Kota Kata

Majalah Tempo, 15 Mar 2010. Sitok Srengenge, Penyair.

PADA mulanya kata, lalu jadilah kota. Begitulah, dalam khazanah cerita rakyat kerap kita temui adegan pemberian nama suatu tempat. Lazimnya sang tokoh bersabda, “Kunamakan tempat ini bla-bla-bla.” Ingat Raden Wijaya, tatkala beristirahat dalam pelarian, ia memetik buah maja dan memakannya. Rasanya pahit. Ia lantas menamai tempat kejadian itu Majapahit dan membangun hunian di sana hingga merekah jadi kota kerajaan.

Baca lebih lanjut

Binatang

Majalah Tempo, 8 Feb 2010. Sitok Srengenge, Penyair.

SEORANG anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dengan volume suara keras dan tekanan dinamik kuat, menguarkan kata bangsat kepada seorang sejawatnya. Siapa pun yang mendengarnya di ruang sidang maupun yang menyaksikan di layar televisi segera mafhum bahwa orang itu sedang melontarkan makian. Kata bangsat dalam konteks tersebut bisa berarti merendahkan, melecehkan, menistakan, dan menghina; sebab menyamakan orang yang dituju dengan kepinding atau kutu busuk.

Baca lebih lanjut