Randedhit

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Mar 2016

Pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, tiga orang Jawa ngobrol di sebuah kampus. Saya salah seorang di antaranya. Meskipun menetap di Jakarta, kami lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Obrolan lancar-lancar saja sampai ketika saya mengucapkan kata randedhit. Salah seorang, yang berasal dari Solo, memahami arti kata itu, tapi orang Jawa yang lain, yang dibesarkan di Kediri, bertanya (dalam bahasa Jawa) apa arti kata itu. Rekan saya yang dari Solo menjelaskan, kata itu berarti “tidak punya uang”, kependekan dari ora duwe dhuwit. Seandainya kami mencari kata itu di kamus bahasa Jawa, tentu sia-sia saja usaha itu. Tentu kita berhak bertanya, mengapa demikian. Letak masalahnya tidak pada perbedaan asal kami, atau pada beragamnya bahasa Jawa, tapi pada perbedaan antara bahasa lisan dan tulis.

Baca lebih lanjut

Impor Kata

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Des 2015

Ilustrasi: iStock

Nama saya Sapardi. Seandainya kakek saya bukan Jawa, mungkin saja nama saya Syafardi, diimpor dari bahasa Arab. Dalam hanacaraka tidak ada aksara ef atau fa; adanya pa. Sya juga tidak ada; adanya sa. Syafar itu bulan kedua dalam kalender Islam, kalender bulan. Nama itu diberikan oleh kakek dari garis ibu. Itu sebabnya kakek yang satu lagi, dari garis ayah, mau ikut menyumbangkan nama. Maka masuklah nama Damono, yang ditaruh di belakang. Maka saya pun bernama Sapardi Damono. Bapak tidak bisa menerima situasi yang menyudutkannya. Beliau merasa tidak diberi hak untuk memberi nama, padahal beliaulah yang telah menghasilkan saya. Diam-diam ditambahkanlah kata Djoko dijepit di antara kedua nama pilihan kakek ini dan kakek itu. Maka terciptalah nama yang bak kereta api, ada tiga gerbongnya. Sapardi jelas asal-usulnya, tapi Damono? Baru jauh kemudian saya tahu bahwa nama itu juga barang impor, dari India asalnya, dari kisah wayang sumbernya.

Baca lebih lanjut

Saya, Aku

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 7 Sep 2015

Ilustrasi: Rose Law Caribbean

Ketika pertama kali dibawa sopir kantor yang baru saja diangkat sebagai pegawai negeri, saya sempat kaget ketika anak muda itu menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Saya, tentu saja, berharap dia menyebut dirinya “saya” seperti kalau saya menyebut diri saya sendiri. Waktu itu, saya merasa dia tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh. Namun saya sama sekali tidak menyinggung apa-apa tentang hal itu. Nama anak muda itu nama Jawa, tentu tidak begitu aneh kalau muncul perasaan yang tidak begitu mengenakkan dalam diri saya, seorang pegawai senior yang umurnya dua kali lipat darinya. Untuk meredakan sikap itu, saya mencoba menggunakan kata ganti “aku” juga kalau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tapi entah mengapa kata ganti itu malah membuat saya merasa lebih tidak enak lagi, merasa kikuk.

Baca lebih lanjut

Gusti Allah

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 1 Jun 2015

Ilustrasi: God Is Real

Begitu masuk ke habitatnya yang baru, segala sesuatu harus rela untuk berubah atau diubah agar sesuai dengan tata pemahaman masyarakat yang menjadi sasarannya. Kita pernah berbincang mengenai proses yang menyangkut nama-nama negara. Sebagai contoh Nederland, yang dalam bahasa Indonesia disebut Negeri Belanda dan dalam bahasa Jawa disebut Negari Welandi atau Negoro Londo, tergantung bahasa Jawa apa yang dipergunakan. Ketika masuk ke bahasa kita, segenap istilah dan sebutan yang berkaitan dengan agama mengalami proses serupa.

Baca lebih lanjut

Mengasah Otak untuk Memecahkan Masalah

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 23 Feb 2015

Ilustrasi: Medical Daily

Konon, kalau ingin cerdas, kita harus sering-sering mengasah otak. Otak dianggap atau disamakan dengan pisau, yang harus sering diasah agar meningkat ketajamannya. Kalau kita menafsirkannya secara harfiah, ungkapan itu sungguh mengerikan. Otak diambil dari kepala, diadu dengan batu pengasah supaya tajam. Di samping itu, otak kita sama sekali berbeda wujudnya dengan pisau, yang memang kita ciptakan sedemikian rupa agar bisa ditajamkan. Bahasa adalah alat komunikasi utama dalam kehidupan, tidak hanya manusia, tapi juga semua makhluk hidup. Kita manusia, oleh karena itu, hanya mengetahui bagaimana cara mengutak-atik alat komunikasi kita ini agar, kira-kira, bisa lebih mampu menyampaikan maksud yang diinginkan. Salah satu hasil utak-atik yang ampuh, kalau tidak boleh dikatakan dahsyat, adalah kiasan.

Baca lebih lanjut

Melestarikan yang Keramat

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 24 Nov 2014

Negeri ini memiliki banyak bahasa, adat-istiadat, kesenian—semuanya menjadi bagian dari kebudayaan yang bineka. “Semuanya perlu dilestarikan,” kata orang. Di samping itu, kita memiliki banyak hari besar—beberapa di antaranya mencapai taraf sebagai hari libur nasional—dan semuanya perlu dikeramatkan. Bahasa Jawa harus dilestarikan, 10 November dianggap keramat. Dalam perjalanan bangsa ini, setiap kali ada saja usul dari kelompok, suku bangsa, dan etnis untuk melestarikan dan mengeramatkan yang ini dan yang itu. Pernahkah kita khawatir, kalau semua dituruti, sepanjang tahun kita libur untuk merayakan barang keramat yang kita setujui untuk dilestarikan itu?

Baca lebih lanjut

Merdeka, tapi Bebas Jugakah kita?

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 18 Agu 2014

Sejak 1945, setiap tanggal 17 Agustus kita merdeka. Itu sebabnya tanggal itu disebut Hari Kemerdekaan, yang kita rayakan dan keramatkan. Merdeka berarti memiliki hak untuk bertindak, berbicara, atau berpikir sesuai dengan kehendak masing-masing. Kemerdekaan juga berarti kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri, tidak tergantung, dan bebas bergerak.

Baca lebih lanjut

Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola

Sapardi Djoko Damono* (Majalah Tempo, 5 Mei 2014)

Proses teknologi kata pun terjadi ketika kita menangkap bunyi dan menguncinya di atas kertas dalam wujud gambar. Aksara adalah gambar yang dirancang untuk menyimpan bunyi agar ada yang tersisa-katakanlah residu-ketika ucapan tidak terdengar lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah memanfaatkan rentetan aksara untuk menyimpan pengetahuan, mimpi, harapan, kenangan, dan apa saja agar tidak menguap begitu saja, agar bisa diperiksa ulang oleh yang merentetkan aksara itu sendiri ataupun orang lain yang membacanya.

Demikianlah maka segala hal yang kita tulis tersimpan di luar diri kita (di batu, lontar, kertas, dan dunia maya) sehingga bisa pada gilirannya dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman. Dan sejak bunyi kita teknologikan, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia berkembang dengan sangat cepat dan semakin cepat: dalam waktu beberapa ribu tahun perkembangan pengetahuan tidak sebanding lagi dengan jutaan tahun ketika manusia belum mengenal aksara.

Baca lebih lanjut

Tjina, Cina, China

Sapardi Djoko Damono* (Majalah Tempo, 17 Feb 2014)

Sejak beberapa tahun lalu, kata “Cina” harus (?) dihapus (juga dari kamus?) dan diganti dengan “China”. Alasan di balik penggantian itu adalah kata “Cina” mengandung konotasi negatif, bahwa dalam kalimat “Dia itu Cina” terkandung ejekan atau hinaan atau bahkan permusuhan terhadapnya. Mari kita bicarakan (sekali) lagi penggantian yang, setidaknya bagi saya, aneh itu. Tidak usah­lah kita mengaitkannya (lagi) dengan “petai cina” harus diubah menjadi “petai china” atau “Pecinan”, nama sebuah kampung, harus diganti dengan “Pechinan”.

Cara mengeja kata yang kita ikuti adalah EYD. Cara yang “disempurnakan” itu telah mengubah “Tjina” menjadi “Cina”. Sama sekali tidak ada perubahan pengucapan dalam proses penggantian itu, persis seperti perubahan “Tjirebon” menjadi “Cirebon” dan “tjakar” menjadi “cakar”. Tidak adanya perubahan ejaan itu juga berarti tidak adanya pergeseran arti kata, baik denotatif maupun konotatif. Namun, ketika kita harus mengubah “Cina” menjadi “China”, tampaknya perubahan itu dianggap telah terjadi: “Cina” dikatakan mengandung sikap negatif sehingga harus diganti dengan “China” yang tentu dianggap netral.

Baca lebih lanjut