Pesan Konatif dari Mekah

Suprianto Annaf* (Media Indonesia, 22 Jan 2017)

Lain lubuk lain ikannya. Pepatah lama ini relevan saat kita berada di negara orang lain. Cara dan budaya tidak sama, termasuk bahasa. Tentu saja kitalah yang harus menyesuaikan dengan segala perbedaan itu. Namun, bagaimana bila negara yang kita kunjungi itu yang ‘menyesuaikan’ dengan diri kita? Tentu hal ini memunculkan sikap dan perasaan yang berbeda: serasa kita berada di negara sendiri. Hal itulah yang pertama saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Bandara Jeddah. Deretan hologram bertuliskan ‘Selamat Datang’ di terminal kedatangan internasional menyapa dalam bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Catut-catutan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 29 Nov 2015

Ilustrasi: Beritagar.id

Sadar atau tidak, catut-mencatut bukanlah hal asing. Namun, terkadang hal itu dianggap biasa karena ada di tengah kebiasaan. Sering pula diabaikan karena ketidaktahuan. Singkatnya, catut-mencatut pernah terjadi atau justru dialami oleh siapa pun: saya dan Anda!

Baca lebih lanjut

Isotopi Sumpah Pemuda

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 1 Nov 2015

Ilustrasi Sumpah Pemuda (iBerita.com)

Memperingati Sumpah Pemuda akan menghadirkan kembali semangat yang heroik. Semangat yang mestinya memecah kesukuan, tetapi meneguhkan rasa persatuan. Semangat berbangsa yang tidak boleh dibiarkan luntur, yang tidak boleh ditukar dengan apa pun, termasuk kemewahan.

Baca lebih lanjut

Tuhan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 20 Sep 2015

Sumber gambar: Malang Times

Lelaki berusia 42 tahun, warga Desa Kluncing, Licin, Banyuwangi, ini dikenal banyak orang karena namanya: Tuhan. Nama yang tentu saja tidak sepadan dengan god atau Allah. Bukan pula ‘Tuhan’ yang diacu dalam puisi terkenal karya penyair Chairil Anwar. Untuk kali ini, ‘Tuhan’ yang dimaksud ialah nama seorang lelaki, anak manusia.

Baca lebih lanjut

Menapak Rupiah Membenam Bahasa

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 6 Sep 2015

Bagi Jokowi, juga harapan seluruh rakyat Indonesia, rupiah segera bertaji. Bangkit dan berdaya saing tinggi. Apa pun diperjuangkan demi rupiah bernyali lagi. Ya, harusnya usaha itu tetap terkait alasan ekonomi: investasi tinggi atau penggunaan uang dolar dibatasi! Bisa juga dengan perizinan yang selama ini ingin dimudahkan. Langkah penyelamatan rupiah seperti ini tentu masih relevan.

Baca lebih lanjut

Mencuri Angka

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 26 Jul 2015

Persepsi awal terhadap kata mencuri tentu tidak akan jauh dari makna Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni meng ambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Tanpa merujuk kamus pun, sebenarnya persepsi itu sudah sebangun dengan makna yang ada di pikiran kita. Namun, bagaimana halnya dengan judul tulisan ini: mencuri angka? Bukankah rangkaian kata itu juga sudah terlalu lumrah kita dengar? Biasanya di setiap pertandingan sengit, ditandai susul-menyusul perolehan poin, kedua kata itu disematkan dalam berita. Secara cermat bandingkan saja konteks mencuri dalam KBBI itu dengan mencuri angka di pertandingan. Dalam kamus, titik tekan pengertian dasar mencuri mengambil milik orang lain tanpa izin, tidak sah, dan sembunyi-sembunyi.Makna itu tentu berbeda jauh dan Makna itu tentu berbeda jauh dan tidak sepadan dengan mencuri angka di pertandingan.

Baca lebih lanjut