Pewaris

Lampung Post, 2 Feb 2011. Sustiyanti: Pemerhati bahasa Indonesia.

BEBERAPA waktu yang lalu kita disuguhi berita tentang penyerangan Korea Utara terhadap negara tetangganya sekaligus musuhnya, Korea Selatan. Sementara itu, di tengah tingginya ketegangan setelah serangan yang mematikan tersebut, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Il, dan putra bungsu yang juga pewarisnya menyaksikan satu pertunjukan musik. Begitu kata sebuah media massa.

Kita juga disuguhi berita tentang Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang menuai banyak protes dari warga DIY itu sendiri. Kemudian SBY menyatakan bahwa apa pun model dan opsi yang dipilih dan diputuskan DPR, tetap memberi hak dan peluang yang besar bagi para pewaris Kesultanan-Pakualaman untuk terlibat dalam proses pemerintahan DIY.

Baca lebih lanjut

Ambil Ginjal

Lampung Post, 2 Jun 2010. Sustiyanti: Pemerhati bahasa.

GinjalSuatu kali saya berkunjung ke sebuah klinik kesehatan. Pasien di situ tidak terlalu banyak. Di samping saya duduk seorang perempuan dan temannya atau mungkin suaminya. Mereka asyik sekali mengobrol. Tak lama kemudian seseorang masuk. Rupanya mereka saling mengenal. Mereka saling menanyakan kabar. Dari pembicaraan mereka, saya menyimpulkan bahwa seseorang yang baru datang itu sedang menjalani studi di bidang kedokteran. Perempuan yang duduk di samping saya kemudian bertanya: “Ambil apa”. Dijawab oleh orang tersebut: “Ambil ginjal”. Karena tidak terbiasa mendengar istilah-istilah yang dipakai oleh praktisi medis, saya agak merasa aneh mendengar kalimat ambil ginjal tersebut. Kok ginjal diambil? Saya kemudian hanya bisa menduga-duga bahwa mungkin yang dimaksud adalah orang tersebut sedang mempelajari atau mungkin meneliti ginjal dan penyakit-penyakit yang menyerang ginjal.

Baca lebih lanjut

Pasung

Lampung Post, 24 Mar 2010. Sustiyanti: Pemerhati bahasa Indonesia.

Banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi dalam masyarakat. Beberapa waktu lalu salah satu media televisi swasta mengabarkan suatu peristiwa yang cukup membuat hati jatuh iba. Memang sungguh malang nasib Gia Wahyuningsih, gadis kecil yang, kata media televisi yang mengabarkannya, dipasung. Anak usia 4 tahun itu diikat pinggangnya oleh ayahnya selama dua tahun. Selama itu ia tidak bisa bermain sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Ia juga kurang makan sehingga tubuhnya terlihat kurus kering. Dikatakan bahwa ia mengalami keterbelakangan mental dan juga menderita penyakit epilepsi. Entah karena mengalami keterbelakangan mental sehingga dikhawatirkan hilang atau karena ayahnya tidak mau repot menjaganya, Gia dipasung oleh ayahnya.

Baca lebih lanjut