Akar Pun Jadi

Sori Siregar*, KOMPAS, 22 Agu 2015

Dua peribahasa Indonesia hampir bersamaan bunyinya. Yang pertama ”tiada rotan, akar pun jadi” yang bermakna, jika tak ada yang baik, yang jelek pun berguna. Yang kedua, ”tiada rotan, akar pun berguna” yang berarti bahwa apabila tak ada yang lebih baik, yang kurang baik pun boleh. Saya membaca ini dalam Kamus 5000 Peribahasa Indonesia yang ditulis Heroe Kasida Brataatmadja keluaran Penerbit Kanisius, Yogyakarta (1985).

Perbedaan kedua peribahasa tersebut hanyalah pada kata jadi dan berguna. Maknanya sebenarnya sama. Dari peribahasa yang menggunakan kata rotan, tampaknya kedua peribahasa inilah yang paling populer. Karena populer, rasanya tak mungkin adaorang yang salah menuliskannya.

Baca lebih lanjut

Pintu Budaya Etnik

Sori Siregar*, KOMPAS, 14 Mar 2015

Ketika Ajip Rosidi memperlihatkan kepada saya beberapa buku sastra dalam bahasa Batak Toba yang ditulis novelis Saut Poltak Tambunan, saya terkejut sekaligus senang.

Saya senang, karena tidak banyak orang Batak yang dapat menulis dengan baik dalam bahasa Batak Toba. Juga dalam bahasa Batak lainnya seperti, Pakpak Dairi, Angkola, Mandailing, dan Karo. Karena itu kehadiran karya-karya Saut Poltak Tambunan saya sambut hangat. Saya tidak tahu apa pendapat sastrawan Parakitri Tahi Simbolon yang duduk di depan saya.

Baca lebih lanjut

Berandai-andai

Sori Siregar*, KOMPAS, 11 Okt 2014

Bukan hal aneh jika sebuah institusi atau seorang individu membuat alternatif saban menyusun rencana. Minimal alternatifnya satu, tetapi tak jarang pula dua, bahkan tiga. Langkah demikian diambil sebab tak seorang pun dapat memberi kepastian.

Contohnya seperti ini. Ketika Presiden Reagan akan dilantik untuk kali kedua, cuaca di Washington DC sangat tak bersahabat. Badai salju. Dinginnya membekukan sehingga pakaian berlapis-lapis pun tak banyak menolong. Karena Gedung Putih telah membuat Plan B sebagai alternatif, masalah segera dapat dipecahkan. Acara pelantikan dipindahkan ke dalam Gedung Bundar, tempat anggota Kongres bersidang. Selesai.

Baca lebih lanjut

Disewa Helena

Sori Siregar*, KOMPAS, 23 Agu 2014

HELENA boleh membeli, menjual, atau menyewa apa saja. Tidak akan ada yang melarang, kecuali ia menyewa seseorang yang berdarah dingin untuk membunuh pacarnya.

Bagaimana jika nama Helena digunakan sebuah biro iklan atau bagian pemasaran sebuah real estat untuk kepentingan komersial? Misalnya, untuk memasarkan produk atau rumah di kawasan real estat itu. Mungkin Helena tidak akan keberatan, apalagi jika ia dibayar dengan segepok uang agar pundi-pundinya lebih menggelembung. Barangkali, ia juga tidak akan keberatan, bahkan mungkin bangga, kalau namanya disebut lagi sebagai penyewa atau pembeli sebuah rumah di kompleks real estat itu. Benarkah demikian?

Baca lebih lanjut

Singkatan

Sori Siregar*, KOMPAS, 19 Apr 20014

SEORANG sopir pengangkut kota (angkot) berteriak, ”Sektor, sektor!” Sambil berteriak ia menunjuk ke arah angkot yang akan pergi ke tempat yang disebutnya ”sektor” itu. Warga setempat di salah satu permukiman yang luasnya seperti kota itu sangat maklum akan maksud si sopir angkot.

Permukiman yang sangat luas itu dibagi atas sembilan sektor. Namun, tanpa bertanya pun warga setempat telah maklum bahwa yang dimaksudkan sopir angkot itu adalah Sektor-9 (sembilan). Mengapa sang sopir tidak menyebut Sektor-9? Jawabannya jelas: untuk menghemat kata. Bahwa penghematan itu membuat orang bingung, bukan soal buat sang sopir dan rekan-rekannya.

Baca lebih lanjut

Ragam Cakapan

Sori Siregar* (KOMPAS, 8 Feb 2014)

DI Jakarta, dan dalam sebuah lagu, dikenal Jembatan Merah. Di Medan ada kampung bernama Titi Kuning. Perbedaannya? Yang satu nama jembatan, satu lagi nama kampung. Persamaannya? Jembatan yang di Jakarta bermakna titi di Medan.

Di Medan ada jembatan Titi Gantung. Mungkin tak ada warga Medan yang menyebut titi itu dengan Jembatan Gantung. Kalaupun ada, mungkin orang itu kena pengaruh Jakarta. Jika kita mencari kata titi di Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, kita menemukan kata titi sebagai kata dasar untuk kata kerja meniti. Kata titi juga digunakan sebagai kata benda dalam frasa titi buih dan titi air. Menurut kamus tersebut, dalam bahasa Jawa, titi bermakna ’cermat’, ’teliti’.

Baca lebih lanjut

Wafat dan Kapal Pesiar

Sori Siregar*, KOMPAS, 12 Okt 2013

SASTRAWAN Danarto galau. Karena itu, ia menelepon saya. Sebagai pengarang yang sadar betul makna kata, ia mempersoalkan apakah kata wafat tepat digunakan untuk anak mantan pejabat tinggi yang meninggal dunia. Apakah kata itu boleh dipakai siapa saja?

Karena yang bertanya sastrawan besar, saya membongkar kembali memori saya yang telah usang. Saya kembali ke masa ketika saya duduk di SMP. Seingat saya, guru saya mengatakan, kata wafat hanya digunakan untuk para nabi yang tutup usia. Untuk raja yang dipakai adalah kata mangkat, sedangkan untuk rakyat biasa frasa yang tepat adalah meninggal dunia atau mati (frasa tutup usia baru dikenal sekitar tiga dasawarsa terakhir).

Baca lebih lanjut

Melakukan Pembiaran?

KOMPAS, 21 Des 2012. Sori Siregar, Cerpenis.

PembiaranJika diminta memilih, saya akan menggunakan kata membiarkan daripada melakukan pembiaran, membunuh ketimbang melakukan pembunuhan atau berkunjung sebagai padanan melakukan kunjungan. Saya memilih ketiganya karena lebih hemat. Prinsip ekonomi kata berlaku di sini.

Saya sangat kasihan kepada pembaca berita di hampir semua stasiun televisi karena mereka terpaksa membaca warta yang disampaikan dengan kecepatan peluru yang dimuntahkan mitraliur. Redaktur mereka yang senang pada kalimat panjang tampaknya tak peduli bahwa waktu yang tersedia untuk menyampaikan berita itu terbatas. Dapat dimaklumi mengapa pembaca berita TV itu melepaskan peluru mitraliur setiap hari karena semua berita yang akan disajikan harus tuntas dibaca.

Baca lebih lanjut

Air Putih dan Gula Merah

KOMPAS, 9 Apr 2010. Sori Siregar, Cerpenis.

AirAir putih sebagai sebutan untuk air minum yang bersih lazim kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, yang kita sebut air putih itu tidak berwarna putih. Yang lebih tepat disebut air putih adalah air susu karena, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, yang disebut putih adalah warna dasar yang serupa dengan warna kapas. Putih air susu seperti kapas. Setahu saya, di negeri ini tak ada sungai, danau, sumur, atau perusahaan air minum yang memproduksi air seputih kapas itu.

Baca lebih lanjut