Ketika Saya Menjadi Kami

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 22 Feb 2016

Dari dunia akademik, tempat setiap kata tidak boleh salah menjalankan fungsinya, selalu datang perkara yang kurang saya pahami, mengapa bisa sampai terjadi bahwa pengertian “saya” ditulis sebagai “kami”. Sekadar contoh:

Rencana menulis tesis ini timbul pada Maret 1974 sewaktu kami (penebalan dari saya) mulai menulis skripsi doktoral filsafat pada Centrale Interfakulteit, Rijksuniversiteit di Leiden. (Heraty, 1984: 13).

Baca lebih lanjut

Ubah versus Rubah

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 23 Nov 2015

Ilustrasi: Kronotsky Reserve

Salah satu kata yang hampir selalu diucapkan salah, sehingga bisa dicatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri), adalah ubah, karena terucapkan sebagai rubah, yang disebut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai: binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb; Canis vulpes (Pusat Bahasa, 2008: 1186). Dengan konsekuensi bahwa merubah adalah “menjadi rubah” dan dirubah adalah “dijadikan rubah”, dibakukanlah kata-kata mengubah dan diubah, tapi berubah tidak pernah berubah lagi—mungkin karena konsekuensi menjadi bengubah atau beubah akan terdengar kelewat ajaib.

Baca lebih lanjut

Kata-kata Bersayap

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 31 Agu 2015

Ilustrasi: Digital Attitude

Kalau Anda sulit berterus terang, padahal harus menyampaikan sesuatu, bahasa menyediakan kata-kata bersayap. Adapun yang dimaksud dengan kata-kata bersayap, seperti judul buku Sapardi Djoko Damono tentang puisi, adalah “bilang begini, maksudnya begitu”. Ya, kira-kira seperti sindiran, tapi yang sangat mungkin tanpa nada sindiran sama sekali.

Baca lebih lanjut

Percaya Tidak Percaya

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Jun 2015

Ilustrasi: Museum Ripley’s Belive It or Not! Sumber: North Ocean Hotel

Percaya tidak percaya. Istilah ini menjatuhkan kredibilitas bahasa.

Terdapat tiga kata yang semestinya terhadapkan sebagai dua pengertian berlawanan: “percaya” dan “tidak percaya”. Jika memang demikian halnya, penemuan manusia yang disebut bahasa ini sungguh-sungguh membantu. Pengertian “percaya” dan “tidak percaya” yang sebelum ditemukan hanyalah gelap, bisu, dan kosong kini terhadirkan dengan jelas dan tegas, bahwa sementara yang satu “percaya” maka yang berlawanan adalah “tidak percaya”.

Baca lebih lanjut

Atas Nama Rakyat

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 16 Mar 2015

Ilustrasi: Gigoing

Di antara lebih dari 90 ribu kata yang terhimpun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata yang lebih sering dimanfaatkan demi keuntungan golongan, ataupun diri sendiri, daripada kata “rakyat”.

Dalam hikayat, dongeng, yang juga sering sebagai “cerita rakyat”, asalkan sudah terdapat kalimat semacam “dicintai rakyat”, segalanya seperti sudah menjadi beres. Dalam pemahaman modernis, seolah-olah tidak ada demokrasi (artinya pun “kekuatan rakyat”) dalam kebudayaan tradisional, karena rakyat yang jamak itu pemikirannya seolah-olah tunggal. Dalam Ramayana, misalnya, ketika Sinta mengandung, Rama disebut terpengaruh oleh pergunjingan rakyat Ayodya bahwa sebetulnya Sinta berselingkuh dengan Rahwana, seolah-olah semuanya sudah setuju saja, tidak ada pro dan kontra.

Baca lebih lanjut

Aman

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 1 Des 2014

Seandainya sejumlah petugas keamanan, polisi ataupun militer, muncul di depan pintu rumah Anda sembari berkata, “Mari, ikut bersama kami, Saudara akan kami amankan,” apakah Anda lantas akan sungguh-sungguh merasa aman?

Saya kira, setidaknya, seandainya pun Anda seorang manusia teguh beriman, Anda tidak akan merasa nyaman. Sahih dibayangkan, sebagian besar orang bahkan akan mendapat perasaan sebaliknya. Bukan rasa aman, melainkan rasa tidak aman sepenuhnya!

Baca lebih lanjut

Ayam Arab, Ayam Kampung, Ayam Buras

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 25 Agu 2014

Nun di Belgia, Eropa Barat, terdapatlah ayam petelur yang disebut ayam silver brakel kiel-setidaknya itulah yang disebutkan oleh Komunitas Peternak Ayam Berkualitas di Indonesia. Disebutkan, pada 1989, ayam bercorak burik hitam putih itu didatangkan beberapa ekor ke Temanggung, Jawa Tengah, demi kepentingan para kolektor ayam. Namun adalah para peternak yang membuatnya berkembang dan tersebar.

Baca lebih lanjut

Oknum dalam Politik Bahasa

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 19 Mei 2014)

Ada yang pernah menulis, kata “oknum” adalah kata yang paling tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelum mengingat kembali apa yang dimaksud, baiklah ditengok dulu artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001): 1. penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; 2. orang seorang; perseorangan; 3. orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik): “Oknum yang bertindak sewenang-wenang itu sudah ditahan.”

Arti ketiga ini akrab, meski tidak persis begitu. Para pewarta semasa Orde Baru sudah tahu, kalau ada alat negara seperti polisi atau militer menjadi berita karena melakukan tindak kejahatan, tanpa harus disuruh lagi mereka wajib menuliskannya “oknum polisi” atau “oknum ABRI” dan semacam itu.

Baca lebih lanjut

Pekerja Seks Komersial

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 20 Jan 2014)

Ketika membaca judul cerpen Putu Wijaya yang berbunyi “Pelacur” (1980), saya sudah siap mengikuti kisah tentang perempuan yang menyewakan tubuhnya. Kesiapan itu berhubungan dengan pemahaman berdasarkan dua momentum.

Pertama, sewaktu saya masih duduk di bangku SMA Santo Thomas, Yogyakarta, pada 1976, guru bahasa Indonesia di kelas agak gelisah karena saya tanyakan asal kata “pelacur”.

“Oh, itu mungkin dari ‘apa lacur’, sudah telanjur, jadi ‘perempuan lacur’ itu maksudnya perempuan yang sudah tidak bisa diperbaiki, jadilah ‘pelacur’,” jawab Pak Guru tanpa membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, tempat “lacur” adalah “buruk laku”.

Baca lebih lanjut

Bahasa Ilmiah

Majalah Tempo, 30 Agu 2010. Seno Gumira Ajidarma: Wartawan.

SAAT mengikuti penjelasan seorang dosen tentang bahasa ilmiah, beliau memberi contoh bahwa tidak dibenarkan menuliskan kalimat seperti berikut: “Menurut pendapat gue….”

Hehe. Waktu itu semua mahasiswa tertawa. Namun saya sempat berpikir, bagaimana kalau kita tidak hidup di Republik Indonesia, tetapi di Republik Betawi? Benarkah bahasa Betawi masih tidak layak dan tidak sahih menjadi bahasa ilmiah?

Barangkali perlu sedikit eksperimen seperti ini:

Kalo kite-kite melejit di luarnye langit sono noh nyang same aje cepetnye ame caye mentari, ntu ruang angkase bakalan ngerut ampe abis, padahal waktu bakalan kegeber omber kagak abis-abis; lantes nyang kite namain barang, kalo emang ade, ntu barang bakalan jadi gede banget kagak ade batesnye….

Baca lebih lanjut