Antara Kuli Tinta dan Awak Media

Sunaryono Basuki Ks*, KOMPAS, 20 Nov 2013

Kata ’kuli’, menurut KBBI, selain bermakna ’pekerja kasar’ ternyata bermakna pula ’penduduk desa keturunan pendiri atau sesepuh desa yang mempunyai hak suara di dalam pemilihan kepala desa dan mempunyai kewajiban penuh melakukan pekerjaan desa’. Sedangkan ’kuli ajek’ di Madura adalah golongan yang dianggap sebagai pendiri suatu masyarakat yang menganut hukum adat tertentu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mobil-mobilan dan Buah-buahan

Sunaryono Basuki Ks*, KOMPAS, 5 Okt 2013

Pengulangan atau reduplikasi dalam bahasa Indonesia menarik disimak lantaran menghasilkan makna yang beraneka ragam. Kata buah-buahan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa bermakna ’buah tiruan’ dan ’berbagai-bagai buah’. Walaupun bentuknya serupa, sayur-sayuran tidak bisa digolongkan ke dalam kelompok ini sebab pengulangan sayur tidak serta-merta membuatnya menjadi ’sayur tiruan’. Untuk menyatakan gagasan berbagai macam sayur, kita menggunakan sayur-mayur walaupun sayur-sayuran juga digunakan.

Baca lebih lanjut

Bersaya Beraku

KOMPAS, 1 Feb 2013. Sunaryono Basuki Ks, Sastrawan dan Pensiunan Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja.

Gue-aku-sayaSaya merasa sangat terganggu mendengar ucapan seorang selebritas muda menjawab pertanyaan pembawa acara mengenai rencananya dengan lagu-lagu barunya. Dengan nyaman dia mengatakan ”lagu aku”, ”album aku”, bukan ”laguku”, ”lagu baruku”, ”albumku, ”album baruku”, sebagaimana diwajibkan bahasa Indonesia ketika dia bermaksud menyatakan milik. Kita mengatakan ”mobilku”, bukan ”mobil aku”. Namun, tampaknya pemakaian kata aku di dalam bahasa lisan sudah meluas, terutama di kalangan generasi muda. Apakah ini salah satu bentuk pemberontakan anak muda? Harus diteliti lebih lanjut.

Baca lebih lanjut

Rumah Dinas atau Rumah Jabatan Gubernur?

KOMPAS, 23 Nov 2012. Sunaryono Basuki Ks, Pensiunan Guru Besar IKIP Negeri Singaraja

Sumber gambar: Tribun News

Ini peristiwa pertengahan Oktober lalu. Joko Widodo bersih-bersih rumah dinasnya di Solo dan mulai membenahi rumah dinas gubernur di Jakarta. Lalu saya juga mendengar mahasiswa menyerbu rumah dinas Bupati Cirebon di Jalan Kartini.

Saya tidak memahami istilah dalam peraturan perumahan bagi PNS atau pejabat. Demikian juga mengenai rumah dinas dan rumah jabatan. Soalnya, di lembaga pendidikan tinggi tempat dulu saya bekerja, kami tidak mengenal istilah rumah jabatan. Yang kami kenal punya rumah jabatan adalah bupati, yang punya hak menempati rumah tersebut selama dia menjabat, baik untuk ditempati, menerima tamu, singgah sesaat sebelum menuju tempat tujuan, upacara, dan seterusnya. Ketika akan berkunjung di kampus, gubernur yang datang dari Denpasar ke Kota Singaraja singgah di rumah jabatan bupati dan disambut oleh bupati, bahkan rektor kami.

Baca lebih lanjut