Korupsi Tanpa Koruptor

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Mei 2017

Semenjak Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk pada 2003, kata “korupsi” dan “koruptor” semakin merasuk ke kosakata perbincangan, dengan nada lebih optimistis dibanding komisi-komisi sejenis semasa Orde Baru. Perbedaannya memang jelas, pada masa Orde Baru pembentukan komisi semacam itu hanyalah manuver dari rezim korup, semacam kosmetik kepantasan dalam struktur pemerintahan. Lima tahun setelah Reformasi 1998, pembentukan KPK yang dilengkapi sarana mencukupi untuk kerja investigasi, dengan hasil konkret dari saat ke saat, menghapus sinisme dan skeptisisme yang barangkali sempat muncul.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mata Hari dan Matahari

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 27 Feb 2017

Saya bukan penggemar Paulo Coelho, jadi sempat cuek saja melihat The Spy (2016) terpampang di gerai buku-buku impor di bandar udara. Namun, karena selalu tertarik membaca soal spionase, pada penerbangan berikutnya saya mencari buku itu, dan ternyata habis. Setiap kali menjelang keberangkatan, saya tengok gerai buku-buku impor di bandara mana pun, The Spy tidak terlihat lagi. Artinya, ada percetakan entah di mana sibuk mengejar target.

Baca lebih lanjut

Duit Elektronik

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 22 Agu 2016)

Suatu peristiwa kebahasaan telah menimpa saya ketika membeli sesuatu yang agak mahal, yang bagi saya itu berarti akan membayar dengan kartu kredit ataupun kartu debit. Artinya bukan uang kertas, karena dengan nilai uang yang menjadi harganya, kantong saya akan menjadi sangat gembung jika membawa uang kertas.

Baca lebih lanjut

Dari Kita ke Kalian

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 9 Mei 2016)

screen-shot-2015-04-06-at-10-35-16-am

Jika saya (aku, daku) telah kehilangan kepribadian di dalam kami, karena diri telah melebur dalam anonimitas, meski kami diperlukan dalam politik identitas bersama seperti dalam momen historis Soempah Pemoeda (1928) dan Proklamasi (1945), adalah dalam kita maka saya dan Anda (kamu, dikau) hadir bersama dalam pernyataan subjektivitas. Dengan kata lain, suatu modus dialogis untuk mengada bersama dengan orang lain, meskipun tetap menjadi diri sendiri, karena reduksi-diri bukanlah prasyarat guna mempertahankan kita sebagai dunia tempat saya dan Anda berbagi.

Baca lebih lanjut

Ketika Saya Menjadi Kami

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 22 Feb 2016

Dari dunia akademik, tempat setiap kata tidak boleh salah menjalankan fungsinya, selalu datang perkara yang kurang saya pahami, mengapa bisa sampai terjadi bahwa pengertian “saya” ditulis sebagai “kami”. Sekadar contoh:

Rencana menulis tesis ini timbul pada Maret 1974 sewaktu kami (penebalan dari saya) mulai menulis skripsi doktoral filsafat pada Centrale Interfakulteit, Rijksuniversiteit di Leiden. (Heraty, 1984: 13).

Baca lebih lanjut

Ubah versus Rubah

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 23 Nov 2015

Ilustrasi: Kronotsky Reserve

Salah satu kata yang hampir selalu diucapkan salah, sehingga bisa dicatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri), adalah ubah, karena terucapkan sebagai rubah, yang disebut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai: binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb; Canis vulpes (Pusat Bahasa, 2008: 1186). Dengan konsekuensi bahwa merubah adalah “menjadi rubah” dan dirubah adalah “dijadikan rubah”, dibakukanlah kata-kata mengubah dan diubah, tapi berubah tidak pernah berubah lagi—mungkin karena konsekuensi menjadi bengubah atau beubah akan terdengar kelewat ajaib.

Baca lebih lanjut

Kata-kata Bersayap

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 31 Agu 2015

Ilustrasi: Digital Attitude

Kalau Anda sulit berterus terang, padahal harus menyampaikan sesuatu, bahasa menyediakan kata-kata bersayap. Adapun yang dimaksud dengan kata-kata bersayap, seperti judul buku Sapardi Djoko Damono tentang puisi, adalah “bilang begini, maksudnya begitu”. Ya, kira-kira seperti sindiran, tapi yang sangat mungkin tanpa nada sindiran sama sekali.

Baca lebih lanjut

Percaya Tidak Percaya

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Jun 2015

Ilustrasi: Museum Ripley’s Belive It or Not! Sumber: North Ocean Hotel

Percaya tidak percaya. Istilah ini menjatuhkan kredibilitas bahasa.

Terdapat tiga kata yang semestinya terhadapkan sebagai dua pengertian berlawanan: “percaya” dan “tidak percaya”. Jika memang demikian halnya, penemuan manusia yang disebut bahasa ini sungguh-sungguh membantu. Pengertian “percaya” dan “tidak percaya” yang sebelum ditemukan hanyalah gelap, bisu, dan kosong kini terhadirkan dengan jelas dan tegas, bahwa sementara yang satu “percaya” maka yang berlawanan adalah “tidak percaya”.

Baca lebih lanjut

Atas Nama Rakyat

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 16 Mar 2015

Ilustrasi: Gigoing

Di antara lebih dari 90 ribu kata yang terhimpun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata yang lebih sering dimanfaatkan demi keuntungan golongan, ataupun diri sendiri, daripada kata “rakyat”.

Dalam hikayat, dongeng, yang juga sering sebagai “cerita rakyat”, asalkan sudah terdapat kalimat semacam “dicintai rakyat”, segalanya seperti sudah menjadi beres. Dalam pemahaman modernis, seolah-olah tidak ada demokrasi (artinya pun “kekuatan rakyat”) dalam kebudayaan tradisional, karena rakyat yang jamak itu pemikirannya seolah-olah tunggal. Dalam Ramayana, misalnya, ketika Sinta mengandung, Rama disebut terpengaruh oleh pergunjingan rakyat Ayodya bahwa sebetulnya Sinta berselingkuh dengan Rahwana, seolah-olah semuanya sudah setuju saja, tidak ada pro dan kontra.

Baca lebih lanjut

Aman

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 1 Des 2014

Seandainya sejumlah petugas keamanan, polisi ataupun militer, muncul di depan pintu rumah Anda sembari berkata, “Mari, ikut bersama kami, Saudara akan kami amankan,” apakah Anda lantas akan sungguh-sungguh merasa aman?

Saya kira, setidaknya, seandainya pun Anda seorang manusia teguh beriman, Anda tidak akan merasa nyaman. Sahih dibayangkan, sebagian besar orang bahkan akan mendapat perasaan sebaliknya. Bukan rasa aman, melainkan rasa tidak aman sepenuhnya!

Baca lebih lanjut