Fonotaktik dalam Akronim

Pikiran Rakyat, 23 Des 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: Gillian Adonis

Meskipun masalah fonotaktik dalam akronim ini sudah sering dibicarakan, baik secara “ilmiah” maupun secara populer, masih saja banyak muncul akronim yang sebenarnya menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik.  Sayangnya, di Indonesia pembentukan akronim dilakukan hampir tanpa aturan, meskipun ada pedoman yang mengaturnya, dan juga sudah banyak sekali keluhan dan kritik tentang membanjirnya akronim jelek di masyarakat. Lebih disayangkan lagi, akronim semacam itu justru banyak dicipta oleh instansi resmi, misalnya militer, bahkan Kementerian Pendidikan Nasional yang sebenarnya paling berwenang dalam urusan bahasa nasional.

Baca lebih lanjut

Devosi, Jombrot, dan Tembolok

Pikiran Rakyat, 26 Agu 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: DinoMite

“Devosi”, “jombrot”, dan “tembolok”, hanyalah contoh model pengindonesiaan bahasa asing yang boleh dikata mewakili tiga “aliran” penerjemahan istilah teknis. Devosi diserap dari aslinya devotion, rangkaian ritual tertentu di gereja Katolik. Mungkin pencipta istilah semacam ini yakin tidak ada kata dalam bahasa Nusantara yang tepat berpadanan dengan aslinya, baik makna, konsep, maupun bentuknya, maka diserap saja dengan dimiripkan ejaannya. Contoh yang ”sealiran” devosi, misalnya mitigasi, dan hotplat. Semboyan mereka ”Mengapa susah-susah cari terjemahan, kalau serapannya sudah dapat dipahami”. Mereka yakin bahwa cara mereka dapat memperkaya bahasa nasional, dan bahkan dapat mengarah ke ”globalisasi” bahasa kita, meskipun cara ini sering disebut terlalu mengejar bentuk (form-based) aslinya.

Baca lebih lanjut

Embryo = Fetus?

Majalah Tempo, 14 Jun 2010. Setyadi Setyapranata: Penerjemah, dosen Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang.

Fetus“EMBRYO sama dengan fetus?” kata Ami, murid kelas III sekolah menengah pertama. Dari buku modul biologi bilingual, dia tahu bahwa embryo berbeda dengan fetus. Fetus adalah tahap perkembangan sesudah embryo. Dalam konsep biologi, perbedaan ini tidak boleh diabaikan. Namun, dalam diktat terjemahan, baik embryo maupun fetus diterjemahkan menjadi “janin”.

Itulah salah satu contoh titik polemik di antara dua “aliran” penerjemah profesional. Kedua aliran ini sepintas memiliki visi yang sama, yaitu memodernkan bahasa Indonesia, tapi pendekatan mereka berbeda. Untuk padanan istilah asing, aliran pertama adalah aliran yang berupaya menggali khazanah bahasa Indonesia. Adapun menurut aliran kedua, mengindonesiakan istilah adalah upaya yang mubazir, bahkan bisa menyesatkan; istilah yang sudah luas dikenal dan dipahami semacam ini cukup diserap dengan penyesuaian seperlunya atau dipungut saja, misalnya embrio dan fetus. Melihat kasus penggunaan kata “janin” ini, terlihat bahwa penerjemahan bisa menyesatkan.

Baca lebih lanjut

’Bahasa Koran’

Majalah Tempo 16 Nov 2009. Setyadi Setyapranata. Penerjemah.

TANDA petik yang mengapit judul di atas sengaja saya gunakan. Tanpa itu, saya takut disangka akan nyentil wartawan koran, padahal sama sekali tidak. ”Bahasa koran” hanyalah istilah yang muncul di dalam kelas pelatihan calon penerjemah buku ajar bagi dosen. Istilah itu tercipta karena para peserta memungut contoh kalimat dari koran untuk bahan diskusi tentang bahasa baku. Berikut ini dua di antara banyak contoh yang mewakili ”bahasa koran”, yang memang dipungut dari koran: (1) ”Menjawab pertanyaan wartawan, Menteri Wirajuda menyatakan….”; (2) ”Sekitar Rp 65 miliar merupakan utang swasta, di mana Rp 15 miliar di antaranya berupa commercial paper.”

Baca lebih lanjut