Relawati

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 24 Okt 2015

Ilustrasi: Tribunnews.com

Semula sedikit pun saya tidak merasa heran bahwa kawan saya, Abdul Wahab, teringat relawan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang memiliki andil besar mengantarkan keduanya duduk di tampuk kepemimpinan formal tertinggi Indonesia. Pasalnya, sebagaimana yang ia tulis dalam pesan pendek telepon genggam (SMS), ingatan tersebut diawali dengan kenangannya terhadap pelantikan Jokowi-JK, masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden pada Oktober sebagaimana halnya bulan sekarang. Pelantikan itu terjadi persis tanggal 20 Oktober 2014.

Baca lebih lanjut

Beragam Sumpah

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 15 Nov 2014

Dapat dipastikan, satu dari sedikit lema dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna berbeda walaupun bentuknya sama adalah sumpah. Sayangnya, kenyataan ini juga diiringi dengan masalah cukup besar, terutama disebabkan sikap cuai, yakni kurang perhatian terhadap sesuatu walaupun mungkin mengetahuinya sehingga acap kali sesuatu yang berkaitan dengan objek perhatian tersebut jadi terlupakan.

Baca lebih lanjut

“Tradisi Baru” Jokowi

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 20 Sep 2014

Ini pengakuan kawan saya, Abdul Wahab, yang bertempat tinggal di sebuah pulau nun jauh di Selat Malaka sana. Pendakuannya, meskipun harus memerlukan pengamatan lebih lama, saya berpendapat bahwa presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi memiliki kecenderungan menggunakan bahasa dengan idiom cukup mengejutkan, untuk tidak buru-buru mengatakan telah membingungkan—maklum, hal tersebut diungkapkan oleh orang ternama dengan citra selalu positif. Jokowi antara lain menggunakan frasa tradisi baru.

Baca lebih lanjut

Orang Nomor Satu

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 21 Jun 2014

TENTU saja boleh bila kawan saya, Abdul Wahab yang bertempat tinggal nun jauh di sebuah pulau dalam kawasan Selat Melaka sana, ikut merisaukan suasana pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2014 ini. Bukan karena ejek-mengejek atau sudut-menyudut di antara mereka yang bersaing untuk kursi kepresidenan sehingga dapat mengundang kerawanan sosial, tetapi ini berkaitan dengan bahasa.

Apa pasal? Rupanya kita sebagai masyarakat selalu disebut memilih orang nomor satu di negeri ini. Ya, kan, presiden disebut sebagai orang nomor satu, sedangkan wakil presiden disebut sebagai orang nomor dua. Lalu, orang nomor tiga, nomor empat, dan seterusnya siapa serta dengan cara apa kita menentukannya? Begitulah Wahab bertanya dalam SMS yang ia kirim kepada saya melalui telepon genggam.

Setelah membaca untaian SMS Wahab selanjutnya, tahulah saya bahwa kerisauan kawan lama ini baru terungkap sekarang hanya disebabkan momen—maklumlah, bangsa ini sedang sibuk memilih presiden dan wakil presiden.

Baca lebih lanjut

Andai Anda Melayu Riau

KOMPAS, 30 Mar 2012. Taufik Ikram Jamil, Sastrawan Berbahasa Ibu Melayu Riau

Bagaimana perasaan Anda jika sesuatu yang Anda miliki tiba-tiba asing, padahal dari segi fisik, benda tersebut tak berubah sama sekali, bahkan Anda masih menyandang sebutan sebagai pemiliknya? Orang Melayu Riau memiliki pengalaman mengenai hal ini dari berbagai segi. Tak saja berkaitan dengan ekonomi dan politik, juga bahasa.

Ringkas cerita, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Kenyataan ini tentu saja menyebabkan tak sedikit orang Melayu Riau di bawah ambang sadarnya beranggapan bahwa bahasa Indonesia juga bahasa Melayu Riau. Tepat sekali yang dikatakan Sapardi Djoko Damono, salah seorang bintang sastra Indonesia, dalam bukunya bahwa besar kemungkinan hanya orang Melayu Riau dan Jakarta saja yang telah menjadikan bahasa Indonesia bahasa ibu sejak kecil.

Baca lebih lanjut