agu 2015

Aman dan terkendali, begitulah sudah berpuluh tahun laporan paling ideal dari lapangan yang bisa disampaikan seorang komandan atau pejabat daerah kepada atasan di Jakarta. Aman tentu mahapenting bukan hanya demi keamanan itu sendiri, melainkan demi segala sesuatu yang hanya bisa hidup dan berkembang di atas keamanan yang langgeng. Suatu negeri yang gagal memelihara keamanan umum, misalnya, tak akan berhasil dalam hal lain apa pun. Hanya orang kuat bersenjata dan kelompok preman yang hidup subur makmur di tengah darah dan maut. Pun cita-cita negeri demokratis dewasa—kebebasan, ketenteraman, kesejahteraan, dst—hanya akan terwujud bila keamanan jangka panjang terjamin. Mengapa terkendali? Apa yang harus dikendalikan? Bagaimana mengendalikan? Pemahaman tentang makna ideal terkendali telah dan akan menentukan sistem kekuasaan publik yang berlaku di negeri ini.

Baca lebih lanjut

Preman

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 25 Jul 2015

Tentu semua tahu preman berasal dari vrijman (Belanda) atau freeman (Inggris). Free ’bebas’. Man ’manusia’. Ada juga yang mengatakan bahwa preman dari pre-man, pra-manusia. Disebut demikian karena tampang dan kelakuan seperti primata sebelum manusia. Kasarnya, manusia macam monyet atau kera. Rasanya ini terlalu dibuat-buat dan tak perlu dipertimbangkan kecuali bukti kuat tertulis bisa ditunjukkan.

Baca lebih lanjut

Selamat Pagi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Jun 2015

Anka berlenggang-lenggok di depan TV. “Selamat pagi,” katanya sambil senyum manis. Delikan ibunya diabaikannya. “Tegur anak itu! Masa lewat tengah malam belum juga tidur.” Mata bapaknya melotot. “Sini kau. Masih gelap. Siapa bilang sekarang pagi?” “Itu, tivi,” jawab Anka. Ibunya tersenyum. Sekali-sekali biar tahu rasa repot beradu mulut dengan anak, pikirnya. Bapak pun menerangkan, “Pagi yang dikenal nenek moyang kita dirumuskan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai waktu setelah matahari terbit hingga jelang siang hari. Matahari belum terbit.” Anka cemberut. “Baru saja penyiar itu bilang sudah pagi. Siapa yang tolol?” “Tidak ada yang tolol. Bukan itu perkaranya. Sini baring di pangkuan. Dengarkan Bapak berkisah.” Ibu berpaling, lalu menguap.

Baca lebih lanjut

Neoliberalisme

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Mei 2015

Neoliberalisme adalah kata kotor. Sumpah serapah. Sebagaimana makian pada umumnya, maknanya sangat subjektif. Yang dimaksudkan pemaki sering kali tak sesuai dengan makna kata. Pokoknya segala yang buruk. Neoliberalisme, terutama dalam bentuk singkatan neolib, adalah tuyul modern, stenograf yang enak dilabelkan kepada si kaya yang dibenci. Serakah, penghancur hutan, perusak lingkungan hidup, penaik harga, konglomerat pelit, tetangga makmur, dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

Korupsi

Samsudin Berlian, KOMPAS, 25 Apr 2015

Korupsi perlu diinterupsi agar negara tidak bangkrupsi. Ya, ya, bangkrut. Alah, begitu saja ribut. Sana beli KIS yang laris manis di media sosial: Kartu Indonesia Sabar. Sila sambil minum kopi. Lepat masih hangat. Lanjut! Korupsi dalam pemakaian umum hanya punya arti sempit, seperti kata KBBI: penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk untung pribadi atau orang lain. Walaupun korup diberi arti pertama lebih luas ’buruk; rusak; busuk’, ia jarang ditemukan dalam arti ini. Sekarang dengar baik-baik sebelum pulsa sabar di kartumu habis, korupsi bermakna jauh lebih luas dan mengerikan daripada itu.

Baca lebih lanjut

Terorisme

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 31 Jan 2015

REVOLUSI Perancis 1789 tidak hanya memberi kita slogan ”Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”. Ia juga memberi kita istilah terorisme sekaligus mencontohkan bagaimana menerapkannya secara sistemik. Pada masa la Terreur, Daulat Teror, 1793-1794, negara Perancis memotong leher puluhan ribu orang. Dengan jujur dan telanjang salah satu pemimpinnya menyatakan, ”Teror tak lain tak bukan adalah keadilan yang serta-merta, polos, kejur.” Aparatur keamanannya dikenal sebagai teroris.

Baca lebih lanjut

Miskin

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Des 2014

Sebelum dikooptasi pemasar dari dunia limpah-ruah bernama Amerika, Natal adalah tentang kemiskinan, bukan urusan hadiah kinclong berbungkus blingbling. Semua kisah Natal Alkitabiah bertema kemiskinan, tiada pesta, dan jauh dari meriah. Keluarga muda di tengah perjalanan yang tak punya uang cukup untuk menyewa kamar sehingga terpaksa bermalam di kandang. Bayi baru lahir yang ditidurkan di dalam tempat minum lembu sapi. Gembala yang meronda di padang menjaga kambing domba dari maling dan binatang buas. Bahkan, cerita pencarian panjang orang kaya yang berjalan jauh dari timur membawa bingkisan mahal toh berpuncak pada kebingungan dan kekagetannya bahwa Sang Raja baru ternyata tak ditemukan di dalam istana mewah.

Baca lebih lanjut