Ihwal “-isasi”

Tendy K. Somantri*, KOMPAS, 18 Okt 2014

Pada sebuah pertemuan penerbitan pers internasional di Bangkok, Juni 2011, saya berbincang dengan beberapa editor dari Malaysia. Perbincangan kami berkisar pada perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Satu hal menarik yang kami perbincangkan saat itu adalah perbandingan penyerapan kata dari bahasa Inggris oleh bahasa Indonesia dan bahasa Melayu (Malaysia).

Baca lebih lanjut

Asoi Ada Alai Lebai

Tendy K Somantri*, KOMPAS, 5 Mei 2014

PADA suatu pagi, ketika saya berdesakan dalam keramaian lalu lintas di Bandung, mata saya terpaku pada pelat nomor kendaraan sebuah mobil tahun keluaran lumayan baru. Di pelat nomor itu tertera ”D 4500 OOY”, yang sekilas terbaca ”D ASOOOOY”. Nomor kendaraan berbau alay itu membuat mata saya mengirimkan sinyal ke sel-sel kelabu di otak, membuka pemangkal data kosakata lama. Ah, apakah ”asoy” masih merupakan kata yang dikenal saat ini?

Asoy—sebuah bentuk slang (sekarang dikenal dengan gaya selingkung) yang populer pada 1970-an—masih terekam dalam otak saya.

Asoy biasanya digunakan oleh remaja sebagai pemelesetan dari kata asyik. Ada juga yang menyebutkan asoy sebagai akronim dari asyik indehoy, ’asyik berpacaran’.

Biasanya asoy digunakan sebagai interjeksi atau kata seru untuk menggambarkan suatu kejadian yang mengasyikkan atau lebih dari sekadar asyik. Tidak jelas kelompok masyarakat mana yang kali pertama menggunakan kata asoy itu. Yang jelas, saat itu asoy begitu mewabah hampir ke seluruh lapisan masyarakat.

Baca lebih lanjut

Seragam yang Beragam-ragam

Tendy K Somantri* (KOMPAS, 15 Mar 2014)

DI Bandung saban Rabu terasa seperti perayaan Hari Kartini. Siswa-siswi sekolah dasar ”wajib” mengenakan seragam daerah selama berada di sekolah. Artinya, seragam itu harus dipakai sejak mereka masuk di lingkungan sekolah hingga tiba saat pulang. Siswa mengenakan pangsi (baju dan celana hitam khas Jawa Barat) dan iket (ikat kepala dari kain batik); siswi memakai kabaya (kebaya), sinjang (kain batik), dan karembong (selendang).

Sebenarnya, kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, tidak ada kewajiban para murid mengenakan busana tradisional setiap Rabu. Yang ada hanyalah pelaksanaan program ”Rabu Nyunda” dengan mengacu pada Perda Kota Bandung Nomor 9 Tahun 2012 tentang Penggunaan, Pemeliharaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Di sana tidak disebut-sebut kewajiban memakai busana khas Sunda—yang sebenarnya memiliki banyak ragam. Pemerintah Kota Bandung hanya mengimbau pemakaian busana khas Sunda di sekolah dan instansi. Akan tetapi, imbauan itu diartikan lain. Imbauan itu diartikan menjadi kewajiban. Maka, jadilah busana Sunda sebagai ”seragam baru” sekolah.

Baca lebih lanjut